“Jangan sentuh,” katanya.
Aku kemudian bertanya, “Memangnya ini apa?”
“Lem,” katanya. “Bukan lem biasa. Lem super.”
Lalu aku bertanya lagi,”Untuk apa kamu membeli ini?”
“Karena aku memerlukannya,” katanya. “Ada banyak hal yang perlu aku rekatkan.”
“Aku tidak mengerti mengapa kamu mesti membeli barang tak berguna seperti ini.”
“Alasan yang sama aku menikahimu,” balasnya, “untuk membuang-buang waktu.”
Aku sedang tidak ingin bertengkar, maka aku diam, dan begitu pula dia. “Memangnya sebagus apa sih, lem ini?” aku bertanya pelan, mencoba berbasa-basi. Ia memperlihatkan gambar di boks lem tersebut, foto seorang laki-laki berdiri bergelantungan di atap dengan lem yang merekat di sepatunya.
“Tidak ada lem yang dapat membuat seseorang berdiri bergelantungan seperti ini,” kataku. “Mereka mengambil gambar ini secara terbalik. Ia berdiri di atas lantai. Mereka hanya mengubahnya sedikit agar membuatnya terlihat seperti atap. Perhatikan saja baik-baik bagaimana mereka menaruh tirai gorden secara terbalik di foto ini.” Aku menunjuk tirai gorden di foto tersebut. Namun ia tidak menghiraukanku.
“Sudah jam delapan,” kataku sambil membawa koperku dan mencium pipinya. “Aku akan pulang terlambat. Aku—”
“Aku tahu,” katanya. “Kamu akan lembur, pekerjaanmu menumpuk.”
***
Aku menelpon Mindy dari kantor. “Kurasa kita tidak bisa melakukannya hari ini.” Kataku. “Aku harus pulang cepat.”
“Mengapa? Ada apa?”
“Enggak, maksudku, iya, kurasa dia mulai curiga.” Hening. Aku bisa mendengar napas Mindy di ujung telepon.
“Aku tidak mengerti kenapa kamu masih bersamanya,” ia berkata pelan. “Kalian berdua tidak pernah melakukan apa-apa. Kamu bahkan sudah tidak punya hasrat untuk bertengkar lagi dengannya. Aku tidak paham kenapa kamu masih mau melanjutkan ini. Aku tidak paham apa yang membuat kalian masih bersama. Aku tidak paham,” katanya lagi. “Aku benar-benar tidak paham…” dan kemudian ia mulai menangis.
“Jangan menangis, Mindy,” kataku kepadanya. “Maaf,” aku kemudian mencoba berbohong untuk mengakhiri percakapan itu. “Ada seseorang datang, aku pergi dulu. Aku akan datang besok, aku janji, nanti kita akan bicara.”
***
Aku pulang lebih awal. Aku memanggil istriku saat aku masuk ke dalam, namun tidak ada siapa pun yang membalas. Aku pergi dari kamar ke kamar. Dia tidak ada di dalamnya. Di atas meja makan aku menemukan satu tabung lem yang kini telah kosong. Aku mencoba menarik kursi untuk duduk, namun kursi itu tidak tergerak sedikit pun. Ia rupanya telah merekatkannya dengan lantai. Hal yang sama terjadi saat aku mencoba membuka pintu kulkas, ia juga telah merekatkannya. Aku tidak mengerti untuk apa ia melakukan hal konyol seperti ini. Ini tidak seperti dirinya. Aku pergi ke ruang tamu untuk menelpon, mungkin ia telah pergi ke rumah ibunya. Aku tidak bisa mengangkat gagang telepon. Rupanya ia telah merekatkannya juga. Kesal, aku menendang meja hingga jariku terluka—sementara meja itu tidak tergerak sedikit pun.
Saat itulah aku mendengarnya tertawa. Tawa itu berasal dari atas kepalaku. Aku mendongak, dan kemudian aku melihat ia bergelantungan dengan kakinya menempel di atap ruang tamu. Aku menatapnya keheranan. “Kamu sudah gila, ya!?” Ia tidak membalas, hanya tersenyum. Senyumnya terlihat sangat natural, bagaimana ia berdiri bergelantungan seolah-olah ia sedang melawan gravitasi. “Jangan khawatir,” kataku. “Aku akan membantumu untuk turun,” dan aku kemudian menarik beberapa buku dari raknya, Menumpuk beberapa ensiklopedia tebal dan berdiri di atas tumpukan tersebut. “Ini mungkin akan sedikit terasa sakit,” kataku, sambil mencoba menyeimbangkan diri di atas tumpukan buku. Ia hanya tersenyum. Aku menariknya sekuat tenaga, namun tidak menghasilkan apa-apa. Dengan hati-hati, aku turun. “Jangan khawatir,” kataku. “Aku akan memanggil tetangga untuk membantu.“
“Baiklah,” katanya sambil tertawa. “Aku tidak akan kemana-mana.” Aku jadi tertawa juga. Meskipun berantakan, ia terlihat sangat cantik, berdiri bergelantungan seperti itu dengan rambutnya menjuntai kebawah. Cantik dan manis sekali. Aku kembali berdiri di atas tumpukan buku dan menciumnya. Aku merasakan bibirnya menyentuh bibirku. Buku yang kupijak berjatuhan, namun tubuhku tetap bertahan, melayang di atas udara tanpa berpijak pada apa-apa, sementara bibirku tetap menempel dengan bibirnya.
Diterjemahkan dari cerpen Etgar Keret yang berjudul Super Glue