Lanjutan dari Bagian Pertama..
Romantisasi Penangkapan Pangeran Diponegoro
Sejauh manakah Angga Dwimas Sasongko meromantisasi lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro? Atau, jika terkesan menimbulkan stigma negatif, seberapa jauh Angga mengobrak-abrik fakta sejarah untuk kemudian digunakan sebagai motor penceritaan film Pencurian Raden Saleh? Apakah serupa dengan Raden Saleh sendiri yang memiliki kecenderungan meromantisasi kejadian penangkapan Pangeran Dipanegera? Apakah kemudian Angga berhenti pada napas yang sama dengan yang ditawarkan Raden Saleh?
Seperti ditulis oleh Peter B. R. Carey pada esainya berjudul Raden Saleh, Dipanegara dan Lukisan Penangkapan Dipanegara di Magelang (28 Maret 1830) situasi antara Dipanegara dan De Kock memang tak bisa didamaikan. Meski sukar dilacak apakah Dipanegara sendiri sadar kedatangannya ke Magelang akan menjadi satu masalah, setidaknya, pola ini yang bisa ditangkap dengan baik oleh Angga dalam penceritaan Mencuri Raden Saleh. Situasi Piko dkk yang awalnya terjalin baik dengan pihak Permadi, yang kemudian dikhianati karena Permadi telah mendapatkan apa yang ia kehendaki sejatinya adalah paralel yang ditawarkan Angga—atau setidaknya, ditarik secara halus dari kejadian pengkhianatan pihak kolonial terhadap Pangeran Dipanegara. Namun, seperti juga dijelaskan pada sub-judul sebelumnya, kelahiran Penangkapan Pangeran Diponegoro tidak benar-benar, atau setidaknya, sukar dilacak pengaruhnya dalam penceritaan Mencuri Raden Saleh. Angga justru menangkap gejolak yang hadir di dalam lukisannya, situasi faktual yang melatarbelakangi kejadian di dalam lukisan, bukan kelahiran sebuah lukisan.
Akhirnya, apa yang luput dari penghayatan Raden Saleh dalam menggambarkan situasi penangkapan Pangeran Dipanegara itu sebagaimana dikutip dari Peter B. R. Carey adalah ekspresi penerimaan diri dan ketenangan Pangeran Dipanegara, yang barangkali cenderung salah ditangkap pula oleh Angga Dwimas Sasongko dalam penghayatannya terhadap mahakarya tersebut.

Ilustrasi Raden Saleh. Sumber: ISTIMEWA
Situasi Kelas Sosial
Onghokham dalam esainya yang berjudul Hindia yang Dibekukan ‘Mooi Indie’ dalam Seni Rupa Dan Ilmu Sosial menuliskan bahwa aliran Mooi Indie adalah aliran yang digunakan oleh Raden Saleh. Sebagai seorang seniman Hindia Belanda pertama yang mengenyam pendidikan Barat, aliran yang dianutnya tersebut, Mooi Indie adalah satu aliran yang justru bisa menerabas batas-batas seperti ras, kesukuan, ideologi politik, hingga kelas, sebagaimana semangat nasionalisme. Namun demikian, apakah kemudian film Mencuri Raden Saleh yang menggunakan lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro berhasil menerapkan semangat Mooi Indie yang sama—yang mampu menerabas sekat-sekat antar kelompok?
Hal ini, tentu, bisa diperdebatkan. Alih-alih menghadirkan pertentangan kelas yang eksplisit, sebagaimana, misalnya film besutan sutradara kenamaan lain seperti Joko Anwar di film Gundala (2019) atau A Copy of My Mind (2015), Angga justru tidak menghadirkan pertentangan kelas yang berkesan. Begini, penggambaran Piko dkk yang mengalami krisis keuangan, bukankah sebenarnya adalah suatu krisis yang mereka sebabkan sendiri? Secara artistik, mari kita tinjau lebih jauh, Piko sebagai karakter utama yang mengeluhkan krisis keuangan dan menggembar-gemborkan diri sebagai rakyat kecil justru ditampilkan dengan menggunakan busana yang bisa dikategorikan sebagai busana kelas menengah ke atas. Sepatu Clarks, koleksi Nike Air Jordan dengan harga yang rasa-rasanya tak patut dikategorikan sebagai busana rakyat kecil, dan tampak di beberapa adegan rumah Piko justru memperlihatkan satu hal: bahwa mereka hanya memperjuangkan kelompok mereka sendiri, alih-alih membicarakan pertentangan kelas.
Pekerjaan Piko sebagai pemalsu lukisan sebenarnya bisa saja dianggap sebagai satu bentuk ketidakmapanan sistem pemerintahan dalam menaungi pendidikan setiap orang. Bagaimana kemudian Piko mesti menjadi seorang kriminal, pemalsu karya seni untuk menopang kehidupannya adalah satu hal yang mengindikasikan posisinya dalam kelas sosial masyarakatnya. Namun demikian, sebagai seorang pemalsu lukisan, bayaran yang mereka terima ternyata terlampau tinggi! Rasanya mereka bisa saja menopang gaya hidup ibu kota tanpa perlu mengeluhkan makan mie instan setiap hari, mari tinjau dengan melihat adegan pada paruh pertama, dimana Piko terlambat pergi makan malam di restoran mewah bersama dengan Sarah (diperankan oleh Anghiny Haque). Lagi-lagi, Angga tak berhasil menarik gagasan yang kuat dari lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro untuk dikemas dalam filmnya. Angga tak faktual memperlihatkan bagaimana pertentangan kelas terjadi, bahkan dalam taraf perancangan busana dan penataan artistik, sehingga apa-apa yang disajikan dalam bentuk dialog dari komplotan terasa kosong dan hanya sebentuk dialog-dialog hipokrit belaka.
Kesimpulan
Berdasarkan paparan ringkas di atas, saya enggan mengatakan diri sebagai si paling ahli seni rupa, dan sebagainya. Namun, kita bisa melihat bagaimana gagasan besar yang dibawa oleh lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh tak hadir dalam film Mencuri Raden Saleh. Lebih-lebih, penyematan nama Raden Saleh, barangkali, hanya berkutat pada semacam kesadaran bahwa Indonesia memiliki maestro lukis semata tanpa benar-benar bisa merumuskan kembali gagasan tersebut untuk ditawarkan ke dalam filmnya. Meski demikian, kita juga patut mengapresiasi semangat Angga Dwimas Sasongko yang setidaknya bisa menangkap fakta sejarah atas penangkapan Dipanegara oleh pihak kolonial Belanda, alih-alih menangkap proses kreatif Raden Saleh menggarap mahakarya tersebut. Maka, saya pikir, ketimbang memberikan judul Mencuri Raden Saleh, akan lebih relevan memberinya judul Mencuri Penangkapan Pangeran Diponegoro, yang kita sama-sama tahu tidak menjual dan tentu, tidak menarik.
Rujukan
Damono, Sapardi Djoko. 2020. Sosiologi Sastra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Wellek, Rene, Austin Warren. 2016. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Carey, Peter B. R., Onghoklam, Harsja W. Bachtiar. 2020. Raden Saleh: Anak Belanda, Mooi
Indie, & Nasionalisme. Depok: Komunitas Bambu.