“Selama menjalani pekerjaan ini, kamu pernah mimpi buruk, kah?”
Pertanyaan itu kuajukan kepada salah satu temanku sesama jurnalis, saat itu kami sama-sama sedang menunggu massa aksi yang tidak kunjung datang.
Aku tidak bisa mengatakan apa yang dikatakan temanku saat itu mengenai pertanyaanku, tapi satu hal yang aku pahami setelah itu, dalam pekerjaan yang sedang aku jalani sambil kuliah ini; mimpi buruk adalah hal yang sangat wajar.
Penekanan pada profesi ini bukan menyombongkan satu profesi dengan yang lain, tetapi aku perlu menyatakan itu di depan karena kantor tempatku bekerja sebenarnya cukup mau mengerti mengenai keadaanku, termasuk dengan jadwal kuliahku yang di beberapa saat kadang cukup padat.
Namun beban kerja dalam profesi ini bukan hanya tentang kuota berita dalam seminggu, tetapi bagaimana isu-isu yang kita garap bahkan dapat mempengaruhi kita secara mental.
Di malam sebelumnya sendiri, aku sempat menelepon temanku di Jakarta, di tengah obrolan kami dia sempat menanyakan pertanyaan itu; apakah apa yang kukerjakan akhir-akhir ini telah memasuki alam mimpiku?
Ia kemudian menjelaskan, bahwa ketika hal itu terjadi, itu adalah sinyal tubuh kepada diri kita, karena bahkan ketika tidur pun otak kita masih bekerja dengan keras.
Kurasa apa yang ia katakan padaku ada benarnya, kadang kala aku sebenarnya merasa baik-baik saja pada malam hari sebelum tidur, namun mimpi yang kualami setelahnya justru menunjukan sebaliknya; mulai mimpi dikejar orang tidak dikenal hingga mimpi dikhianati oleh teman-teman sendiri.
Selama beberapa minggu berturut-turut, bahkan sampai aku mengetik tulisan ini, hampir setiap hari aku mengalami itu, hampir setiap hari aku tidur hanya sekitar 4-5 jam, hampir setiap hari aku terbangun dengan gelisah, hampir setiap hari aku menangis.
Apa yang kukeluhkan ini mungkin akan dianggap tidak relevan oleh sebagian orang, apalagi dengan posisiku yang bisa dibilang cukup beruntung dibandingkan orang kebanyakan.
Sekitar seminggu yang lalu, seseorang yang sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri bahkan mengatakan bahwa jurnalis itu pemalas. Kalimat yang mungkin ia ungkapkan tanpa maksud apa-apa, dan saat itu pun aku hanya diam tidak menanggapi. Tapi jujur saja, mendengarnya aku sakit hati.
“Kamu enggak capek, kah, Tih?”
Kemarin, pacar temanku menanyakan hal itu kepadaku ketika kebetulan kami sedang minum kopi bertiga, pertanyaan yang cukup mengagetkan buatku; pertama, pertanyaan itu datang tiba-tiba di obrolan kami. Kedua, aku sebenarnya agak merasa tidak enak dengan pacarnya yang duduk di sampingnya saat ia menanyakan pertanyaan itu—meskipun kurasa dia, yang sekarang kuanggap sebagai salah satu teman baikku, tidak terlihat tersinggung dengan pertanyaan itu.
Menanyakan kabar dengan pertanyaan sederhana, memastikan agar keadaan orang yang kita kenal baik-baik saja, mungkin itu satu-satunya cara yang saat ini bisa kita lakukan terhadap satu sama lain.