Melihat nama Jane Campion ingatan saya langsung terkenang pada filmnya yang berjudul The Piano (1993), Bisa dikatakan The Piano adalah salah satu film terbaik yang pernah disutradarai sekaligus ditulis oleh Jane. Jane sangat handal mengarahkan visual perwatakan karakter yang jika dituangkan ke dalam naskah di atas kertas hal itu sulit untuk dirasakan secara utuh. Didukung aktor dan aktris handal, tujuan visual emosi yang ingin disampaikan Jane tersampaikan dengan bagus, dan demikian juga yang ada di film terbarunya ini; The Power of the Dog.
The Power of the Dog adalah film bertema western yang alih-alih akan membuat penonton berteriak menyaksikan aksi cowboy karena adegan aksi, film ini malah melakukan pendekatan dengan gaya yang agak lambat namun tidak membosankan. Ini seperti api yang disulut di dalam sekam, pelan penonton akan terbakar emosi hingga mencapai akhir yang tidak terduga.
Saat tahu bahwa novel Thomas Savage ini akan diadaptasi, yang terpikir di kepala saya untuk pemeran karakter Phil Burbank adalah Christian Bale, sebab akting perwatakannya dalam film Hostiles (2017) terlihat cocok untuk karakter Phil. Namun ternyata Benedict Cumberbatch membuktikan bahwa ia bisa menjadi karakter paling menyebalkan yang akan membuat penonton jengkel disepanjang film. Ia berhasil tampil mendominasi, kasar, tapi juga mengalami krisis maskulinitas diwaktu yang bersamaan. Saya tidak akan heran jika Benedict akan masuk dalam nominasi Oscar atas perannya di film ini.

Jesse Plemons yang menjadi George Burbank juga berhasil memerankan karakter yang bertolak belakang dengan karakter Phil. Sosok penyayang, terpelajar, sopan dan penuh belas kasihan ini tampil sangat apik sehingga saat George dan Phil berada dalam satu frame yang sama, mereka bagaikan Romulus dan Remus tapi dengan kepribadian yang berseberangan. Saya suka ketika George terlihat tunduk melihat ke lantai saat menghadapi Phil, ia begitu menyakinkan bahwa dirinya memang tidak pernah berdaya dalam menghadapi saudaranya yang menyebalkan, bahkan saat perlakuan Phil itu membuat Rose Gordon (diperankan oleh Kristen Dunst) tersiksa hampir di semua adegan film ini, George hanya bisa diam.
Montana tahun 1920-an terpotret sangat indah, mengesankan, sekaligus keras dalam balutan sinematografi Ari Wegner. Ini tidak kalah indahnya dengan apa yang pernah Wegner lakukan dalam film Lady Macbeth (2016). Lalu di tengah-tengah itu semua hadir karakter Peter Gordon (diperankan oleh Kodi Smit-McPhee) yang menjadi simbol maskulinitas di tengah dunia keras serta bengis.
Film ini bergerak linear tanpa mencoba membuat adegan kilas balik, padahal ada banyak hal penting yang berdiri di belakang cerita utama film ini. Tapi bukan berarti semua kisah masa lalu itu tidak tersampaikan kepada penonton. Malah gaya penceritaan yang dipilih oleh Jane ini berhasil menjadi sesuatu yang spesial. Dialog-dialog yang membangun pondasi cerita tersusun sangat rapi, dan beberapa bagian yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, disampaikan lewat ekspresi wajah serta isyarat yang tajam. Saya bersyukur film ini melakukan semua itu tanpa keragu-raguan sama sekali.

The Power of the Dog coba membawa pesan-pesan mendalam tentang kehilangan. Setiap orang di dunia ini berhak berkabung atas sebuah kehilangan yang mereka rasakan bahkan jika hal itu adalah sesuatu yang harus disimpan sebagai rahasia sepanjang hidup.
Keberhasilan penyampaian semua aspek cerita film ini dengan caranya sendiri menjadikan film ini istimewa, ditambah lagi kisah drama keluarga yang melankolis, kisah persaudaraan yang solid, kisah cinta misterius yang samar bagaikan asap, dan yang terpenting adalah atmosfer western yang terjaga hingga akhir.
Jika kalian sudah berlangganan Netflix bulan ini, saya harap kalian tidak melewatkan film yang satu ini.
Sumber: IMDb