The Batman : Gagal, Gagal, dan Gagal

Keluhan pertama saya ketika tahu Batman dibuat lagi dengan aktor baru adalah, “Membosankan melihat garis besar cerita yang sama diulang berkali-kali seakan tidak ada hal lain yang bisa dikembangkan” Keluhan ini sama seperti dulu saat Spider-man dibuat lagi dan lagi. Saya bosan melihat Peter berkali-kali di gigit laba-laba, sama halnya saya bosan melihat adegan kedua orang tua Bruce Wayne dibunuh.

Berita tentang Ben Affleck yang mundur dari peran Batman dan digantikan oleh Robert Pattinson pun membuat saya merasa kurang bersemangat. Ada keraguan bagi saya bahwa Pattinson bisa menjadi Bruce Wayne. Salah satu film yang membuat saya sangat terkesan dengan akting Pattinson adalah saat ia bermain dengan apik dalam film The Lighthouse (2019), namun tetap saja Pattinson sebagai Bruce Wayne sama sekali tidak bisa saya bayangkan. Ditambah lagi kepribadian Bruce yang seorang miliarder, sombong, playboy, serta flamboyan pernah dibawakan oleh Christian Bale dengan sempurna. Sulit rasanya membuang semua bayang-bayang itu ketika ingin menonton The Batman, dan tentu saja akan banyak orang yang membandingkan film ini dengan film terdahulunya.

Nama Matt Reeves muncul sebagai sutradara The Batman. Melihat rekam jejak film yang pernah digarapnya, saya sedikit agak lega karena Cloverfield (2008) adalah salah satu film favorit saya yang berhasil keluar dari stereotype film bertema alien. Tidak hanya itu, film Reeves yang berjudul Let Me In (2010) pun berhasil keluar dari stereotype film vampire pada umumnya. Jadi yang bisa saya harapkan adalah Reeves bisa melakukan hal yang serupa seperti 2 film yang saya sebutkan tadi.

The Batman dibuka dengan gaya adegan film noir yang sangat kentara. Mencekam sejak menit pertama, mengisyaratkan bahwa film ini memang akan bertutur dengan cara yang tidak pernah terpikirkan oleh penggemar Batman sebelumnya. Setiap sequence yang dihadirkan berkali-kali membuat saya berucap dalam hati ‘Ini hal baru dalam film Batman”.

Sinematografi Greig Fraser berhasil memberikan kesan kelam sekaligus indah, keindahan yang pernah di hadirkannya dalam film Dune (2021) diubah menjadi sangat kelam dengan kombinasi warna merah, hitam, sesekali hijau pekat, dan biru malam. Tetesan-tetesan hujan, sisi kota Gotham yang kumuh, berhasil ditampilkan sempurna. Saat menyaksikan itu semua, saya teringat dengan kota Gotham dalam seri videogame Batman. Memang seperti itulah kota Gotham apa adanya.

Nuansa noir, sinematografi sempurna, menyatu dengan musik keren garapan Michael Giacchino. Jika biasanya musik untuk film superhero terdengar sangat heroik, berbeda halnya dengan yang ada di The Batman. Saat Batman muncul dari kegelapan lalu hentakan musik ala Darth Vader (Star Wars) menjadi pengiring yang sempurna. Memang semua detil di film ini dibuat gelap, jahat, dengan nuansa depresif, bahkan seiring berjalannya cerita, semua orang akan mengerti mengapa lagu Something In The Way milik Nirvana sangat cocok mewakili kisah The Batman. 

Semua keraguan saya pada Robert Pattinson pun sirna ketika memahami bahwa kepribadian Bruce Wayne di film ini sangat berbeda dari apa yang pernah dilakukan Christian Bale. Ini adalah Bruce yang jatuh kedalam lubang dendam, depresi, yang mencari pelarian dari rasa sakit di dalam hatinya, oleh sebab itu simbol Batman di analogikannya sebagai ‘ketakutan dan ancaman’ bukan sesuatu yang berbau heroik seperti huruf S pada Superman yang bermakna ‘Harapan’.

Beberapa kali monolog yang dituturkan oleh Bruce menjadi poin tambah agar penonton memahami bahwa Bruce adalah sosok kesepian, murung dan terasingkan dari dunia luar. Seakan ia tak punya tempat untuk mencurahkan perasaannya sehingga ia membutuhkan pelarian lewat menghajar para penjahat dari bayangan gelap kota Gotham.

The Batman banyak dihidupkan lewat dialog-dialog yang panjang dan detail. Bahkan adegan paling membosankan dari cerita Batman pun; seperti tragedi kematian orang tua Bruce, dikemas dalam dialog lirih. Reeves tahu betul bahwa kisah itu hampir sudah diketahui oleh para penonton, dan akan sangat membuang waktu jika reka adegan itu dibuat lagi.

Saya lebih suka menyebut The Batman sebagai Detektif Batman. Karena semua unsur dalam filmnya lebih banyak menyerupai film detektif, crime, dan thriller. Elemen khas Se7en, Zodiac, dan Saw sangat kentara. Bahkan jika ada yang membandingkan The Batman dengan The Dark Knight Trilogy karya Christopher Nolan, jelas ini adalah 2 film berbeda yang menggunakan karakter dan setting yang sama. Keduanya sama-sama bisa dinikmati dan sama bagusnya.

Selain Pattinson yang berhasil membawakan versi Bruce Wayne berbeda, kehadiran Zoe Kravitz sebagai Catwoman pun juga tidak kalah berhasil, ekspresi yang diperlihatkannya membuat penonton yakin bahwa ia memiliki dendam serta kemarahan, dan yang terpenting juga, ia berhasil membangun chemistry dengan Pattinson. Jeffrey Wright sebagai James Gordon berhasil membuat saya mengenyampingkan sosok Gordon yang selama ini ada di kepala saya, hebatnya lagi ia dan Pattinson berhasil menjadi tim paling kompak di film ini.

Para pemain dalam The Batman mendapat porsi yang pas, baik itu saat mereka muncul atau pun saat mereka menjadi fokus cerita. Colin Farrell tampil sangat gila dalam karakter Penguin, bahkan sampai pada gesture tubuhnya pun akan membuat penonton sulit untuk melupakan keberadaannya di film ini. Dan karakter paling mengejutkan serta paling berhasil di film ini adalah The Riddler. Penjahat utama yang muncul sejak awal film hingga penutup film dan membuat saya merasa dia adalah salah satu musuh terbaik yang pernah ada di film Batman selain Joker yang diperankan oleh Heath Ledger.

Ini adalah film Batman paling realistis yang pernah dibuat, mulai dari alur cerita, pengembangan karakter, mobil, hingga pada kostum yang dikenakan.  Ini juga menjadi salah satu film Batman yang berhasil, namun bercerita tentang kegagalan Batman dalam menangani musuh utamanya. Akan tetapi, kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Setiap orang pasti akan gagal, gagal dan gagal, sebelum akhirnya sadar bahwa mereka juga harus bangkit lagi.

Kesimpulan

The Batman berhasil membawa banyak hal baru dan menyegarkan. Genre superhero yang kita kenal selama ini, difokuskan pada nuansa noir, crime, dan thriller. Film ini tidak cocok untuk penonton yang lebih suka menonton film dengan banyak adegan aksi, karena akan ada banyak dialog yang panjang dan dalam di setiap sequence-nya.

Dengan durasi 3 jam, The Batman sama sekali tidak membuat bosan apalagi ngantuk. Detail dialog yang terkadang bernada satir menjadi poin lebih. Monolog yang berhasil dijadikan bagian dari pengembangan karakter utama terasa unik untuk disimak.

Adapun kekurangan dari film ini hanya pada kurang banyak adegan aksi, walau dari sedikit adegan aksi yang ada, baik koreografi atau pun cara pengambilan gambarnya terasa sangat artistik.

Skor : 9

Sumber gambar : IMDb

Pencinta film yang suka menulis dan menggambar. Karya ilustrasinya bisa kalian temukan di instagram @loganuesjr
Posts created 28

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top