Hantu Panjang Dan Tragedi Pohon Pisang

“Jangan berbaring di tanah, nanti dilangkahi Hantu Panjang!” Aku selalu ingat teguran ibu temanku pada kami saat kami sedang bermain di halaman depan rumahnya.

Sampai hari ini Hantu Panjang masih menjadi pertanyaan yang cukup mengganjal di kepalaku. Setelah sering berpindah-pindah tempat tinggal dan mendengarkan kisah hantu dari orang-orang yang aku jumpai, tak pernah satu orang pun yang membicarakan Hantu Panjang. Berbeda halnya dengan Kuyang yang di setiap daerah bahkan punya banyak versi ceritanya.

Hantu Panjang di kampungku itu bukan hantu yang punya kepala panjang, atau lidah yang panjang. Kata panjang di sini lebih mengarah kepada tinggi badan. Jadi katanya Hantu Panjang itu punya badan yang tinggi, ketinggiannya bisa mencapai tinggi pohon kelapa. Dengan perawakan setinggi itu, jika dipikir secara nalar, bagaimana mungkin Hantu Panjang bisa menyembunyikan diri. Namun perihal gaib memang tidak pernah bisa dijelaskan, apalagi oleh aku yang tidak terlalu percaya dengan hal semacam itu walau aku juga penakut!

Di kalangan anak-anak di kampungku, kami suka membuat musim-musim permainan, contohnya;  sedang musim kelereng, maka semua anak akan bermain kelereng, tak cukup lama musim kelereng akan digantikan oleh musim permainan lain; musim kasti, musim batu lele, musim cinaboy, musim caping, musim asen naga, musim loncat tali, musim tali rotan, musim wayang, musim lepo, musim gasing, musim ajakan, musim pukungan dan banyak lagi jenis musim permainan lainnya.

Uniknya di setiap musim permainan itu, jenis hantu yang dibicarakan juga berbeda. Contoh jika musim pukungan (petakumpet) maka hantu yang dibicarakan adalah Hantu Belau (perihal Hantu Belau bisa dibaca di sini). Atau musim kelereng, yang dibicarakan adalah Hantu Bota. Setiap musim permainan seringkali mewakili jenis hantu yang akan dibicarakan, atau lebih tepatnya menurutku dijadikan akal-akalan orang tua untuk menakut-nakuti anak-anak mereka agar tidak bermain terlalu larut sehingga mengabaikan makan dan tidur siang.

Kisah Hantu Panjang biasanya mulai muncul ketika anak-anak sedang musim bermain loncat tali. Ini cukup masuk akal karena permainan loncat tali bisa menyebabkan anak-anak terjatuh dan terbaring di tanah, baju menjadi kotor dan orang tua pasti kesal saat mencuci baju. Oleh sebab itu kalimat “Jangan berbaring di tanah , nanti dilangkahi Hantu Panjang” adalah kalimat lain dari ; jangan sampai terjatuh nanti bajumu kotor, ibu capek cucian!

Namun di kalangan anak-anak, kisah hantu suka sekali dibesar-besarkan. Seperti yang pernah saya ceritakan di tulisan lainnya, kalau setiap anak sangat suka mengarang kisah hantu yang mereka dengar menjadi berlebihan sehingga jadi mitos tersendiri di kalangan mereka.

Padahal tidak ada penjelasan tentang; apa yang terjadi jika dilangkahi Hantu Panjang. Namun karena cerita Hantu Panjang semakin popular dan anak-anak semakin berhati-hati bermain loncat tali, tentu beberapa rumor baru akan bermunculan; seperti, jika dilangkahi oleh Hantu Panjang maka badan akan gatal-gatal. Ada juga yang bilang kalau dilangkahi hantu panjang akan terkena sial selama seminggu.

Rumor-rumor yang tersebar bukan tanpa bukti, semua itu sering juga muncul karena sebuah kebetulan. Ada anak yang saat main loncat tali terjatuh lalu badannya jadi gatal-gatal dan merah-merah. Padahal mungkin saja terkenal binatang seperti ulat bulu atau hal lain yang membuat alergi. Ada juga yang mengalami sial setelah terjatuh bermain loncat tali, sialnya itu sampai di jauhi oleh anak-anak lain takut tertular sial. Lucunya semakin rumor itu mengerikan, intensitas bermain loncat tali akan berkurang, dan itu pertanda bahwa musim permainan loncat tali akan segera berakhir.

Setelah cukup dewasa, dan mulai memahami pola bagaimana kisah hantu di kampungku itu hidup serta berkembang, Aku mencoba untuk tidak mempercayai semua kisah yang berhubungan dengan hal gaib. Tapi mau sekeras apa pun aku bersikukuh semua itu tidak benar, cerita hantu akan selalu hidup di lingkungan orang-orang kampung. Waktu aku kelas 3 SMP—hari-hari terakhir aku di kampung, karena masa SMA aku pindah ke kota—ada satu kejadian yang berhubungan dengan Hantu Panjang. Jika harus diberi judul, kejadian itu aku sebut sebagai “Tragedi Pohon Pisang”

 Pada malam hari sebelum Tragedi Pohon Pisang jadi buah bibir, hujan berhias angin kencang menggila tanpa ampun. Seperti kebiasaan di kampungku, PLN akan melakukan pemadaman listrik untuk menghindari konsleting. Sebab di bagian jalan hutan sering ada pohon tumbang dan menimpa kabel tiang listrik yang mengarah ke kampung kecil di sebelah kampungku. 

Hujan lebat, angin kencang, dan listrik padam, semacam runtutan kejadian yang sangat mendukung akan terjadi hal yang menyeramkan. Di tengah semua kebetulan malam itu, rupa-rupanya di belakang rumah temanku yang mengarah ke hutan, sedang terjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Sebelum aku menceritakan kisah yang aku dengar dari orang-orang dan apa yang aku lihat langsung, aku akan menjelaskan apa saja yang ada di belakang rumah temanku itu;

Jadi, belakang rumah temanku itu menghadap ke arah hutan. Di antara rumah dan hutan terdapat kebun pisang bapaknya. Di sisi bagian kiri kebun terdapat sumur tua yang sudah di tutup. Dulu kami sering bermain di kebun pisang itu untuk mengambil batang dan daun pisang yang digunakan untuk membuat rumah pondok dan kuda-kudaan. Bapak temanku sering menasehati kami jangan bermain dekat sumur, takut ada yang terjatuh ke dalamnya. Di sebelah kanan kebun pisang ada kandang sapi, ada 3 ekor sapi, salah satu sapi sedang hamil.

Apa pun yang terjadi malam itu di tengah hujan dan angin kencang, sulit untuk dibayangkan. Menurut orang-orang ada makhluk besar bergerak di sana, mungkin berlari ke arah hutan. Hal ini disimpulkan karena semua pohon pisang miring ke arah berlawanan. Pohon pisang yang ada di sebelah kiri miring ke kiri dan yang ada di kanan miring ke kanan, seperti ada makhluk besar lewat dan menabrak pohon-pohon pisang itu, namun sama sekali tidak ada jejak kaki, padahal tanah cukup berlumpur karena hujan. Yang paling mengerikan adalah apa yang ada di dalam sumur tua. Papan sumur tua hancur, dan di dalamnya terdapat anak sapi yang mati. Seperti dilempar atau terjatuh dari atas. Dan anak sapi itu ternyata adalah anak sapi dari sapi hamil yang ada di dalam kandang.

Banyak orang bilang itu semua ulah Hantu Panjang. Dan aku coba membuat semua itu rasional dengan berpikir; mungkin saja angin yang terlalu kencang menyebabkan pohon pisang miring. Sedangkan soal anak sapi, mungkin malam itu sapi sedang melahirkan, setelah dilahirkan anak sapi cukup panik dengan hujan dan angin kencang. Sapi hanya butuh sedikit waktu setelah dilahirkan untuk bisa berjalan. Saat dilahirkan mungkin anak sapi terjatuh dari kandang karena celah pagar kandang muat untuk ukuran tubuh anak sapi. Anak sapi yang panik berjalan tak tentu arah sampai mencapai sumur tua dan terjatuh ke dalamnya.

Namun penjelasan seperti itu terlalu bertele-tele bagi orang di kampungku. Dan penjelasan soal Hantu Panjang jauh lebih sederhana dan tak bisa di bantah. Aku yakin kalian semua pasti setuju; jika terjadi suatu kejadian yang sulit di logikakan, penjelasan paling sederhana tapi cepat dipercaya orang-orang adalah kejadian gaib atau supranatural!

Pencinta film yang suka menulis dan menggambar. Karya ilustrasinya bisa kalian temukan di instagram @loganuesjr
Posts created 28

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top