Usia Telah Mencapai Seperempat Abad, dan Ia Hanya Ingin Menulis Puisi

Pada tahun 2018 (kurang-lebih) saya berkunjung ke sebuah Kafe di Jalan KS. Tubun, di mana Panji bersama kawan-kawan Aksi Kamisan sedang berkumpul. Panji adalah penulis pertama yang saya temui dengan akrab di Kalimantan Timur. Perbincangan kami di Kafe itu layaknya kawan lama. Padahal, terhitung pertemuan kami sangatlah baru. Kawan-kawan aktivis yang lebih mengenalnya waktu itu, banyak berbicara dengannya tentang bagaimana kondisi Samarinda dari masa ke masa, dan saya hanya orang baru bagi mereka, lebih fokus diam, mengamati, dan merenungkan. Saya mendengar semangat perjuangan itu hadir melalui Panji, ternyata kondisi caruk-maruk kota ini disampaikannya melalui puisi juga cerpennya, yang kala itu sembari memperlihatkan ke saya, dengan memberi pesan, bahwa buku terbarunya sebentar lagi akan terbit.

Usia telah mencapai seperempat abad, dan ia hanya ingin menulis. Kalimat itu, saya kutip dari penggalan biodata Panji Aswan dalam puisi-puisinya yang sedikit beredar di media massa. Pada masanya, Panji Aswan sempat menjadi perbincangan, khususnya bagi segelintir kawan-kawan muda pegiat sastra di Samarinda, ia memiliki nilai tersendiri sekaligus sosok penulis muda yang produktif baik dalam kepenulisan juga lingkar komunitas, lalu keluarlah esai yang ditulis oleh Endry Sulistyo yang menyatakan bahwa Panji bukanlah milik segelintir komunitas, tetapi milik kita semua. Akan tetapi, di tengah atmosfer sastra yang patah dan mulai tumbuh di Kalimantan Timur, pujian-pujian tentang keproduktifitasan itu justru menjadi bumerang pula untuknya. 

Kali ini saya tidak akan bermaksud membicarakan karya Panji Aswan satu-persatu. Namun, ada hal yang mengganjal di dalam pikiran saya seperti segelintir kawan-kawan muda generasi saya di hadapan Panji, barangkali masih ada menyebut “produktif” seperti hedonisme altruistis, adalah sebuah kebahagiaan yang sebesar mungkin bagi jumlah manusia yang sebanyak mungkin. Jika ada segelintir kawan-kawan kita menganggap persoalan tersebut adalah lumrah dan hanya itu kewajiban yang dilakukan oleh seorang penulis. Saya kira itu keliru.

Saya akan mulai dengan sebuah puisi Panji. 

“Ke Mana Puisiku Sekarang” dalam puisi Panji adalah jawaban bagi segelintir orang-orang yang bertanya-tanya tentang keberadaan puisi-puisi itu menjadi. Demikianlah sang penulis menyampaikan bahwa puisi-puisinya sedang bertempur ke medan perang, menyuarakan sisi urbanitas kampung halaman dan melepaskan tubuhnya dari sisi politis dan kepentingan elit tertentu: 

Jika kau tanya
“ke mana puisimu
sekarang?”

Mereka sedang
berjihad
Kata-kata melepaskan
diri dari kotak
suara. Mencari
jalan baru

Bagi saya, Panji adalah seorang penulis, yang bertarung di tengah atmosfer perjalanan kesusastraan di Samarinda. Pernah saya menebak-nebak, jangan-jangan Panji sempat terjebak dengan percetakan buku berkembang sangat pesat, di mana semua orang lintas usia dapat memiliki buku karya sendiri, komunitas literasi pasang-surut, kelas-kelas menulis bertebaran dengan tambahan modul branding diri dan motivasi, dengan dalih sertifikat dan menjadi penulis nasional, yang pada akhirnya dari segi kuantitas menumpuk, sedang kualitasnya banyak diperdebatkan. Bagaimana tidak, dalam satu tahun ia dapat menghasilkan 2 sampai 3 buku puisi atau cerpen sekaligus, dan tentu kejadian itu membuat saya terus bertanya-tanya, yang, sayangnya belum marak akademisi dan praktisi lokal di Kalimantan Timur yang mengkaji karya-karya Panji secara mendalam, atau sudah ada namun belum terlihat, atau belum berani, mungkin.

Dalam pembicaraan ini saya mungkin tidak menjabarkan apa itu “produktivitas”. Tetapi, jika diizinkan saya meminjam sedikit kutipan dari Majalah Matapuisi yang beberapa tahun lalu memaparkan tentang puisi-puisi Panji.  Puisi Spontan seringkali jatuh menjadi mentah dan transparan karena ketiadaan jarak itu. Di sana terlihat, terdapat kutipan sang redaktur saya masih yakini adalah penyinggungan atas produktivitas Panji, yang lepas kendali dan tidak sempat mengambil jarak. Sebetulnya, tema-tema yang diangkat Panji pun sudah sangat marak. Mengingat, Russel mengatakan arah gerakan romantisme beberapa abad silam hingga masa kini seni sastra, bahkan politik, sudah dipengaruhi secara negatif maupun positif oleh perasaaan kita dalam merasakan sesuatu. Dalam konteks ini, bukan saya mengulang-ulang perdebatan antara karya seni dan realitas seperti “The Aesthetic Relation of Art to Reality” kepunyaan Chernyshevsky. Melainkan, sebagai orang awam karena karya sastra atau puisi adalah seni, sependek pengalaman saya, itu sangat berbahaya jika egoisme seorang pengkarya membuatnya lepas kendali, atau tanpa memikirkan konteks estetika tanpa kesadaran penuh.  

Asal mula adalah kreativitas. Csikszentmihalyi, menyebut proses kreatif adalah individu yang secara bersama-sama menghidupkan dan menjaga domain, agar ide, dan gagasan baru selalu dapat dihasilkan dan dipertanggung jawabkan. Maksud Mihalyi adalah kreativitas, bukan produk mesin, ia lahir dari fenomena-fenomena yang ditangkap dan ditelisik secara transendental. Berbeda dengan halnya produktif, tanpa kreativitas, ia seperti mesin, yang menghasilkan terus menerus, tanpa uji coba, tanpa diskusi-diskusi khusus, yang pasti ia berhasil diproduksi dan dimiliki oleh khalayak umum.

Saya kira keterkaitan antara “produktivitas dan kreativitas” akan menjadi perdebatan panjang. Yang pasti, banyak hal yang kita dapatkan di dalam proses kepenulisan Panji, toh ada pula penulis-penulis kita di Kaltim yang kreatif tapi belum produktif. Sebuah hal yang membuat kita bosan untuk mendengar proses pengkaryaan berujung romantisme masa lalu itu. Maka, yang kita butuhkan kini barangkali, penulis-penulis yang bisa menyeimbangkan antara produktivitas dan kreativitas. Sehingga dapat menyumbangkan gagasan-gagasan baru untuk kesusastraan di Kalimantan Timur yang sedang mencoba tumbuh ini. Terlebih, akan lebih penting jika kita mendiskusikan pengarsipan karya-karya Panji Aswan, agar dimiliki lintas generasi di Kalimantan Timur sebagai bekal sejarah dan jalan baru seperti yang tertulis di dalam puisinya. Karena, mau bagaimana pun Panji adalah sosok penulis milik kita semua, ia tidak hanya menulis tetapi melakukan pengabdian terhadap kawan-kawan komunitasnya, di mana pun ia berpijak dan tidak pernah bertanya, ke mana ia akan sampai pada simpang.  Dan, untuk menutup tulisan saya tentang Panji kali ini, saya membayangkan jika ada yang bertanya tentang, bagaimanakah seharusnya langkah kita menjadi seorang penulis di antara produktivitas dan kreativitas itu? Sepertinya penggalan terakhir dari puisi Panji dapat menjawab hal tersebut:

Kau cerewet sekali
dan bertanya
lagi “di mana puisimu
sekarang?”

Mereka berada
di tanah
suci, mengubur segala
rendah untuk

menemukan seorang
fitri

2019 


Tulisan di atas merupakan rangkaian tulisan obituari untuk Panji Aswan, kumpulan karya kolaboratif antara Mantra Etam dan Muara Kami.

Posts created 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top