Hantu Sedih Rumah Kosong

Aku ingin bilang ini adalah pengalaman supranatural paling nyata yang pernah aku alami. Masa aku masih kelas 1 SMP, di bulan Ramadhan. Sulit memang untuk yakin kalau apa yang aku lihat itu betul-betul penampakan hantu, karena kata guru agama ku ; di bulan Ramadhan semua setan dikurung.

Seperti yang sudah pernah aku ceritakan sebelumnya, aku bersama anak-anak lain di kampungku punya berbagai macam permainan. Di bulan Ramadhan, permainan yang paling popular adalah main letupan (meriam sederhana yang dibuat menggunakan batang bambu besar, diisi minyak tanah yang bisa menimbulkan dentuman keras apabila disulut dengan api). Biasanya kami mulai membuat letupan di hari-hari pertama Ramadhan setelah pulang sekolah, lalu mulai memainkannya di jam-jam dekat buka puasa dan juga setelah sholat teraweh.

Di dekat lapangan tempat kami bermain ada sebuah rumah tua. Penghuni rumah itu sepasang suami istri yang dikenal anak-anak sangat pemarah. Bahkan ada peraturan yang sudah kami saling ketahui kalau buah kuweni punya mereka jatuh pun tidak boleh diambil oleh siapa pun. Sialnya bagi kami, pohon kuweni milik pasangan suami istri itu selalu berbuah lebat. Tidak hanya kuweni, di samping rumahnya yang dipagar oleh bunga kaca piring itu, juga terdapat pohon jambu air yang juga berbuah lebat serta beberapa ruas tanaman tebu.

Di kalangan anak-anak kampungku, kami percaya bahwa tanah itu menjadi sangat subur karena ada anak yang pernah diculik lalu di kubur di sana sebagai tumbal. Cerita-cerita menyeramkan semacam itu memang sering beredar dikalangan anak-anak, dan hal itu cukup membuat anak-anak menjauhi tempat itu. Bahkan jika kami bermain di lapangan dan bola masuk ke kolong rumah atau halaman kebun itu, tak ada satu orang pun yang berani pergi mengambilnya.

Setahun sebelum kejadian yang akan aku ceritakan ini terjadi, si istri meninggal dunia. Jadi yang tinggal di rumah itu hanyalah si suami, dan semenjak si suami sendiri, dia jadi lebih pemarah daripada biasanya. Kami yang siang-siang bermain di lapangan pun sering kena marah karena dianggap berisik—memang berisik sih, tapi ya namanya anak-anak bermain mana mungkin tidak berisik.

Si suami cukup sering mengintip untuk mengawasi kami dari jendela di kamarnya yang separuh bagian atasnya terbuat dari kaca. Dia berdiri di sana memperlihatkan kepalanya, menatap kami dengan tatapan marah. Kadang itu cukup mengejutkan dan juga menyeramkan. Kisah-kisah mengerikan baru pun mulai bermunculan di kalangan anak-anak. Ada yang bilang si suami sedang mencari anak yang cocok untuk diculik. Bahkan ada yang bilang sebenarnya si istri masih ada di rumah itu, namun sudah jadi zombie dan kelaparan ingin makan daging anak-anak.

Sejak dulu pasangan suami istri tadi terbilang cukup aneh dan tidak terlalu akrab dengan lingkungan sekitar. Mereka juga tidak punya anak, hidup berdua dan terkesan menutup diri dari lingkungan. Dulu aku bertanya-tanya, bagaimana cara mereka bisa tahan hidup seperti itu? Walau setelah aku dewasa sekarang, aku jadi lebih mengerti bahwa hidup bersosial itu tidaklah mudah. Mungkin suami istri itu menemukan ketenangan dengan cara seperti itu.

Kembali ke cerita utama tentang pengalaman supranaturalku. Jadi setelah pulang sholat tarawih, aku dan beberapa anak mulai bermain letupan. Gema suara letupan sahut-sahutan dengan kampung sebelah, dan itu sudah menjadi tradisi biasa yang akan berlangsung hingga pukul 10 malam.

Kami bermain letupan di pinggir sungai depan lapangan bermain, cukup dekat dengan rumah pasangan suami istri tadi. Salah seorang anak yang iseng punya ide untuk mengarahkan moncong letupan kearah rumah tua itu. Iseng, penasaran, tanpa berpikir panjang memang adalah tabiat anak-anak pada umumnya. Maka kami pun menembakkan letupan kearah rumah tua itu. Setelah dentuman terakhir yang cukup keras, kami semua senyap dan bersembunyi di samping tumpukan kayu. Namun tidak ada yang keluar dari rumah itu. Tentu kami berharap apa yang kami lakukan mendapat respon dari si suami. Paling tidak dia akan keluar rumah dan marah-marah.

Karena penasaran kami pun memberanikan diri untuk mendekat ke rumah tua. Sesampainya di sana, di bawah pohon kuweni banyak buah kuweni yang matang dan tidak diambil. Jelas lah itu semacam harta karun yang tidak kami sia-siakan. Kami pikir pemilik rumah memang lagi tidak ada. Maka kami mengambil semua kuweni tadi. Karena jambu air juga buahnya banyak, salah seorang anak sampai memanjat dan memetik jambu air. Semua senter mengarah ke anak yang memanjat pohon jambu air, menunggu sarungnya terisi penuh buah jambu air.

Tapi celakanya tiba-tiba jendela yang berada di samping pohon jambu air terbuka, semua kaget. beberapa anak langsung kabur. Aku dan seorang lagi masih menunggu anak yang di atas pohon turun. Dan saat itulah aku melihat siluet hitam di balik gorden jendela berdiri menatap kami. Aku mengarahkan cahaya senter ke jendela dan bisa kulihat si suami menatap kami dengan wajah sedih, yang membuat aku semakin ngeri; di samping si suami ada si istri berdiri.

Tanpa pikir panjang aku mengambil langkah seribu, tidak lagi memperdulikan temanku yang tertinggal. lariku sangat kencang, langsung pulang ke rumah. Hingga waktu sahur tiba aku tidak bisa tidur malam itu. Aku selalu terbayang tatapan suami istri itu, dan aku semakin merasa ngeri setiap kali ingat kalau si istri sudah meninggal tahun lalu.

Besok paginya kami yang malam itu pergi ke rumah tua di buat kaget. Si suami ternyata memang tidak ada di rumah, ia lagi berada di kampung lain di rumah keluarganya, dan pagi itu diumumkan di masjid bahwa si suami meninggal dunia dan mayatnya sedang di bawa ke kampung untuk di makamkan.

Jadi siapa yang kami lihat malam itu? Siapa yang membuka jendela? Siapa yang menatap kami dengan tatapan sedih itu? Aku menanyai anak-anak lain apa mereka melihat apa yang aku lihat, beberapa yang kabur duluan berkata tidak, tapi beberapa yang agak belakangan dan tertinggal mengaku juga melihat apa yang aku lihat. Jelas pengalaman kolektif seperti ini sulit untuk tidak dipercayai. Dan setelah kejadian itu, kami jarang bermain di lapangan dekat rumah tua.

Aku tahu itu adalah pengalaman supranatural menyeramkan yang terasa sangat nyata bagiku. Dan setelah beberapa tahun kejadian itu, apabila aku teringat momen itu, bulu kuduk ku jadi merinding ngeri. Walau semakin dewasa, aku selalu mencoba menyebut kejadian itu hanyalah halusinasi kolektif yang kebetulan. Mungkin rasa takut yang berlebih membuat kami memproyeksikan rasa takut kami pada sebuah bentuk yang sebenarnya tidak benar-benar ada di sana.

Apalagi setelah kami dewasa, salah seorang temanku yang ada di malam itu dan mengaku juga melihat apa yang aku lihat, memberitahuku bahwa sebenarnya ia tidak melihat apa-apa, ia hanya mengaminkan perkataan ku agar aku tidak terlihat bodoh sendirian. Aku cukup lega dengan pernyataan itu, walau sebenarnya juru kunci apakah itu halusinasi atau bukan ada pada anak yang naik ke atas pohon jambu air. Sayangnya aku tidak bisa menanyakannya sekarang, karena temanku itu sekarang mengalami gangguan jiwa—kata orang-orang dia mulai mengalami gangguan jiwa saat aku kuliah di Banjarmasin. Pemicunya adalah overdosis obat batuk saset yang dicampur dengan alcohol.

Sekarang aku masih gamang dengan fakta antara halusinasi atau kenyataan. Namun tatapan sedih si suami istri di jendela malam itu, membuat aku berpikir; begitu senyapnya hidup mereka, ada banyak kesedihan dan kesunyian di sana, apalagi saat si istri meninggal dan si sumi hidup sendiri. Kurasa kemarahan yang ia lakukan kepada kami adalah bentuk ekspresi kesedihan atas kehilangan yang mendalam.

Entah kenapa sekarang, setiap kali aku teringat tatapan itu, aku merasa ada kesedihan nestapa yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Atau itu hanyalah alam bawah sadarku yang coba memberitahuku bahwa di masa itu aku memiliki kesedihan yang mendalam atas beberapa hal yang sulit aku ekspresikan. Bahwa sebenarnya apa yang aku lihat malam itu hanyalah halusinasi. Mungkin!

Pencinta film yang suka menulis dan menggambar. Karya ilustrasinya bisa kalian temukan di instagram @loganuesjr
Posts created 28

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top