No More Prophets, No More Heroes: Fidel Castro dan Penokohan

They’ll turn everything to nothing to make you believe

That everything is under control and there’s nothing to see

No more lessons, please, take me back to zero.


Pada tahun 1972, ketika kekuasaan Orde Baru mulai berlangsung usai runtuhnya pemerintahan Soekarno (yang disebut sebagai Orde Lama), seseorang bernama Sawito berkoar-koar ke publik bahwa ia mendapatkan wangsit usai melakukan meditasi di sekitar Gunung Muria. Wangsit itu menyatakan bahwa dirinya akan menjadi presiden.

Absurd? Akan saya paparkan hal yang terdengar lebih tidak waras; banyak orang-orang yang kemudian mengamininya. Orang-orang ini bukan orang-orang sembarangan, melainkan tokoh-tokoh publik yang sangat dihormati rakyat; mulai dari Buya Hamka hingga Mohammad Hatta. Nama yang terakhir bahkan hingga menandatangani petisi dalam rangka mendukung Sawito.

Sawito pun akhirnya ditangkap oleh rezim Orde Baru saat itu dengan tuduhan makar. Hatta pun di kemudian hari menyadari bahwa dirinya telah khilaf dan tertipu.


Sebuah keadaan ekonomi, sosial, dan politik yang memuakkan akhirnya akan membuat orang beralih pada solusi-solusi alternatif.

Itu yang saya rasa membuat orang seperti Sawito mendapatkan panggung. Itu juga mengapa Hitler, seorang fasis, mampu membuat rakyat Jerman patuh pada ideologi Nazi yang dibawanya yang menganggap bahwa bangsanya adalah bangsa yang superior, dan bangsa lain seperti bangsa Yahudi merupakan bangsa yang lebih lemah dari mereka dan kemudian memburu bangsa tersebut bersamaan dengan usahanya melakukan ekspansi.

Orang banyak lupa atau bahkan tidak tahu bahwa ideologi yang memuat nasionalisme sempit dan juga pseudo-science itu tidak lahir dari ruang kosong. Pasca Perang Dunia Pertama, ekonomi Jerman mengalami inflasi yang cukup parah; 6 juta orang Jerman menjadi pengangguran, dan bahkan uang 200 milyar hanya dapat membeli sepotong roti, membuat banyak uang berhamburan di jalan saking tidak ada nilainya.

Di saat itulah Hitler hadir dengan solusi-solusi pembangunan ekonominya. Bagaikan seorang Messiah yang telah menyelamatkan Jerman dari kehancuran, apapun yang diucapkannya, sebodoh dan seaneh apapun itu, kemudian dituruti oleh banyak orang.

Yang sangat berbahaya adalah ketika keadaan tertindas justru melahirkan nabi-nabi palsu yang kemudian justru dapat memunculkan penindas baru.

Hal itu pula yang saya rasa membuat revolusi sosialisme di beberapa negara gagal; Uni Soviet gagal karena keberadaan Stalin, Korea Utara gagal karena keberadaan Kim Jong-Un, Tiongkok (yang kemudian menjadi negara kapitalis di kemudian hari) gagal karena Mao.

Itu yang kemudian menjadi kritikan saya terhadap tulisan Umam; benar bahwa sebuah gerakan jelas butuh penggerak (pun juga pemikir). Tetapi ketika ia berbicara tokoh atau penokohan ia sepertinya tidak bisa membedakan antara penokohan dan pengkultusan individu; itu juga menunjukkan kegagalannya memahami artikel Ciel Phantomive.

Maka dari itu, sekaligus untuk membantah argumen orang-orang yang menganggap bahwa sosialisme telah gagal, mari kita melihat kepada Fidel Castro dan Revolusi Kuba.

Berbeda dengan Stalin yang menghabisi lawan politiknya, Mao yang berusaha menghapus sejarah, dan Kim Jong-Un yang membuat patung besar untuk dirinya dan keluarganya, Fidel Castro, seorang tokoh revolusioner yang kerap disebut sebagai El Comandante menolak gaya-gaya pengkultusan semacam itu.

Dalam sebuah wawancara bersama wartawan Prancis-Spanyol Ignacio Ramonet, ia bahkan pernah berkata bahwa ia ‘bermusuhan dengan apapun yang menyerupai kultus individu.’

Itu prinsip yang ia bawa sampai akhir hidupnya, dimana dalam wasiatnya kepada Raul Castro jelang kematiannya ia bahkan meminta agar ‘ketika dia meninggal, namanya dan gambarnya tidak akan pernah digunakan untuk menamai institusi, plaza, taman, arena, jalan, dan tempat-tempat publik lainnya.’

Kita kemudian melihat Kuba dengan pendidikan dan kesehatan yang gratis bagi seluruh warganya, sebagai salah satu negara yang berhasil menghadapi pandemi Covid-19, bahkan menyebarkan dokter-dokternya untuk membantu banyak negara lain. Sebuah negara sosialis yang juga menjamin kebebasan beragama—dan Fidel Castro yang menolak pengkultusan, menjadi salah satu tokoh revolusioner yang dikenang sampai sekarang.


Ada satu hal yang belum saya kritisi dari Soe Hok-gie dalam tulisan saya di Kaltim Post, sekitar sebulan yang lalu.

Hal itu adalah sindrom kepahlawanan yang terlihat bukan hanya dari bagaimana ia merasa mahasiswa sebagai agent of change dan memisahkan mahasiswa dari masyarakat, tapi juga bagaimana ia kerap kali mendefinisikan diri sebagai seorang ‘koboi’.

Ini berbahaya karena merasa diri sebagai seorang pahlawan akan mengaburkan masalah sebenarnya dari penindasan dimana semua orang, termasuk mereka yang mengorganisir sekali pun sebenarnya terkena dampaknya.

Maka izinkan saya mengutip lirik dari Lesson Zero, yang ditulis oleh Tablo, seorang musisi Korea Selatan favorit saya, yang sebagian sempat saya kutip di atas;

No more prophets, no more heroes.

Patronase dengan watak feodal yang anti-kritik hanya akan melahirkan pengkultusan individu. Tidak boleh ada lagi nabi-nabi palsu, tidak boleh ada lagi pahlawan-pahlawan kesiangan.

Karena seperti kata Agus Noor dalam Matinya Seorang Demonstran; pahlawan hanyalah pecundang beruntung yang namanya dijadikan nama jalan.

Maka sekali lagi; la historia me absolverá—biarkan waktu yang menjawab.

Posts created 32

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top