Panji dan Sejumlah Hal Pertama

Pertama-tama adalah Panji.

Panji Aswan adalah penulis pertama yang saya hubungi ketika saya hendak pindah dari Yogyakarta ke Samarinda. Itu terjadi pada akhir Januari atau awal Februari 2022. Istri saya mendapat tawaran kerja di Samarinda, dan sebagai suami yang baik, semestinya saya menyertai dia ke mana pun. 

Istri saya bertanya apakah saya bisa hidup di Samarinda. Saya tidak tahu, kata saya. Saya tahu, pertanyaan istri saya berada dalam konteks pekerjaan saya sebagai pengarang. Di Yogyakarta, kota di mana kami tinggal selama lebih dari dua tahun sebelum pindah ke Samarinda, saya bisa memperoleh semua yang saya butuhkan dalam kepentingan saya sebagai seorang pengarang. Banyak kawan untuk berdiskusi dan menguji gagasan, banyak warung kopi murah yang buka dua puluh empat jam untuk berbual-bual persoalan puisi semalam suntuk, banyak akses ke penerbit, ongkir terjangkau untuk pembelian buku, jaringan yang relatif mapan, dan seterusnya.

“Kau punya kawan di Samarinda?” istri saya kembali bertanya. Dan saya kembali menggeleng, setengah tidak yakin.

Pada akhir tahun 2018, saya mengikuti Muktamar Sastra di Situbondo. Di sana, saya berada dalam satu forum bersama Amien Wangsitalaja, seorang penyair yang kini menetap di Samarinda dan berkhidmat di Kantor Bahasa Kalimantan Timur. Sebelum pertemuan itu, saya sudah lama mendengar nama Amien sebagai salah satu dari eksponen sastra sufistik yang gelombangnya menjulang tinggi lebih kurang dua dekade sebelumnya. Saya berteman dengan Amien Wangsitalaja, setidaknya di media sosial, namun, mempertimbangkan nama besar dan jarak usia kami yang terpaut jauh, saya agak canggung menghubungi Amien Wangsitalaja dan menyampaikan rencana pindah ke Samarinda.

“Aku akan mencari,” kata saya akhirnya kepada istri saya.

Terberkatilah Google. 

Saya mengetik kata kunci sastrawan Samarinda dan sebagian besar hasil yang muncul adalah Korrie Layun Rampan. Tentu saja mustahil bagi saya menghubungi Korrie, terutama karena ia sudah almarhum.

Nama lain yang kerap muncul adalah Panji Aswan. Beberapa pranala mengarahkan saya ke akun instagramnya. Dan demikianlah saya menjelajahi unggahan-unggahan di akun tersebut, yang didominasi oleh puisi-puisi pendek, foto-foto ketika ia membaca puisi, dan poster-poster kegiatan yang ia ikuti.

Dan sepertinya ia belum terlalu tua.

Dengan jari-jemari bergetar, dengan bibir mengucap basmallah, saya memberanikan diri mengirim pesan pribadi lewat akun Instagram ke Panji Aswan. Saya memanggilnya “Mas” untuk menunjukkan penghormatan. Saya menghabiskan hampir satu jam untuk memilih kata yang tepat memulai percakapan.

Kemudian saya menunggu.

Saya menunggu dengan cemas. Saya khawatir Panji Aswan adalah tipe sastrawan angkuh yang memilih-milih dalam membalas pesan dan hanya melayani orang-orang dengan nama besar. Saya banyak bertemu tipe pengarang seperti itu sebelumnya.

Namun syukurlah, kekhawatiran saya adalah kekhawatiran yang sia-sia. Tak sampai lima menit, Panji Aswan membalas pesan saya. Ia menyambut baik niatan saya pindah ke Samarinda. Dan sepertinya, ia juga segera memberitahu kawan-kawannya di Samarinda. Sebab tak sampai sepuluh menit kemudian, kotak pesan Instagram saya menerima pesan dari Novan Leany, seorang pengarang muda Samarinda. Dan Novan mengatakan ia tahu dari Panji jika saya akan pindah ke Samarinda.

Pada waktu itu pula saya menoleh kepada istri saya. Mata saya berbinar, dan saya berkata, “Ya, aku punya teman di Samarinda. Dan banyak!”

Pertama-tama adalah Panji.

Panji Aswan adalah penulis pertama yang saya temui, sekitar satu atau satu setengah jam setelah saya menginjakkan kaki di Samarinda. Itu terjadi pada tanggal 28 Februari 2022 pukul empat sore, ketika ia membantu ibunya menyiapkan gerobak gado-gado di trotoar Jalan Kartini, Kota Samarinda .

Sebelum itu, selama satu bulan, kami intens berkomunikasi via whatsapp. Ia menceritakan peta sastra di Samarinda, menyebut sejumlah tokoh, sejumlah komunitas, dan sejumlah persoalan. Ia memberi gambaran yang membuat saya bisa mengambil ancang-ancang memasuki skena yang sepenuhnya baru bagi saya.

Ia mengatakan ia tinggal di Jalan Kartini. Dan saya terkejut karena kantor istri saya juga berada di Jalan Kartini. Dan rumah yang keluarga kami kontrak juga bersebelahan dengan Jalan Kartini.

“Kita akan sering ketemu,” kata saya kepada Panji.

Dan memang kami sering ketemu. Sore itu, dari Bandara APT Pranoto, taksi membawa saya dan istri ke tempat kerja istri. Istri saya perlu melakukan orientasi lingkungan kerja, dan saya yang kebingungan mesti melakukan apa segera menelpon Panji. 

“Datang ke sini, Mas,” katanya. Dan saya berjalan tiga menit sebelum saya melihat penampakannya secara langsung untuk pertama kali. Sosok tinggi besar dengan kacamata dan kepala hampir botak.

“Terlalu banyak mikir puisi, Mas,” katanya.

Dan kami tertawa.

Panji mengenalkan saya kepada ibunya. Dan kesan pertama yang saya tangkap adalah ibunya juga merupakan orang yang baik. Perempuan itu memberi saya segelas teh, menawari saya sepiring gado-gado. Dan ketika saya menolak sepiring gado-gado itu, malam harinya, gado-gado tersebut tetap datang ke kamar hotel yang kami tempati lantaran rumah yang sedianya kami kontrak belum siap.

Pertama-tama adalah Panji

Panji Aswan adalah orang pertama di Samarinda yang mengajak saya nongkrong dan membonceng saya. Tanggal satu atau dua Maret, di boncengan sepeda motor yang dikendarai Panji, saya merasakan udara malam Samarinda. Kami melintasi sejumlah jalan rusak, naik turun bukit, menempuh perjalanan yang terasa sedemikian jauh di atas sadel yang ditopang oleh skok mati milik Panji.

“Kenapa tempat ngopinya jauh sekali, Nji?” tanya saya.

“Ah,” kata Panji. “Dekat kok, Mas. Tidak ada yang jauh di Samarinda.”

Namun itu memang jauh. Kami menyeberang kota ini, melintas dari kawasan Lambung Mangkurat ke Sempaja, untuk minum kopi di sebuah kafe, bertemu seorang pemuda bernama Andi yang kemudian juga menjadi kawan baik saya, dan ngobrol sampai hampir dini hari.

Itu bukan terakhir kalinya kami nongkrong bersama. Semenjak hari itu, kami semakin sering keluar bersama. Ia membawa saya bertemu kawan-kawan baru. Ia menemani saya ke Kantor Bahasa, ia menemani saya ketika saya diajak kawan-kawan dari Mantra untuk berbicara di acara mereka.

Di kemudian hari saya tahu bahwa ia sesungguhnya adalah salah satu inisiator Mantra, dan karena satu dan lain hal, ia kemudian memutuskan berpisah dengan kolektif tersebut. Kesediaannya mengantar dan menemani saya seraya mengenyampingkan persoalannya sendiri membuat saya terharu.

Tak berselang lama, sejumlah kawan baru di Samarinda melibatkan saya dalam penyelenggaraan acara memperingati seratus tahun Chairil Anwar di Kantor Bahasa Kalimantan Timur. Kantor itu jauh betul dari rumah saya. Dan Panji, bergantian dengan Andi, tak pernah keberatan menjemput dan mengantar saya. Kebetulan acara tersebut digelar pada bulan Ramadhan, dan persiapannya pun dikerjakan pula pada bulan yang sama.

Itu adalah acara pertama di mana saya terlibat sebagai panitia di Samarinda. Dan sekali lagi, saya bekerja bersama Panji.

Sekali waktu, ketika mempersiapkan acara itu, kami pulang menjelang sahur dari Kantor Bahasa. Panji adalah tipe orang yang terkesan serampangan dalam berkendara. Berulang kali ia menyeberang atau memotong jalan tanpa mengurangi kecepatan atau menengok ke kanan ke kiri. Dan selalu, berada dalam boncengan Panji, membuat saya mesti lebih kerap mengucap istighfar dan doa-doa keselamatan.

Doa-doa itu, sekali waktu, tidak bekerja dengan baik.

Menjelang sahur, pulang dari Kantor Bahasa, motor yang dikendarai Panji berasap seperti cerobong mesin fogging. Lalu mati. Kami berupaya melakukan segala hal untuk menghidupkan motor itu: Panji berkali-kali menstarter ulang, dan saya berkomat-kamit membaca doa. Namun motor itu tetap mati.

Pada akhirnya, kami mesti mendorong motor itu. Beruntung, sekitar dua atau tiga ratus meter di depan kami, ada bengkel yang buka.

Dan si mekanik tertawa begitu mengetahui penyebab matinya motor. Tak ada setetes pun oli dalam motor tersebut.

“Padahal baru saya ganti, Mas,” kata Panji.

Saya mengangguk. “Iya,” kata saya. “Motormu memang haus.”

Pertama-tama adalah Panji.

Panji Aswan adalah orang pertama di Samarinda yang meminta masukan atas naskah cerpennya, tepatnya, naskah dari manuskrip cerpen yang akan ia terbitkan dalam waktu dekat.

Saya membaca cerpen-cerpen tersebut, mendiskusikan beberapa dengannya, dan berharap agar ia bisa segera menerbitkannya.

Ia mengangguk. Ia berjanji akan segera menerbitkan manuskrip tersebut.

Namun tidak. Ia tidak bisa menepati janjinya. 

Pada tanggal 11 Mei 2022 jam sembilan pagi, ia menghembuskan napas untuk terakhir kalinya di rumah sakit setelah menjalani perawatan akibat batu ginjal pada usia 28 tahun. Ia sudah mengeluhkan sakit di kawasan perutnya semenjak lebaran. Namun saya benar-benar tidak menyangka jika penyakit itu akan membawanya pergi jauh.

Kadang-kadang, ketika sedang sendirian, saya merasa masih bisa mendengar suaranya, merasa goncangan ketika duduk di belakangnya di atas motor yang skoknya mati, dan seterusnya.

Ia seperti masih hidup. Ia seperti masih bertanya, “Bagaimana cerpen-cerpen saya, Mas?”

Selamat jalan Panji Aswan, salah satu penulis paling berbakat dan bersemangat di Samarinda.

Dadang Ari Murtono, kawan dari Panji Aswan.


Tulisan di atas merupakan rangkaian tulisan obituari untuk Panji Aswan, kumpulan karya kolaboratif antara Mantra Etam dan Muara Kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top