Spider-Man: No Way Home – Please, Scooby-Doo This Crap!!

Keberhasilan Jon Watts di dua film Spider-Man; “Homecoming (2017)” dan “Far From Home (2019)” tentu membuat namanya bertahan di bangku sutradara. Tidak ada keraguan di benak saya jika akhirnya ia kembali menyutradarai film terbaru Spider-Man ini. Tapi apakah dia bisa membawa nuansa menyenangkan yang ada di film sebelumnya ke seri Spider-Man terbaru yang bertajuk “No Way Home”? Berikut ulasannya…

Skenario “No Way Home”  masih diracik oleh Chris Mckenna dan Erik Sommers seperti pada “Far From Home”, Ini wajar saja selain penulisan kedua orang ini memang bagus, kisah “No Way Home” mengambil waktu cerita segera setelah “Far From Home” usai. Saat menonton pun saya jadi merasa “Far From Home” dan “No Way Home” bisa menjadi satu film yang utuh karena tidak benar-benar memiliki sekat atau event apa pun di tengah-tengahnya. Maka saran saya ada baiknya, jika kalian ingin menonton “No Way Home”, kalian menonton ”Far From Home” lagi terlebih dahulu.

Ada banyak hal mengejutkan yang hadir di “No Way Home” dan itu tentu saja dalam hal yang positif. Sudah menjadi kebiasaan di film MCU beberapa karakter dari film lainnya dimunculkan atau sekadar menjadi konfirmasi bahwa selanjutnya akan ada superhero baru yang bergabung dalam sinematik MCU. Tidak ada yang menyangka kejutan pertama muncul begitu cepat , dan itu berhasil memberikan euforia besar kepada penonton baik itu berupa tepuk tangan atau juga teriakan gembira.

Jika kejutan pertama adalah sesuatu yang tidak terduga, maka kejutan selanjutnya adalah mimpi yang dijadikan kenyataan. Menyenangkan ketika sebuah kejutan adalah bagian lengkap dari plot cerita yang tentu saja akan membuat para penonton bernostalgia pada banyak hal mengenai Spider-Man di masa lalu. Bahkan adegan-adegan memorable sekali pun muncul kembali dan mampu memberikan rasa haru yang tepat. Tidak heran jika akhirnya banyak asumsi bermunculan tentang kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi di masa mendatang tentang akan dibawa kemana kisah Spider-Man berikutnya.

Secara visual, CGI, dan adegan aksi, “No Way Home” memiliki semua hal yang film superhero butuhkan. Sinematografi yang terlihat indah tanpa menghilangkan kesan muda, aksi pertarungan dengan gerakan melambat yang berhasil menangkap koreo-koreo luar biasa. Dan tidak ketinggalan juga serangkaian kostum yang super keren.

“No Way Home” mencoba membawa banyak pesan bagus tanpa menjadikannya film serius yang lupa akan kegembiraan. Saya ingin menyebut “No Way Home” sebagai proses pendewasaan diri Peter Parker (Tom Holland). Perkembangan karakter Peter di film ini bekerja dengan baik. Sejak kemunculan Peter dalam film “Homecoming” saya selalu berasumsi bahwa sosok Peter terlalu dibayang-bayangi oleh karakter Tony Stark, sampai-sampai saya merasa ia seperti cetakan karakter Tony Stark dalam versi yang lebih ceroboh. Bersyukur akhirnya “No Way Home” membawa karakter Peter pada sesuatu yang lebih dewasa, karena seperti anak muda pada umumnya, menjadi dewasa itu adalah takdir.

Benedict Cumberbatch stars as Doctor Strange and Tom Holland stars as Spider-Man/Peter Parker in Columbia Pictures’ SPIDER-MAN: NO WAY HOME.

Akan ada banyak karakter villain yang akan muncul di film ini. Dan bukan hal yang mudah juga membagi porsi villain agar tidak ada karakter yang terkesan hanya lewat atau tempelan belaka. Karakter villain di sini berhasil mengisi ruang-ruang mereka sendiri, bagian demi bagian yang mereka miliki berjalan dengan tepat tanpa memaksa. Sepertinya Watts tahu apa yang harus ditonjolkan, ada karakter yang sangat bekerja dalam tampilan visual, ada yang bergerak dibagian komedi, dan ada juga yang tampil gemilang dalam perwatakan yang berkelas. Bahkan keberhasilan karakter-karakter villain ini membuat penonton merasa penting untuk peduli pada perkembangan karakter mereka.

Sejak film pertama, saya selalu merasa kemistri Zendaya (pemeran MJ) dan Tom Holland tidak terlalu berhasil memenuhi ekspektasi penonton, namun saya akhirnya sangat bersyukur di “No Way Home” mereka berdua berhasil memberikan ikatan yang bersinar sehingga bobot emosional karakter mereka memiliki kinerja yang baik. Selain itu karakter Ned (Jacob Batalon) juga pada akhirnya memiliki panggung yang lebih banyak dari film sebelumnya dan itu cukup membuat penonton terhibur. Kehadiran Doctor Strange (Benedict Cumberbatch) sebagai “pemandu” Peter tampil bagus seperti biasanya. Sepercik dunia cermin yang muncul, dilakukan Watts begitu indah kemudian diakhiri dengan cara yang cerdas.

Dari sekian banyak keberhasilan yang bisa dicapai film ini. “No Way Home” tentu masih memiliki kekurangan. Di babak awal film Watts masih melakukan kebiasaan mengulang tema atau poin plot. Sehingga terkadang di beberapa bagian penjelasan dituturkan secara berlebihan padahal itu bisa menjadi lebih padat. 

Musik-musik arahan Michael Giacchino patut mendapatkan apresiasi lebih, karena menurut saya, ini adalah salah satu musik terbaik dengan tema heroik dari jagat sinematik MCU yang akan membuat penonton mengenangnya atau bahkan memasukkannya ke dalam list di pemutar musik mereka.

“No Way Hom” menjadikan 2 jam 28 menit tidak terasa lama, nuansa menyenangkan yang dibawa film ini membuat penonton terus terhibur tanpa sekalipun merasa bosan. Dan yang paling penting adalah, pesan moral yang tersampaikan dengan baik sekaligus menyentuh. Saya ingin menyebut “No Way Home” sebagai hadiah natal dari MCU untuk semua penonton setia mereka.

Ada banyak dialog bagus yang bisa dijadikan renungan dari film ini. Salah satu yang saya suka adalah ketika Norman Osborn berkata “Peter, you’re struggling to have everything you want while the world tries to make you choose”. Pada akhirnya kenyataan akan mengalahkan banyak hal, namun kalah bukan berarti kita harus menyerah!

Sumber gambar : IMDb

Pencinta film yang suka menulis dan menggambar. Karya ilustrasinya bisa kalian temukan di instagram @loganuesjr
Posts created 28

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top