Lemari

Namaku Binar, usiaku 37, aku cukup sering terbangun di tengah malam. Dari atas tempat tidur, kulihat cahaya masuk lewat jendela dan menerangi langit-langit sejenak. Lalu aku akan memandangi lemari di kamar, berharap pintu lemari itu terbuka dan terdengar gema suara keluar dari dalamnya. 

Kata beberapa orang yang pernah aku jumpai, mungkin aku sedang berhalusinasi, bermimpi, tidur berjalan, mengingau, atau ada kegilaan di dalam kepalaku. Aku beberapa kali mencoba mengaminkan pendapat mereka, meyakini bahwa aku sedang sakit, butuh bantuan, seolah aku ingin membuang itu semua. Padahal semua itu tidak ada yang salah, aku tidak terganggu jika lemari di kamarku berbicara di tengah malam, yang membuat aku terganggu adalah orang-orang yang tidak percaya dan menganggap aku sudah gila.

Setiap lemari memiliki ceritanya sendiri. Memori yang tersimpan di dalam lemari itu bermacam-macam. Salah satunya adalah  kisah mengerikan seperti kisah lemari berbahan kayu jati di rumah yang diwariskan oleh kedua orangtuaku. Lemari berbahan kayu jati ini sudah ada sejak lama di kamar itu. Saat pertama kali melihatnya aku bisa merasakan ada kisah menarik di dalamnya. Dan itu benar, menarik dan menyeramkan.

Di malam pertama aku menempati rumah itu, aku terbangun di tengah malam, lemari itu  terbuka, seperti seseorang yang menjulurkan tangan dan ingin memelukku. Aku masuk ke dalam lemari, duduk dan bersandar. Pintu lemari tertutup, gelap menyelimuti sekitar. Lalu lemari itu bercerita padaku tentang memori yang dimilikinya:

Dahulu kala ada sebuah keluarga yang membangun rumah impian. Keluarga itu terdiri dari Bapak, Ibu, dan Anak laki-laki. Tidak ada anak perempuan karena anak perempuan sudah mati sejak dalam kandungan. Padahal Bapak dan Ibu ingin punya anak perempuan. Bapak dan Ibu terus berusaha agar bisa mendapatkan anak perempuan, namun jangankan anak perempuan, anak laki-laki pun tidak lagi pernah mereka dapatkan. Ibu tidak bisa hamil lagi.

Ini seperti;  jika kamu sangat menginginkan sesuatu, maka sesuatu itu akan sulit atau bahkan tidak akan pernah kamu dapatkan, begitulah yang terjadi pada keluarga itu. Anak laki-laki mereka membawa kutukan, anak laki-laki mereka telah memakan anak perempuan saat di dalam rahim Ibu, oleh sebab itu ketika anak laki-laki dilahirkan, yang tersisa dari anak perempuan hanyalah jari kelingkingnya saja.

Jari kelingking anak perempuan tumbuh di tangan anak laki-laki. Suatu hari Ibu memotong separuh jari itu dan memasukkannya dalam kotak kecil lalu menyembunyikannya kedalamku. Anak laki-laki terus menangis seharian, kain yang di lilitkan Ibu di tangannya merah berhias darah. Bapak yang melihat itu marah besar, namun Ibu bilang; itu agar kutukannya hilang.

Bapak membawa pergi Anak laki-laki, meninggalkan Ibu sendirian. Ibu hanya duduk di depanku berhari-hari memandangi potongan jari kelingking anak perempuan. Kadang ia menangis, sesekali tertawa sinis. Dan di hari ke-4, potongan jari kelingking anak perempuan di makan oleh ibu. Setelah itu Ibu mati di hadapanku.

Mendengar kisah lemari jati, bayangan kematian Ibu kadang muncul di ruang pikiraku. Mati dengan mata terbuka, duduk di depan cermin retak lemari jati, menatap dirinya sendiri dalam kekosongan. Membayangkan itu tidak membuat aku takut bercermin pada lemari berbahan kayu jati tersebut, malah jika aku menyisir rambut atau menggunakan makeup tetap saja aku menggunakan cermin retak di lemari itu. Bagiku semua yang ada di dunia 3 dimensi ini tidak akan bisa bersentuhan dengan hal-hal yang ada di dunia 4 dimensi, kalau pun apes bisa melihat sekelebat bayangan dari dunia 4 dimensi itu juga bukan masalah. Meyakini bahwa mahluk di dimensi berbeda itu ada jauh lebih melegakan daripada menganggap mereka tidak pernah ada.

Saat aku berusia 12 tahun, di kamarku ada sebuah lemari kain. Kata ibu tiriku, lemari itu dulunya milik almarhum Kakek. Aku tidak pernah melihat almarhum Kakek. Karena saat Bapak menikah dengan Ibu tiri, Kakek sudah lama meninggal. Dan kini, Bapakku juga sudah meninggal.

Ibu tiri baik padaku, dia tidak pernah marah apa pun yang kulakukan. Begitu juga aku tidak pernah menghakimi apa pun yang dilakukannya. Kadang dia mabuk, atau pulang bersama teman laki-lakinya, kadang berisik di tengah malam, kadang mereka teler. Namun Ibu tiri selalu marah pada teman-temannya yang mencoba menggangguku. Definisi baik itu memang kadang membingungkan, kita tidak bisa berharap bahwa orang baik tidak memiliki keburukan, jadi apabila aku merasa terganggu dengan suara berisik Ibu tiri dan teman-temannya, aku akan masuk ke dalam Lemari kain, menutup ritsleting lemari hingga atas, meringkuk di dalamnya di bawah baju yang bergantung. 

Saat itulah aku mengenal Lemari kain. Ia membuatku merasa aman dari banyak hal di malam hari, menceritakan sebuah kisah masa lalunya untuk mengantarkanku ke alam mimpi. Berikut kisah yang pernah Lemari kain ceritakan kepadaku:

Aku merupakan hadiah pernikahan seorang lelaki kepada istrinya. Mereka adalah pasangan yang sempurna. Walau, di balik kesempurnaan selalu ada cerita mengerikan yang disimpan rapat-rapat. Pasangan ini melakukan pernikahan sedarah, mereka sudah dianggap mati oleh keluarga besar. Namun cinta menguatkan segalanya, dan juga membutakan sekaligus.

Ketakutan terbesar yang dimiliki istri adalah memiliki anak yang cacat, pernikahan sedarah punya sejarah yang mengerikan perihal itu. Oleh sebab itu setiap kali istri hamil, ia akan melakukan aborsi. Beberapa anak yang tidak pernah dilahirkan ke dunia selalu ditanam bersama biji bunga matahari, maka halaman rumah mereka dihiasi oleh kebun bunga matahari.

Suami ingin memiliki anak, tapi istri masih dihantui rasa takut, lalu mereka mengadopsi seorang anak perempuan. Namun istri tidak bisa menyayangi anak angkat mereka, ia terus merasa anak angkat mereka adalah orang asing, ia merasa dirinya tidak berguna karena tidak bisa memberi suami seorang anak. Maka kebencian tumbuh mengakar di dalam dada istri. Ia mudah marah dengan anak angkat, bahkan untuk kesalahan kecil sekali pun.

Suatu hari istri memutuskan untuk mempertahankan kehamilannya. ini adalah hari-hari yang berat. Istri lebih banyak menghabiskan hari di dalam kamar, berbaring di tempat tidur di depanku dengan keluh kesah. Ia sering berteriak pada anak angkat yang saat itu sudah berusia 10 tahun. Ia menyuruh anak angkatnya mengambilkan makan, membersihkan kamar, bahkan hanya menemaninya di kamar untuk dimarah-marahi.

Saat kehamilan memasuki usia 7 bulan, sang istri sangat menderita, dorongan untuk menggugurkan kandungannya semakin besar, ia depresi dan sekali lagi menyalahkan itu semua kepada anak angkat mereka. Dan pada Rabu siang yang berhias hujan lebat, terjadi tragedi yang mengerikan. Istri roboh di depanku karena tanpa sengaja menginjak bola tenis milik anak angkat. Ia terjungkal, terhempas ke lantai. Pendarahan terjadi. ia berteriak memanggil anak angkat. Namun anak angkat sangat lelah dan hanya ingin menghindari istri, sedangkan suami sedang terjebak di jalan karena banjir.

Istri mati kehabisan darah, ia mati dengan mulut terbuka sebab hingga detik terakhir ia berusaha berteriak meminta tolong. Sejak itu anak angkat sering mendengar suara istri meminta tolong. Anak angkat sering ketakutan dan tak berani tidur sendriian, maka Suami akan menemaninya tidur sembari memberitahu bahwa suara itu hanyalah halusinasi saja.

Di malam-malam tertentu suami kadang melihat istrinya sedang berdiri diantara bunga matahari. Atau juga ia melihat istrinya terbaring di depanku tak bergerak. Dan sepanjang hidupnya setelah itu, ia hidup dengan perasaan bersalah karena tanpa sengaja sudah menuntut seorang anak pada istri tercintanya.

Untuk merasa lebih baik, suami sering bilang kepada dirinya sendiri, bahwa semua itu hanyalah halusinasi saja. Ya halusinasi, sampai ia tak tahan dan memilih untuk gantung diri di kamar di depanku, di bawa kipas angin tepat di atas tempat istri mati dengan mulut terbuka.

Setelah mendengar kisah itu, kupikir ibu tiri masih sering mendengar suara ibu angkatnya meminta tolong, kurasa itu juga alasan mengapa halaman depan di tanaminya pokok pandan untuk menggantikan semua bunga matahari. Kurasa juga, itu alasan mengapa ibu tiri tidak terlalu suka masuk ke kamarku apalagi menatap kearah lemari kain. 

Ibu tiri hidup dengan perasaan itu, dengan ingatan itu, selama-lamanya. Ini hampir mirip seperti almarhum bapak, yang sepanjang hidupnya di hantui oleh rasa bersalah karena telah meninggalkan ibu.

Sekarang aku sudah dewasa, sudah hidup sendiri di sebuah kota yang asing. Rumah warisan juga sudah kujual. Aku ingin memulai hidup baru, yang sempurna. Walau, di balik kesempurnaan selalu ada cerita mengerikan yang disimpan rapat-rapat. Semua kisah itu sedikit demi sedikit aku simpan di dalam lemari milikku. Lemari yang terbuat dari partikel board, lemari yang hampir setiap malam aku masuki yang tanpa pernah menghakimiku, mau mendengarkan semua kisahku. Ia selalu berhasil membuat aku nyaman, dan aku tanpa rasa canggung bercerita padanya tentang hidupku; tentang bahwa aku adalah anak yang tidak diinginkan oleh ibuku, bahwa aku sering kali melihat almarhum bapakku tenggelam di dalam kesedihan yang nestapa, bahwa aku sering kali melihat ibu tiriku menjual dirinya untuk kami tetap hidup, dan yang paling penting adalah lemari mau merangkulku walaupun aku seorang transgender.

Kadang aku berharap pintu lemari itu terbuka dan terdengar gema suara keluar dari dalamnya. Namun aku tahu ini adalah lemariku, tempat memoriku disimpan. Dan kelak suatu hari akan ada seseorang yang menemukan bagian dari lemari ini dan mendengarkan kisahku. Seperti kalian saat ini, yang berada di dalam lemari ini, mendengarkan aku bercerita.[]

NB: Versi Audio bisa kalian dengarkan DISINI

Pencinta film yang suka menulis dan menggambar. Karya ilustrasinya bisa kalian temukan di instagram @loganuesjr
Posts created 28

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top