Setan Dalam Diriku 

Waktu SD guru agamaku pernah bilang. “Setiap kali kamu menyadari tentang dosa yang pernah kamu perbuat, maka cobalah berdoa lalu meminta Tuhan mengampuni dosamu, sebab Tuhan maha pengampun.” Hari ini, di tengah jalan yang sepi, berlatar belakang langit senja, aku coba melakukan hal itu. Dengan langkah pelan dan perasaan bersalah, aku meminta pengampunan dosa kepada Tuhan karena telah membunuh bapak.

Bapak meninju wajah ibu sangat keras, sampai-sampai ibu terjungkal dan kepalanya terbentur ke ujung meja. Bapak sangat marah karena ibu membuat mobilnya kotor. Darah segar keluar dari kepala ibu, nafasnya satu satu, kemudian kematian menjemput ibu.

Ibu sayang padaku, aku juga sayang kepadanya. Ibu sangat mudah di sayangi, bahkan beberapa lelaki asing yang tanpa sengaja berjumpa dengan kami saat kami jalan-jalan di akhir pekan, dengan mudah menyayangi ibu. Bapak suka memberi tumpangan pada lelaki asing yang lebih muda darinya. Bapak selalu memanggil mereka dengan sebutan “mas bro”.

Mas Bro ada bermacam-macam, ada yang banyak bicara, ada yang pendiam, ada yang harum, ada juga yang bau. Siapa pun Mas Bro yang menumpang, mereka tidak boleh merokok. Bapak selalu memberitahu mereka kalau aku punya penyakit asma, walau sebenarnya aku tahu, itu bohong. Bapak hanya tak suka mobilnya bau rokok. Ia sangat menyayangi mobilnya.

Mobilnya itu tipe sedan BMW Seris 3 berwarna hitam. Aku tahu itu, sebab bapak berulang kali memberitahuku. Seusai dipakai akhir pekan, bapak selalu mencucinya. Tidak hanya bagian luar mobil saja dibersihkan, tapi juga bagian dalam.

Dalam rangka ulang tahunku yang ke 12, ibu memberiku kado sebuah pisau lipat. Pisau lipat itu indah, terbuat dari bahan stainless steel. Gagangnya berbentuk seperti Revolver milik bapak. Aku selalu membawa pisau itu kemana pun pergi. Saat Ibu memberikan pisau itu, ia memberitahuku, bahwa pisau adalah benda yang penting. Ketajamannya bisa membuat manusia bertahan walau dalam keadaan damai maupun perang.

Perang adalah kata yang membuat bapak bersemangat untuk bercerita. Sebelum menikah dengan ibu, bapak adalah seorang tentara, ia pernah beberapa kali ditugaskan di wilayah konflik. Seperti yang ia ceritakan kepadaku. Ia melihat orang ditembak, orang dipenggal, orang dikuliti, bahkan dibakar hidup-hidup. Katanya; “Jangan pernah menjadi orang lemah. Lihat aku, jika lemah mungkin aku sudah mati saat perang dulu.”

~

Hari ini usiaku 18 tahun, bapak berjanji memberiku hadiah, ibu menyuruh aku segera turun, karena hari ini kami akan berlibur keluar daerah. Sebelum turun ke lantai dua, kumasukkan pisau lipat ke dalam saku, suara langkah ibu terdengar menaiki anak tangga, lalu ia mengetuk beberapa kali pintu kamarku.

Saat mobil kami melaju meninggalkan kota, aku melihat kearah jendela belakang, rumah-rumah indah berdinding batu bata, semakin menjauh hingga akhirnya menghilang. Bapak menyalakan musik kesukaan kami, sedangkan ibu mengingatkanku memasang sabuk pengaman, kami bersama-sama mulai bernyanyi, lagu Blake Shelton berjudul Just South of Heaven.

Kami mulai memasuki jalan sepi, dihiasi pohon yang bergoyang kekiri dan kekanan. Tak jauh di pinggir jalan di depan kami, terlihat seorang lelaki melambai mencari tumpangan. Bapak tidak langsung berhenti, malah melewatinya begitu saja, ibu bilang; “dia hanya sendiri, terlihat polos dan tak berbahaya”. 

Bapak menghentikan mobil, lalu mundur pelan-pelan. Ibu tersenyum centil, sedangkan bapak bertanya tentang tujuan. Lelaki muda menyebut kata Solo, dan bertanya maukah kami memberi tumpangan, bapak bilang “ok mas bro,” lelaki muda pun duduk denganku bersebelah-sebelahan.

Mas bro bercerita pada kami, Ia ke Solo ingin mencari kerja. Bapak berkata menanggapi, “Kerja seperti apa yang kamu cari di sana?”. Mas bro berujar, “jadi kuli pun tak apa, tak ada hal besar, sebab aku hidup sebatang kara.”

Orang tua mas bro baru saja meninggal, ia adalah anak tunggal. Rumah dan barang-barang sudah di jual, makanya ia ingin memulai semuanya dari awal. Setelah itu bapak mulai bercerita tentang perang, dan aku mulai bosan mendengarkan, sebab aku sudah mendengarnya berulang-ulang, jadi tidak ada lagi hal yang mengejutkan.

Kini giliran ibu yang mulai bertanya, apakah mas bro punya pacar, mas bro menggelengkan kepalanya, lalu mulai berkelakar. “Tapi saya suka acar dan sering membelinya,” Aku tidak tertawa dan hanya bersandar, sebab tak paham di mana lucunya.

 Sudah hampir dua jam, kami di perjalanan, melewati tanjakan curam, dan kebun rambutan. Bapak melirik kearah ibu, memberi isyarat. Ibu mulai berseru, “sebaiknya kita istirahat.” Bapak bilang di dekat situ ada sebuah danau, mungkin kita bisa bermain kartu, sambil menikmati pemandangan air yang berkilau.

Mas bro menganggukkan kepala tanda setuju, mobil berbelok dengan santainya, mengurangi laju. Jalan mulai berbatu, dihiasi rerumputan, mobil terus maju, dengan perlahan. Air danau terlihat, bapak dan ibu bersemangat. Aku merogoh kantong memegang pisau lipat, jantungku mulai berdetak hebat.

~

Pembunuhan pertama yang kulihat adalah saat aku berusia 6 tahun. Kejadian itu sebulan setelah kakek pindah ke rumah kami. Kakek sudah tua, ia sering pikun, beberapa kali ia pergi lalu tersesat karena lupa jalan pulang, kadang ia juga lupa kalau ibuku adalah anaknya. kadang ia kencing sembarangan, buang air besar sembarang, bahkan marah-marah tanpa sebab.

Kala itu bapak masih bekerja di angkatan darat, ia tidak terlalu suka dengan kakek. Sering orang tuaku bertengkar hebat hanya karena ulah kakek yang menyusahkan. Setiap kali bertengkar bapak selalu memukul ibu, hingga suatu hari kakek meninggal dunia. Selama beberapa bulan setelah kakek meninggal ibu dan bapak jarang bicara, di rumah jadi sunyi tidak seperti biasanya.

Kakek meninggal pada malam jumat di atas tempat tidurnya. Sebelum meninggal ia begitu gusar, tingkahnya sangat menyebalkan, ia beberapa kali ingin melarikan diri dari rumah. Karena sudah hampir tengah malam, bapak terpaksa mengikat tangan dan kaki kakek di atas tempat tidur. Memasung, dan menutup mulutnya dengan lakban.

Sekitar pukul 2 subuh aku terbangun karena mendengar suara berisik di kamar kakek. Di depan pintu kamar kakek yang renggang, aku melihat bapak menutup wajah kakek dengan bantal, sedangkan ibu hanya menangis di samping tempat tidur. Tubuh kakek terguncang hebat, ia meronta-ronta. Sedangkan bapak tidak memberi ruang agar kakek bisa bernafas. Lalu seketika semuanya menjadi senyap. Bisa kulihat bapak dan ibu menghela nafas lega. kemudian bapak mengangkat bantal dari wajah kakek.

“Ibu,” panggil ku polos.

Bapak dan ibu menoleh ke arahku, mereka menghampiriku dan kami meninggalkan kakek di kamarnya. Subuh itu ibu menidurkanku dengan menyanyikan lagu Twinkle-twinkle Little Star, sedangkan bapak berbaring di lantai kamarku menatap langit-langit. Beberapa bulan setelah kejadian itu bapak mengajukan pensiun. Keadaan mulai membaik ketika kami melakukan perjalanan keluar kota untuk pertama kalinya.

“Sayang, ambilkan ibu kain di bagasi mobil,” ucap ibu membuyarkan lamunanku.

Aku keluar dari mobil membuka bagasi belakang. Bapak dan mas bro berjalan santai ke pinggir danau. Sambil membawa kain aku menghampiri ibu yang berdiri di bawah pohon akasia. Ibu menghampar kain tadi, kemudian duduk di atasnya.

Aku kembali ke mobil mengambil kamera.Saat aku ingin kembali pada ibu, bapak sudah menodongkan Revolver kepada mas bro. Wajah mas bro pucat ketakutan, ia mengangkat tangannya pertanda menyerah. Ibu tersenyum kegirangan sembari melepas kancing baju.

Bapak menyuruh mas bro untuk melepas pakaian, kemudian menyuruhnya berbaring di sebelah ibu. Bapak memanggilku sambil berucap. “Karena hari ini hari ulang tahunmu, kali ini kamu yang mengambil foto.”

Aku mulai mengarahkan kamera pada ibu dan mas bro. Bapak menyuruh mereka melakukan adegan mesra. Ibu tersenyum, ia menikmatinya, sedangkan bapak tertawa puas. Beberapa jepretan tidak membuat aku merasa senang. Aku ingin menggunakan pisau lipat, aku ingin menusuk mas bro, mengorok lehernya hingga mati.

Bapak memarahiku karena berhenti memotret. Aku jadi kesal, lalu melemparkan kamera kepadanya, kemudian merogoh kantong celanaku dan mengeluarkan pisau lipat. Tanpa sempat dihalangi oleh siapa pun, aku menghujamkan pisau tepat di punggung mas bro. Suara raungan mas bro membuat burung-burung yang bertengger di pohon akasia terbang beramai-ramai.

Aku menusuknya beberapa kali, darah muncrat kemana-mana. Ibu berteriak ngeri sedangkan bapak dengan sigap berusaha menghentikanku. Saat ia memegangku, Revolver-nya terlepas. Aku meronta ingin melepaskan diri.

Mas bro terhuyung bangkit dan setengah berlari ke arah mobil.

“Hentikan dia!” teriak bapak pada ibu.

Dorrrrrrr ….. dilanjutkan suara kaca pecah di detik selanjutnya. Ibu menembak mas bro tepat di kepala. menembus hingga memecahkan kaca bagian samping mobil. Gema suara tembakan sudah menghilang di telan udara. Bapak melepaskanku, ia terlihat kesal mendekati mobilnya.

“Kau memecahkan kaca mobilku bodoh,” teriak bapak pada ibu.

Ibu tidak membalas. Ia mendekatiku, lalu menyapu noda darah di tanganku dengan kain. Aku duduk di atas dedaunan kering masih menggenggam pisau lipat dengan tangan gemetar.

Bapak menyeret mayat mas bro ke pinggir danau. Kemudian memanggilku dengan nada kesal agar aku membantunya melempar mayat tadi. Aku masih gemetar, namun aku tidak ingin terlihat demikian di hadapan bapak. Aku mencoba menenangkan diri, pergi mendekati bapak sambil memasukkan pisau lipat kembali kedalam saku.

Saat kami melemparkan mayat mas bro ke danau, ibu kembali mengenakan pakaiannya. Sembari  memandangi mayat mas bro yang perlahan tenggelam, bapak memegang pundakku, kemudian mengusap kepalaku. Sebelumnya bapak tidak pernah melakukan hal itu kepadaku, itu semacam usapan kasih sayang yang aku inginkan selama ini. Dalam waktu singkat itu, aku merasa sangat lega. Bagiku itu adalah kali pertama bapak benar-benar tulus menyayangiku.

Di sepanjang perjalan pulang tidak ada yang bicara. Bahkan bapak tidak memutar musik seperti biasanya. Sore itu juga sesampai di rumah bapak dan aku mencuci mobil. Ia masih terlihat kesal prihal kaca mobilnya.

“Kamu selesaikan mencuci ini. Aku ingin istirahat sebentar,” ucap Bapak yang masuk ke rumah meninggalkanku.

Tak lama kemudian terdengar suara pertengkaran. Suara bapak menyumpah, suara ibu berteriak kesal. Aku sudah biasa dengan pertengkaran mereka, pikirku semuanya pasti akan membaik di esok hari. Tapi pertengkaran mereka masih berlanjut hingga aku selesai mencuci mobil. Saat aku masuk ke dalam rumah, kulihat bapak meninju wajah ibu sangat keras, sampai-sampai ibu terjungkal dan kepalanya terbentur ke ujung meja. Darah segar keluar dari kepala ibu, nafasnya satu satu. 

Bapak gusar, ia memeluk ibu sambil mengucapkan kata maaf beberapa kali. Ibu meninggal seketika, di dalam pelukan bapak.

Aku merasa duniaku runtuh, aku tak tahu harus berbuat apa. Pikiranku kalut, lalu samar terdengar sebuah bisikan diruang otakku. Bapak telah membunuh ibu,ia sudah lama ingin membunuh ibu, mungkin dia juga akan membunuhku. Kemarahan berkobar di dadaku, membuat aku sangat kesal, semua hal buruk yang pernah dilakukan bapak kepada ibu mengulang bagaikan video hitam putih yang menghinpnotisku.

Aku mengeluarkan pisau lipat, menusuk bapak membabibuta. aku terus melakukannya, sekuat yang aku bisa. Darah muncrat, ketanganku, kebajuku, bahkan kemukaku. Aku puas, aku menikmatinya, hingga aku teringat elusan tangan bapak siang tadi di pinggir danau, elusan tangan kasarnya ke kepalaku. Ia sangat menyayangiku!

Aku berhenti menghujamkan pisau lipat, aku terduduk, menangis dihadapan bapak dan ibu yang tak bernyawa bermandikan darah.

Waktu aku SD guru agamaku pernah bilang. “Setiap kali kamu menyadari tentang dosa yang pernah kamu perbuat, maka cobalah berdoa lalu meminta Tuhan mengampuni dosamu, sebab Tuhan maha pengampun.” Hari ini, di tengah jalan yang sepi, berlatar belakang langit senja, aku coba melakukan hal itu. Dengan langkah pelan dan perasaan bersalah, aku meminta pengampunan dosa kepada Tuhan. Walau dari lubuk hatiku yang terdalam, aku ingin mengulangi apa yang pernah dilakukan oleh kedua orang tuaku. Bagiku hanya itu warisan yang mereka berikan kepadaku. Warisan yang membuat aku selalu terhubung dengan kenangan bersama mereka.

Sebuah mobil terlihat di kejauhan, aku berhenti melangkah, lalu melambaikan tangan. Mobil tadi berhenti, seorang lelaki seumuran bapak menjenguk keluar.

“Bolehkah saya menumpang mas bro?” tanyaku tersenyum.[]

NB : Versi audio cerpen ini bisa kalian dengarkan di sini: Setan Dalam Diriku Audio

Pencinta film yang suka menulis dan menggambar. Karya ilustrasinya bisa kalian temukan di instagram @loganuesjr
Posts created 28

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top