penangkapan pangeran diponegero lukisan

Melacak Raden Saleh (Bagian 1)

Enam orang remaja membentuk komplotan pencuri, berencana untuk mencuri sebuah mahakarya… dari istana Presiden. Sejenak, kita tahu, premis tersebut kelewat megah untuk sebuah film yang hendak diproduksi di Indonesia. Namun, demikianlah, kita juga tahu film tersebut menjadi satu film yang tak henti-hentinya dibicarakan sejak paruh kedua tahun 2022. Ya, Mencuri Raden Saleh besutan sutradara kenamaan Angga Dwimas Sasongko yang sekarang sudah bisa dinikmati lewat layanan streaming Netflix.

Lebih absurd lagi: Angga sengaja menempatkan nama-nama baru sebagai bintang utamanya, merentang dari Iqbaal Ramadhan, Angga Yunanda, Anghiny Haque, Rachel Amanda, Umay Ashab, hingga Ari Irham. Apa yang terlintas di kepala Angga saat mengerjakan proyek ini, tentu tak ada yang bisa memastikan. Yang jelas, tawaran Angga dalam besutan teranyarnya yang dinaungi Visinema Pictures itu memberikan angin segar pada khazanah perfilman Indonesia, sebab: ada peranan lukisan di dalamnya, dan lebih lagi, bisa jadi, Mencuri Raden Saleh menciptakan satu standar baru dalam film-film bergenre heist yang jarang kita temukan di Indonesia pasca Comic 8 besutan Anggy Umbara dan sekuelnya itu.

Sebagai bahan perbandingan, kita tentu bisa membandingkannya dengan film cantik At Eternity’s Gate (2018) karya Julian Schnabel yang mengisahkan waktu kelam Vincent Van Gogh sebagai seorang pelukis, atau misalnya, film lain yang tayang lebih dahulu, yaitu Loving Vincent (2017) yang digarap oleh Dorota Kobiela dan Hugh Welchman dengan penceritaannya yang berfokus pada orang-orang sekitar Van Gogh pasca ia meninggal. Lantas, apa yang bisa kita dapatkan dengan titel seambisius itu—menyematkan nama seorang maestro lukis, namun menggarapnya dalam latar waktu yang modern, lebih-lebih dengan penceritaan yang tiada sama sekali menyangkutpautkan Raden Saleh di dalamnya?

Sebagai seorang pembaca (dalam konteks ini: penonton), pembacaan saya terhadap film sebenarnya terbatas. Alih-alih melihat gejala-gejala teknis yang tentu bisa dilacak dalam sejarah panjang film Indonesia, saya justru tertarik dengan bagaimana suatu penceritaan bisa dijaga oleh sutradara. Bagi saya, film adalah satu dari sebagian ruang untuk menampilkan apa yang barangkali luput dari mata masyarakat, dan berusaha ditampilkan kembali oleh seorang sutradara, atau jika berkenan, izinkan saya meminjam istilah dari Wellek & Warren (2016) bahwa karya dapat dipertimbangkan sebagai “dokumentasi sosial”.

Sebuah karya, jika mengutip pandangan Sapardi Djoko Damono (2020) tidak serta merta turun dari langit. Karya diharapkan berperan setidak-tidaknya sebagai cerminan atas realitas, atau kritik atas realitas yang terjadi. Singkatnya, sebuah karya bisa digunakan sebagai upaya untuk menggugat kembali apa yang konon sudah mapan dalam kehidupan masyarakatnya. Menentang status quo, kata beberapa orang. Terlebih, jika apa yang disajikan pada suatu karya adalah cerita yang berkelindan langsung dengan fenomena sosial atau tokoh-tokoh besar. Perlu menindaklanjuti lebih jauh bagaimana penciptanya menempatkan diri dalam melihat suatu fenomena atau tokoh yang dimaksud.

Oleh sebab itu, bagi saya, Raden Saleh, sebagai maestro lukis Indonesia telah menjadi satu objek menarik yang dihadirkan dalam sinema. Meski begitu, apakah Mencuri Raden Saleh sudah benar menempatkan Raden Saleh sebagaimana mestinya ia ditempatkan dalam peta sejarah Indonesia? Tanpa memberikan tendensi negatif sedikit pun, saya sejatinya hanya ingin melacak sejauh mana Raden Saleh ditampilkan sebagai suatu ide (sebab ia tidak bisa hadir sebagai suatu wujud yang fisik) di dalam film Mencuri Raden Saleh besutan Angga Dwimas Sasongko.

Angga Sasongko di depan lukisan Penangkapan Diponegoro yang dipamerkan di Museum Galeri Nasional. Sumber: INDOZONE

Penangkapan Pangeran Diponegoro, Motor Plot atau Tempelan Belaka?

Seperti dijelaskan oleh Peter B. R. Carey (2022) Penangkapan Pangeran Diponegoro adalah mahakarya Raden Saleh yang tidak hanya menampilkan nuansa kesedihan dan dramatik, namun juga tampak menyiratkan kontradiksi sikap perwira Belanda dan pengikut Dipanegara saat itu. Hal ini, barangkali, memuat alasan-alasan yang lebih subtil. Misalnya, semangat perlawanan akan penindasan yang dilakukan oleh Dipanegara terhadap pihak kolonial Belanda. Namun demikian, di sisi lain, Harsja W. Bachtiar menganggap penyerahan lukisan itu ke Raja Belanda justru tidak nasionalis, meski secara hakikat sah-sah saja dilakukan mengingat posisi Raden Saleh sebagai seorang seniman yang dilindungi oleh bangsawan yang menjaganya.

Kita tentu perlu melihat, apakah Angga Dwimas Sasongko telah menangkap hal-hal yang subtil itu untuk dikemas dalam suatu plot penceritaan filmnya? Dalam film Mencuri Raden Saleh, Piko seorang pelukis yang kerap memalsukan lukisan terkenal, menggunakan lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro sebagai sarana untuk membebaskan ayahnya dari penjara. Meski demikian, kita sama-sama tahu, ia diperalat oleh Permadi (diperankan oleh Tyo Pakusadewo), si Mantan Presiden. Uang tak dapat, eh, malah jadi buronan.

Siasat balas dendam kemudian ditemukan: komplotan (begitulah Piko dkk menyebut kelompok mereka) akan mencuri kembali lukisan asli Penangkapan Pangeran Diponegoro dari ruang kerja pribadi Permadi.

Nasib komplotan ini, bagaimana pun juga, adalah semangat anti-penindasan. Mereka enggan tunduk pada apa yang dilakukan oleh Permadi kepada rakyat kecil seperti Piko dkk, juga Budiman Subiakto (ayah Piko, diperankan oleh Dwi Sasono). Meski ada sedikit dialog yang berusaha menjelaskan latar belakang penciptaan Penangkapan Pangeran Diponegoro yang disampaikan Piko kepada Ucup (diperankan oleh Angga Yunanda) tepat sebelum mereka mencuri lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro dari ruang kerja Permadi, namun rasa-rasanya masih kurang untuk benar-benar bisa menjelaskan seberapa berharga lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro kepada khalayak umum yang barangkali ingin tahu lebih lanjut latar belakang penciptaan karya tersebut, jika memang menjelaskan Raden Saleh secara menyeluruh terlampau berat. Dengan demikian, saya pikir, menyematkan nama Raden Saleh pada judul film, terkesan mengambil fakta sejarah dengan longgar.

Piko yang dalam penokohannya adalah seorang art-enthusiast, tidak benar-benar memberikan gambaran yang jelas pada komplotannya mengenai lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro. Bahkan, dalam salah satu adegan, jelas bahwa Piko sendiri memerlukan bantuan Ucup untuk meriset lebih lanjut tentang sejarah kepemilikan lukisan tersebut, lengkap dengan linimasa restorasinya. Membuat saya kembali bertanya-tanya, siapa yang lebih paham mengenai lukisan ini: Piko atau Ucup?

Padahal, dengan gayanya yang cenderung lebih ringan secara ideologis ketimbang, misalnya, film-film Garin Nugroho, Angga punya ruang untuk menyematkan bobot yang lebih mendalam dari fakta sejarah—mereka ulang semangat Raden Saleh dalam konteks dan kemasan yang lebih modern, tentu saja, alih-alih menjadikan lukisan tersebut sebagai objek tempelan belaka yang menyetir penceritaan tanpa landasan yang cukup mendalam. Maksud saya, coba kita lacak kembali, di luar tokoh Piko (yang tentu saja paham tentang seni rupa), Budiman, Permadi, dan Dini (diperankan Atiqah Hasiholan) siapa memangnya yang paham soal lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro?

Saya justru terkesan dengan tokoh Arman, si polisi (diperankan oleh Ganindra Bimo) yang rasa-rasanya cukup rasional memandang lukisan tersebut. Ia tak paham, dan tak mau ambil pusing. Jika saja bukan menyangkut kegiatan pencurian atau pemalsuan, sengketa menyoal lukisan tersebut tampaknya tak akan ia pedulikan.

Kelahiran lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro yang tidak dijadikan sebagai motor penceritaan sebenarnya sangat disayangkan. Menghadirkannya semata-mata sebagai objek sebenarnya membuat film ini kehilangan napas Raden Saleh itu sendiri, sebab motor penceritaan jadi sangat mudah diobrak-abrik lebih jauh. Misal, kenapa tidak mencuri Affandi? Atau karya seni rupa lain yang membawa semangat serupa namun lebih mudah dipahami secara konteks ideologisnya? Maksud saya, tanpa bobot ideologis yang jelas, objeknya bisa diganti apa saja. Lagi pula, bobotnya selalu pada yang-penting-lukisan, ketimbang Raden Saleh dan lukisannya itu sendiri.

Selanjutnya di Bagian Kedua..

Posts created 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top