Istirahatlah kata-kata
Jangan menyembur-nyembur
Orang-orang bisu… – kutipan puisi Wiji Thukul
“Sayang, kamu belum tidur?”
“Belum,” jawab Putra sambil menatapi langit-langit kamar.
“Enggak bisa tidur, ya?” tanya Hana, istrinya.
“Bukan enggak bisa tidur,” kata Putra. “Aku hanya tidak tidur.”
Hana diam.
“Aku lapar,” kata Putra. “Mau pergi keluar sebentar? Sepertinya masih ada warung nasi goreng yang buka di komplek sebelah.”
“Kamu saja,” kata Hana. “Aku titip, ya.”
“Oke, Mau titip apa?”
“Nasi goreng, telurnya dadar, ya.”
Putra mengangguk kecil, bangkit dari kasur, mengambil jaketnya, dan kemudian keluar rumah, dan saat itu adalah terakhir kali Hana melihatnya.
***
“Aku senang terlibat di dunia aktivisme,” kata Yudha, memulai pembicaraan.
Hana mengenal Yudha dari sebuah aplikasi kencan online.
Sudah bertahun-tahun Putra menghilang, Hana telah melaporkan kepada polisi untuk melakukan pencarian. Nihil. Keluarga, teman-teman dan kolega kerja Putra pun sempat kebingungan atas menghilangnya Putra yang seperti ditelan bumi. Kehilangan mendalam yang dirasakan oleh Hana membuat ia terhanyut dalam kesedihan yang berlarut-larut.
Tapi ia tidak bisa begitu terus, pikirnya. Sudah saatnya untuk bangkit kembali, sudah saatnya untuk ikhlas dan melangkah lagi.
Itulah kenapa dia memutuskan untuk bertemu Yudha sekarang.
“Aktivisme?” Tanya Hana.
“Iya, aku kuliah di UI. Saat senggang, kadang aku ikut bersama kawan-kawanku dalam kegiatan aktivisme politik gitu… Kalau kamu kuliah dimana?”
Hana memang tampak begitu muda dan juga tidak mencantumkan umur maupun pekerjaannya di aplikasi kencan dimana mereka berkenalan satu sama lain, sehingga wajar jika Yudha mengiranya masih kuliah, meskipun Hana sudah berkepala tiga.
Hana hanya tersenyum. “Aku sepertinya sepuluh tahun lebih tua darimu.”
“Oh,” Yudha terlihat kaget. “Maaf.”
“Tidak apa-apa,” Hana tertawa kecil. “Aku yang minta maaf, karena kamu justru berkencan dengan tante-tante sepertiku…”
Yudha meringis.
“Tadi apa kamu bilang? Aktivis?”
“Iya,” Yudha mencoba meredakan sikap canggungnya. “Kalau yang rutin, sih, saya ikut aksi damai tiap hari Kamis di depan Istana Negara. Diam bersama sambil memegang payung hitam.”
Hana bergumam dalam hati, Yudha telah mengubah panggilan terhadap dirinya sendiri dari aku menjadi saya.
“Diam sambil memegang payung hitam? Kok menarik? Kukira demonstrasi itu isinya hanya bentrokan dan tembakan gas air mata.”
“Hehe,” Yudha tersenyum kecil. “Itu semacam aksi protes atas kejahatan kemanusiaan oleh pemerintah yang masih belum selesai.”
“Hoo…” mulut Hana membentuk huruf o besar. “Kamis besok juga ada?”
“Iya!” kata Yudha. “Mau… ikut?”
Hana tersenyum melihat sikap Yudha yang serba salah sejak mengetahui umurnya.
“Boleh,” katanya. “Kamu jemput aku besok, ya.”
Yudha mengangguk kecil.
Mereka kemudian mengobrol tentang hal-hal lain, sebelum akhirnya berpisah dengan janji bertemu esok hari.
***
Ini pertama kalinya Hana mengikuti aksi seperti ini, selama kuliah dulu, ia tidak begitu tertarik mengikuti organisasi mahasiswa dan hanya menghabiskan waktunya di klub film—disanalah akhirnya ia berkenalan dengan Putra.
Ini juga pertama kalinya Hana melihat aksi yang aneh seperti ini. Puluhan orang mengangkat payung hitam, beberapa diantaranya bahkan ada yang sudah tua renta.
“Yang disana itu,” Yudha menunjuk seorang perempuan tua yang rambutnya sudah memutih diantara gerombolan orang-orang yang mengangkat payung. “Anaknya hilang saat reformasi dan tidak pernah kembali ke rumah, ia disini karena ia yakin pemerintah bertanggung jawab atas kejadian itu.”
Hana hanya terdiam.
***
Beberapa bulan kemudian, mereka pun menikah. Yudha yang sebelumnya tinggal di kamar kos akhirnya tinggal bersama di rumah Hana. Meskipun baru menapaki karir, tapi ia kini sudah menjadi wartawan tetap.
Malam pertama ini terasa aneh sekali bagi Hana, ranjang yang sebelumnya terasa terlalu luas selama bertahun-tahun, kini kembali diisi oleh orang lain.
“HANA!?”
Hana membuka matanya, sambil melihat seseorang yang baru saja datang.
Putra, dengan jaket dan plastik berisi dua bungkus nasi goreng.
Hana hampir menitikkan air mata, tapi kemudian melihat wajah Putra yang merah padam. Ia melihat Yudha yang berbaring di sebelahnya.
Tidak, batinnya. Ini hanya sebuah kesalahpahaman.
Putra menjatuhkan bungkus nasi gorengnya, dan kemudian lari setelah membanting pintu.
Hana berlari sekencang-kencangnya mengejar Putra.
Tidak, katanya dalam hati sementara ia berlari. Aku tidak mau kehilangan kamu lagi.
***
“Kamu tidak apa-apa?”
Hana terbangun dengan keringat yang mengucur di badannya. Sebuah mimpi buruk. Sebuah mimpi buruk yang terasa amat nyata.
“Kamu tadi berteriak…” Kata Yudha. “Mimpi buruk, ya?”
Hana hanya diam. Sesaat kemudian, ia menangis sesenggukan.
Yudha memeluknya, mencoba menenangkan.
“It’s okay…”
Mereka menghabiskan waktu beberapa saat dengan posisi seperti itu.
Setelah menangis cukup lama, Hana kemudian berhenti meskipun masih sesekali terisak.
“Memangnya tadi mimpi soal apa?” tanya Yudha, khawatir.
“Kucing,” jawab Hana.
“Kucing?”
“Iya.”
“Mau menceritakannya lebih jauh?”
Hana diam beberapa saat, lalu kemudian berbicara lagi.
“Seorang anak kecil yang tidak lulus tes masuk sekolah dasar, menangis sepanjang jalan menuju rumahnya, kedua orang tuanya di belakang hanya berjalan mengiringi anak mereka, bingung harus berbuat apa. Di tengah jalan, ia menemukan seekor kucing kecil yang tertidur pulas.”
“Lalu?” Yudha menyimak.
“Ia mengelus-elus kucing kecil itu, dan atas izin orang tuanya, membawanya pulang. Wajahnya yang tadinya sedih kemudian terlihat ceria. Orang tuanya pun senang melihat itu.”
Yudha terlihat kebingungan. “Tapi bukankah itu sebuah mimpi yang bagu—”
“Kemudian, seekor ibu kucing pulang dengan ikan di mulutnya yang ia baru saja curi dari pasar. Ibu kucing itu kebingungan melihat anaknya yang tadi tidur, kini sudah tidak ada.”
Yudha terdiam mendengar itu.
Hening sejenak.
Hana menangis sesenggukan lagi, Yudha memeluknya erat sambil mencium kepalanya.
Mereka kembali menghabiskan waktu di posisi itu selama beberapa saat.
“Maaf sudah mengganggu tidurmu,” kata Hana.
“Tidak apa-apa,” kata Yudha. “Aku juga sebenarnya dari tadi belum tidur, kok.”
“Kenapa?” Tanya Hana. “Enggak bisa tidur?”
“Bukan enggak bisa tidur,” jawab Yudha. “Aku hanya tidak tidur.”
Al Ain, 17 Maret 2020.