Revolusi

“Kacangnya kakak, dua ribu saja.”

“Telur puyuhnya om, sepuluh ribu dapat tiga.”

Sudah beberapa kali pedagang lalu lalang di angkringan tempatku dan temanku bercengkrama, tapi tak juga sekalipun ia mengeluarkan uang untuk membelinya. Aku sendiri membeli karena kebetulan menyukai kacang dan telur puyuh.

“Bukannya kamu selalu percaya terhadap revolusi kaum proletar? Revolusi kaum yang tertindas?”

“Justru itu,” ujarnya. “Memberikan uang kepada mereka akan menghalangi mereka untuk sadar kalau mereka tertindas, itu akan menghalangi revolusi.”

Aku termenung, mungkin ada benarnya juga.

Aku tidak ingin menyebut temanku sebagai seorang aktivis, tapi dia selalu percaya bagaimana ia tidak percaya otoritas, bagaimana ia ingin membubarkan negara.. bahkan kepada orang yang baru saja ditemuinya.

“Lalu ketika revolusi akhirnya terjadi nanti dan orang-orang ini telah mati kelaparan, siapa yang sebenarnya kamu perjuangkan?”

Pertanyaan itu, tentu saja hanya aku simpan dalam hati.

Posts created 32

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top