Ketika sebuah karya diadaptasi beberapa kali dalam media yang berbeda dan hasilnya selalu memuaskan, itu pertanda bahwa karya tadi memang luar biasa. The Summit of the Gods ( Judul asli: Kamigami no Itadaki) adalah sebuah mahakarya luar biasa yang novelnya ditulis oleh Baku Yumemakura pada tahun 1998. Memiliki materi cerita yang sangat bagus, tidak heran jika akhirnya seorang mangaka legendaris asal Jepang Jiro Taniguchi, mengadaptasi The Summit of the Gods menjadi manga pada tahun 2000, tentu saja manganya pun sama bagusnya dengan versi novel, kemegahan ceritanya tidak bergeser sedikit pun malah visual yang berhasil diberikan oleh Taniguchi memberikan sentuhan atmosfer yang begitu nyata.
Bukan hal yang mengherankan jika kesuksesan novel dan manganya mendorong karya megah ini untuk menjadi sebuah film, terlebih lagi kali ini The Summit of the Gods lahir menjadi sebuah film animasi. Sempat merasa was-was karena karya asal Jepang ini akan menjadi film animasi Prancis, semua dialog menggunakan bahasa Prancis, padahal aspek ceritanya sangat bernuansa Jepang. Namun Patrick Imbert selaku sutradara masih memberikan penghargaan yang sangat besar kepada versi novel dan manganya, sehingga film animasi ini tetap berada di jalur yang benar.

The Summit of the Gods bercerita tentang seorang jurnalis asal Jepang, Fukamachi Makoto yang bisa dibilang terobsesi pada misteri pendakian George Mallory dan Andrew Irvine di Everest. Kedua pendaki yang meninggal namun tidak pernah diketahui apakah keduanya berhasil mencapai puncak.
Animasi 2D yang terlihat sederhana di film ini memberikan kesan yang begitu kuat, kesederhanaan desain karakter juga sangat serasi meski latar belakang visual yang ditampilkan begitu megah. Gambar-gambar luas dengan sudut pandang kamera yang sederhana berhasil menyampaikan atmosfer dan emosi secara utuh. Pemilihan teknik animasi 2D tradisional memberikan estetika yang sangat indah. Gabungan latar belakang yang terkesan seperti cat air juga berhasil membuat lanskap yang ditampilkan menjadi ekspresionis. Secara ekstetika film animasi ini tampil sempurna.
Selama saya menonton film ini, saya merasa tidak ada satu bagian pun yang gagal secara visual, tim animasi yang mengerjakan film ini benar-benar melakukan hal yang luar biasa. Ditambah lagi semakin menuju akhir film, tensi keseluruhan aspek menjadi semakin spektakuler. Intensitas pendakian ditampilkan begitu nyata sehingga penonton bisa merasakan suhu dingin, rasa sakit, dan emosi ruang lingkup di sekitar. Tentu saja hal ini karena didukung musik yang luar biasa arahan Amine Bouhafa.

Dari segi pengembangan karakter The Summit of the Gods juga tampil sempurna, perjalanan hidup karakternya dan alasan yang membentuk kepribadiannya disampaikan sangat lugas. Obsesi besar yang ingin dituju oleh para karakter tidak hanya berputar pada sifat keegoisan belaka. Banyak renungan yang bisa diambil dari film ini, pemaknaan pada hidup, realita yang begitu keras, kehilangan yang harus direlakan dan penutup yang memadatkan sebuah pertanyaan tentang mengapa seorang pendaki terus terobsesi untuk mendaki tempat paling tinggi.
Saya bisa bilang, The Summit of the Gods adalah salah satu film animasi terbaik yang saya tonton tahun ini, sangat manusiawi, sangat indah, dan sangat melankolis, semelankolis kalimat yang ada di dalam surat Habu Jeune: “I stopped asking myself that when I realized I couldn’t live without it.”
Sumber gambar: IMdb