Mengapa Pengajian Pop Culture?
Sebelumnya, saya tentu ingin mengapresiasi Bang Madhan (Ramadhan S. Pernyata) dan Mas Tria (Trianata Pahlevy) dari Samarinda Design Hub. Mereka telah mewujudkan acara ini menjadi kenyataan dalam kolaborasi yang sangat menyenangkan ini. Mulai dari menyediakan proyektor, tempat, desain, hingga gorengan. Saya dan Alfian benar-benar merasa sangat berterima kasih. Tulisan ini saya harap dapat dianggap sebagai pembuktian atas rasa terima kasih itu. (Alias ngerasa enggak enak juga sih, hehe).

Saya juga seharusnya menulis ini sejak lama. Tetapi saya baru menulis ini sekarang, dua minggu setelah acara terselenggarakan. Semoga tulisan ini tetap relevan.
Kembali ke pertanyaan awal; mengapa Pengajian Pop Culture?
Semua berawal dari kekesalan kami bersama akan sektarianisme di dunia sastra kita hari ini. Termasuk dan terutama di Samarinda–karena di kota inilah kami tinggal.
Anjay, ngeri amat bahasanya.
Sederhananya begini; kami kesal ketika ada sekat-sekat dalam sastra yang bahkan berujung diskriminatif. Narasinya paling sering menyasar penulis yang dianggap pop seperti Tere Liye. Pokoknya Tere Liye dan mereka yang membaca Tere Liye itu dianggap sampah.
Yang jadi masalah, diskriminasi seperti ini sering kali berasal dari ego. Ego yang merasa bahwa tulisan populer itu tulisan yang tidak nyeni. Semakin beda bacaannya, semakin keren. Ini jelas, bagi saya pribadi adalah sesat pikir.
Apakah Tere Liye tidak nyastra? Saya rasa itu hanya masalah selera. Apakah Tere Liye tidak politis dan hanya membahas yang menye-menye? Coba baca Negeri Para Bedebah. Di novel ini, Lulusan Fakultas Ekonomi UI ini membahas kebobrokan perbankan dengan membuat sebuah alegori atas Skandal BLBI di tahun 2008. Bahkan dari buku ini saya mengenal praktek pencucian uang, termasuk detail bagaimana itu dilakukan.
Benar, saya sendiri adalah seorang pengagum Tere Liye.
Berkaca dari hal diatas, diskriminasi terhadap Tere Liye jelas tidak ideologis. Tidak bisa disamakan dengan proses diskursus antara Lembaga Kebudayaan Rakyat dan Manifesto Kebudayaan di masa Orde Lama. Diskriminasi terhadap Tere Liye adalah sebuah sentimen yang berasal dari ego. Tere Liye populer, maka ia tidak nyastra. Tere Liye populer, maka ia tidak politis. Pandangan yang tentu sangatlah bias.
Kemudian tercetuslah ide mengenai pengajian ini. Ide awalnya sendiri bernama Pengajian Buku dan Komik. Harapannya, mereka yang membaca Pramoedya Ananta Toer, Tere Liye, hingga pembaca Naruto atau komik Marvel sekalipun dapat berkumpul bersama. Tidak ada yang paling-paling, dan komik juga bagian dari sebuah bacaan yang dapat dibahas secara serius. Di Inggris saja, seorang anarko membuat komik, kok.
Bang Madhan kemudian memberikan masukan tambahan. Menurutnya, akan lebih seru jika pembahasan ini lebih luas dari buku dan komik. Ia juga menyarankan sebuah model yang menarik; setiap orang membuat presentasi yang akan dijelaskan ke depan secara bergantian. Konsep itu, sebutnya ia temukan dalam salah satu mata kuliahnya dulu. Singkat cerita, terwujudlah Pengajian Pop Culture ini. Chairil Anwar, Batman, film horror Indonesia 80-an, hingga iklan pembasuh wajah menjadi pembahasan dalam pengajian ini. Semua dibahas secara santai tapi mendalam.

Itu yang pertama–menolak sektarianisme.
Yang kedua seperti judul di atas; menolak sekte.
Komunitas-komunitas di Samarinda menunjukkan perkembangan yang menarik. Wadah-wadah baru mulai diciptakan. Sastra, film, stand up comedy, teater, musik hingga aktivisme semua ada. Begitu pula ruang-ruang diskusi.
Namun ada yang mengkhawatirkan mengenai yang terakhir. Ruang-ruang diskusi yang ada, kadang justru melahirkan echo chamber. Setiap orang berkumpul hanya dengan yang setuju dengan mereka. Apa bedanya ruang diskusi seperti ini dengan berbicara dengan cermin?
Tentu saja, saya dapat dikoreksi jika saya salah.
Yang lebih mengerikan lagi ketika ruang-ruang itu terpusat pada satu individu. Menuju Rubanah mungkin dapat menjadi contoh. Setiap diskusi, Dikablek lah pemantiknya. Saya kadang bertanya-tanya, apakah orang ini ingin membuat sekte dengan dirinya sebagai ‘nabi palsu’nya?
Maka di Pengajian Pop Culture ini, model seperti itu ditolak. Bang Madhan mengutip Cak Nun, bahwa di ruang ini semua bisa jadi murid dan semua bisa jadi guru. Kuotanya memang terbatas oleh waktu, tapi setiap orang dapat bicara. Semua punya hak untuk bicara selama punya sesuatu untuk dibicarakan. Seminggu sebelum acara, kami membuka formulir yang dapat diisi oleh semua orang.
Hasilnya pun cukup memenuhi harapan. Berbagai orang dengan latar belakang yang berbeda hadir dan melakukan presentasi. Begitu pula mereka yang hadir menonton. Ada aktivis, ilustrator, sastrawan, hingga wartawan. Seorang dosen dan mahasiswanya bahkan berdiri bergantian di depan dengan posisi yang setara. Mahasiswa itu adalah Dikablek sendiri, dan dosennya dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman yang biasa disapa Pak Indra. Di ruang ini, Dikablek menanggalkan ‘kenabiannya’ dan Pak Indra melepaskan ‘kedosenannya’.

Acara ini tentu tidak berjalan dengan sempurna. Berbagai evaluasi mungkin perlu dilakukan. Sesi diskusi yang interaktif, kuota pembicara yang mungkin perlu dibatasi. Semua itu akan menjadi masukan yang akan dibicarakan bersama. Tapi, setidaknya buat saya pribadi, acara kemarin berlangsung menyenangkan hingga akhir.
Sampai jumpa di Pengajian Pop Culture jilid selanjutnya, yang semoga akan ada lagi. Dengan pembicara-pembicara yang berbeda, tentunya.
