Kehilangan sandal di masjid jelas sudah menjadi hal yang umum—setidaknya di Indonesia. Karena itulah, orang-orang sering berkata agar tidak membawa sandal yang terlalu bagus ke masjid.
Temanku yang baru saja menjadi mualaf beberapa bulan yang lalu, bahkan mengatakan bahwa itu adalah salah satu hal yang baru ia ketahui.
Temanku yang lain lagi, mempunyai trik unik untuk mengatasi hal ini. Ia akan menaruh sandalnya di satu tempat, kemudian sebelahnya lagi di tempat yang lain.
Beberapa hari yang lalu, saat melaksanakan salat Jum’at di masjid dekat rumahku, dia kehilangan sebelah sandalnya.
Yah, kurasa itu memang salahnya sendiri.
Tapi yang mengherankan adalah, selama beberapa hari, bahkan sekitar hampir beberapa minggu setelah itu, banyak tetanggaku yang juga kehilangan sandal saat salat di masjid—dan hanya sebelahnya saja. Tetanggaku tentu bukan orang-orang yang mempunyai kebiasaan aneh seperti temanku itu.
Dan tadi, sehabis salat Maghrib, aku juga mengalami hal yang sama, sandalku hilang sebelah.
***
“Sebelah? Apanya yang sebelah?”
“Kebiasaan deh, kalau aku bicara pasti nggak didengarkan baik-baik”, Lala mencubit bahuku. “Jadi, aku kan bawa tas punggung sama koper..”
“Iya, terus?”
“Nah, koperku itu kutungguin nggak muncul-muncul, dan kayaknya memang ada di pesawat selanjutnya,”
“Lho, terus kenapa tadi nggak bilang?” Jawabku heran sambil fokus menyetir. Cubitan Lala tadi sempat agak menggangguku.
“Sudah, nanti gampang aku urus sendiri. Penerbangan ini bisa diantarkan kopernya ke alamat rumah, kok. Aku masih menyimpan nomor bagasinya.”
“Baru tahu ada yang bisa diantar gitu,” timpalku. “Yah, terserahmu, lah.”
“Anyway, jadi yang lucu adalah, dua pasang sepatuku itu, karena terlalu penuh, jadi kupisahkan. Satunya di koper, satunya lagi di tas yang lagi kupakai ini.”
Aku diam tidak menanggapi.
“Lucu banget nggak sih, kalau misalnya koperku ternyata beneran hilang,” dia menahan tawa sambil menutup mulutnya. “Terus sepatuku sisa sebelah doang dong. Kocak saja membayangkannya, mana itu sepatu baru lagi, belum pernah kupakai.”
Aku nyengir, memperlihatkan sedikit gigiku.
“Kamu tuh ya..” Aku memberhentikan mobil sebentar, menjaga jarak dari mobil di depanku karena sedang berada di lampu merah. Kemudian aku menoleh ke kiri, menatap Lala. “Kebiasaan deh, masalah seperti ini malah dicari lucunya.”
Dia tertawa kecil.
“Ingat nggak, saban hari kamu terkunci di toilet umum hampir satu jam? Aku sampai repot banget meminta bantuan orang, ketika sudah dibuka kamu malah keluar sambil ketawa.”
“Well, ya gimana,” kata dia sambil masih sesekali tertawa, “Memang kocak, kok.”
Lampu merah berganti ke lampu hijau, aku melanjutkan menyetir mobilku.
Lala sedang liburan, sudah kurang lebih setahun dia melanjutkan kuliah di Penang, Malaysia untuk mengambil S2. Beberapa hari yang lalu dia memintaku tolong untuk menjemputnya di bandara, tanpa dia pinta pun, aku tentu bersedia.
Aku benar-benar merindukannya.
“Kota ini enggak banyak berubah, ya,” katanya sambil memandang sekeliling lewat kaca mobil.
“Kamu juga nggak banyak berubah,” kataku.
Dia tersenyum tipis.
“Masih sama saja tingkah bodohnya..”
Dia mencubit bahuku lagi. Aku tertawa.
“Eh, aku lagi nyetir lho!”
***
“Kalau aku punya anak nanti,” katanya di tengah keriuhan kafe. “Aku nggak mau mendongengkan anakku dongeng Cinderella dan dongeng-dongeng sejenisnya.”
“Kenapa?” Tanyaku sambil menyeruput coklat hangat pesananku yang baru saja datang.
“Entahlah, aku nggak begitu menyukai cerita dimana perempuan begitu terlihat lemah dan butuh pertolongan laki-laki seperti itu,” katanya sambal mengaduk-ngaduk kopinya.
“Jika anakku perempuan, aku nggak ingin dia menjadi orang yang terlalu bergantung kepada laki-laki, yang seolah-olah menantikan kedatangan seorang pangeran penolong. Dan jika anakku laki-laki, aku nggak mau dia memandang perempuan seolah-olah perempuan adalah makhluk yang lemah dan selalu butuh pertolongan.”
“Hee..” Tanggapku. “Begitu saja kok dipikirkan, sih.”
“Dan satu lagi,” lanjutnya tanpa menghiraukan tanggapanku. “Cerita-cerita seperti itu seolah-olah menggambarkan bahwa hidup bahagia selamanya, atau happily ever after itu hidup bahagia dengan kemewahan di istana. Terlalu sempit saja, gitu, penggambaran kebahagiaannya.”
“Iya juga sih..”
“Aku bahkan yakin, setelah Cinderella menikah dengan pangeran itu, mereka nggak selalu bahagia. Pasti ada saja berantemnya, gara-gara Cinderella tidurnya ngorok, misalnya.”
Aku tertawa. “Tadinya kukira kamu nggak suka Cinderella tuh, karena sepatunya sama-sama hilang sebelah.”
“Sialan.”
“Eh, kalo Cinderella mah, beda deh ya, dia mah sepatunya yang hilang sebelah sepatu kaca, bukan sepatu kets. Terus hilangnya bukan karena terselip di koper.”
“Kucolok pakai garpu ya, kamu.”
Aku tertawa lagi.
“Koperku sudah kembali kok, kemarin,” katanya. “Jadi ejekanmu nggak relevan, wek.”
“Lah, lagipula yang kemarin cerita sambil tertawa-tawa di mobil juga kamu, sih.”
Kue pancake pesanan Lala sudah datang, dia berterima kasih kepada pelayan yang mengantarkan pesanannya—dia tidak pernah lupa untuk menggunakan kata tolong dan terima kasih dalam kesehariannya.
“Oiya, lanjut soal yang tadi,” katanya sambil memotong kue pancake miliknya dengan pisau dan garpu. “Aku tuh rasanya ingin, membuat cerita alternatifnya Putri Salju atau Sleeping Beauty. Di ceritaku, mereka akan menjadi orang yang buruk rupa, pasti enggak ada tuh ending hidup bahagia selamanya, yang ada, dia malah tertidur sampai mati karena nggak ada pangeran yang sudi menciumnya.”
Aku tertawa sampai tersedak—Lala memang mempunyai selera humor yang unik.
***
Satu hal yang kusukai dari Lala adalah, dia jarang, bahkan hampir tidak pernah membicarakan dirinya sendiri. Obrolan kami justru membicarakan banyak hal, mulai dari politik, buku, film, anime atau pandangan hidupnya yang menarik—seperti saat itu dia berbicara soal sinismenya mengenai dongeng Cinderella. Tapi dia jarang membicarakan hal yang personal.
Cerita-ceritanya saat kembali dari Malaysia selalu menarik, dia tidak bercerita soal homesick, atau masalah dengan teman asramanya, dia justru, di satu kesempatan bercerita tentang segregasi ras di Malaysia.
“Jadi tuh ya,” katanya waktu itu. “Ras-ras di Malaysia tuh terpisah banget, dan mereka berbicara dengan bahasa-bahasanya sendiri. Orang Melayu dengan orang Melayu, orang Tionghoa dengan orang Tionghoa, orang India dengan orang India..”
Aku menyimak sambil menatap raut mukanya yang manis saat menceritakan itu.
“Bahkan, mereka tuh punya sekolah yang terpisah berdasarkan ras gitu,” dia memotong chicken fillet-nya dengan garpu, kemudian melanjutkan. “Aku sempat heran sih, karena kalau di Upin-Ipin, keberagamannya kan, terasa banget tuh. Jarjit orang India, Mei-mei orang Tionghoa, Mail orang Melayu. Tapi rupanya itu bukan gambaran dari kehidupan yang sebenarnya”
“Kenapa bisa begitu, ya?”
“Entahlah,” jawabnya. “Mungkin karena mereka tidak punya bahasa nasional pemersatu, sih. Bahasa nasional mereka kan, bahasa Melayu, bahasanya kaum mayoritas, pasti yang kaum Tionghoa sama kaum India atau Punjabi gitu nggak merasa memiliki bahasa itu. Mungkin itu juga kenapa mereka banyak berbicara memakai bahasa Inggris.”
“Iya juga, sih.” Aku mengangguk-ngangguk. “Jadi bersyukur ya, kita punya bahasa Indonesia. Indonesia boleh Jawa-sentris, tapi tetap, bahasa nasional kita bahasa Indonesia, bukan bahasa Jawa, bahasa milik semua.”
“Yup!” Tanggapnya. “Bener banget.”
Dan banyak lagi cerita-cerita menarik darinya, yang selalu menyenangkan untuk didengar.
Saking dia tidak pernah membicarakan dirinya sendiri, aku bahkan baru tahu, bahwa ada kata Nur di depan nama Lailatul Saidah-nya hari ini, saat menerima undangan pernikahannya.
Nur Lailatul Saidah dan Andi Frimawan, kubaca undangan pernikahan itu, yang menyertakan foto pre-wedding Lala bersama suaminya.
***
“Beberapa orang berbicara tentang pernikahan sesama jenis, beberapa orang berbicara tentang pernikahan beda agama,” Lala menarik napas. “Tapi tidak ada yang berbicara tentang pernikahan beda suku..”
Aku hanya diam.
“Yang lucu adalah, kamu bisa mengubah jenis kelaminmu melalui operasi, kamu bisa mengubah agamamu, tapi suku? Bahkan orang Sunda yang berbicara Bahasa Jawa tetaplah orang Sunda.”
Aku tetap diam.
“Haha, ngaco ya, aku bicara apa, sih.” Lala mengusap setitik air yang keluar dari matanya. “It just never occurred in my mind that this kind of thing would..”
Aku masih diam. Lala tidak melanjutkan perkataannya.
Hening.
“Aku minta maaf..” Kataku setelah keheningan yang panjang diantara kami.
Orangtua Lala, maupun orangtuaku—hanya ibuku, tentu saja. Karena ayahku adalah orang yang tidak kuketahui dan tidak mau kuketahui keberadaannya, telah lama mengetahui hubungan kami. Tidak pernah ada masalah, ibuku bahkan sudah menganggap Lala seperti anak sendiri.
Masalah datang justru ketika nenekku mengetahui hubungan kami.
Menjadi masalah karena aku orang Jawa dan Lala orang Sunda.
Hubungan kami yang awalnya sudah ingin kubawa ke jenjang pernikahan, ditentang habis-habisan oleh nenek yang entah mengapa masih memiliki pemikiran kesukuan seperti itu—aku bahkan tidak pernah berpikir perbedaan suku ini akan menjadi masalah.
Aku awalnya ingin memperjuangkannya, tapi melihat nenek sampai tidak ingin berbicara denganku dan sakit berminggu-minggu, sepertinya aku memang harus mengalah.
Nenek sudah membantu banyak dalam kehidupanku, dia yang menjagaku saat kecil ketika ibu sibuk bekerja karena ayah pergi entah kemana.
“Tidak apa-apa, Al.” Lala tersenyum—senyuman paling manis, juga paling pahit yang pernah kulihat darinya. “Kamu ingat, apa yang dikatakan Annelies kepada Minke di Bumi Manusia, saat mereka akhirnya harus berpisah?”
Aku hanya diam menatap matanya lamat-lamat, bibirku bergetar.
Lala mengelus tanganku diatas meja.
“Kita pernah bahagia, ingat yang itu saja.”
***
Lala cantik sekali hari ini.
Di panggung pengantin itu, aku melihatnya dari jauh—penampilannya benar-benar menakjubkan, aku tidak pernah melihatnya secantik itu.
Aku datang dengan jas yang sengaja kupesan sejak beberapa hari yang lalu, terakhir kali aku memakai jas adalah saat upacara wisudaku—dimana Lala hadir menemaniku, selama ini biasanya aku datang ke upacara pernikahan teman dengan baju batik yang warnanya sudah mulai memudar.
Lala dulu selalu mengomel kepada diriku yang tidak pernah memperhatikan penampilan. Katanya dulu, aku lebih rela mengeluarkan uangku untuk membeli buku, komik atau action figure dan pelit sekali mengeluarkannya untuk biaya pakaian.
Kurasa dia tidak menyadari keberadaanku, apalagi banyak tamu yang menyalaminya.
Aku sempat berpikir ingin naik ke panggung itu, memberi ucapan selamat kepada dia dan suaminya.
Tapi kemudian, aku memutuskan untuk pulang saja—padahal, aku baru saja sampai beberapa saat yang lalu dan biaya sewa jas ini cukup menguras dompetku.
***
“Al, kamu tahu berita kemarin?” Ucok tiba-tiba datang menghampiriku sehabis sholat Dzuhur.
“Berita apa, Cok?” Tanyaku kepada Ucok, tetanggaku yang juga merupakan teman kecilku. Nada bicaranya terdengar sangat serius.
“Kamu dari mana saja sih, kemarin?”
“Aku sehabis pergi ke undangan pernikahan teman, di luar kota,” kataku, yang kumaksud adalah pernikahan Lala.
“Oh,” tanggapnya. “Jadi, kemarin, pak Somad, ditemukan bunuh diri di rumahnya. Ramai banget, polisi sampai datang,”
“Hah?” Aku terkejut. “Pak Somad? Yang marbot masjid?”
“Iya,” jawabnya. “Sudah beberapa minggu juga dia enggak pernah terlihat di masjid, sih.”
Aku baru menyadari itu, beberapa minggu ini, pak Somad memang jarang kelihatan di masjid—itu juga sepertinya bertepatan dengan mulai hilangnya sebelah pasang sandal orang-orang di masjid ini.
“Padahal, seingatku orangnya ramah,” kataku. “Aku kadang ngobrol sama dia.”
“Iya, memang ramah kok orangnya,” Ucok menyetujui pernyataanku. “Tapi dia berubah sejak anaknya kecelakaan motor. Apalagi istrinya juga ikut nyusul koit, karena berhari-hari selalu memikirkan kepergian anaknya.”
“Jangan koit ah, nggak enak banget kedengarannya.”
“Yah, gitu deh, pokoknya.” Jawabnya sambil meringis merasa bersalah. “Makan siang dulu, yuk. Sudah lama nih, nggak ngobrol-ngobrol.”
Kami kemudian beranjak keluar dari masjid bersama-sama.
Saat keluar, mataku berkeliling mencari sandalku.
Sejak kejadian sandal orang-orang yang hilang sebelah itu, aku sendiri sudah tiga kali kehilangan. Itu tidak mengenakkan karena jadinya aku harus selalu membeli sandal baru, karena tidak ada yang menjual sandal hanya sebelahnya saja.
“Kamu tahu, di pembaringannya sebelum wafat, bapakku berpesan padaku, bahwa apapun yang akan terjadi pada hidupku, aku harus selalu yakin bahwa pada akhirnya semuanya akan baik-baik saja. Kalau belum baik-baik saja, berarti itu belum akhir.”
Aku hanya diam mendengar apa yang dikatakan Ucok di sebelahku sambil tetap mencari-cari sandalku. Jangan sampai hilang lagi.
“Tapi kejadian pak Somad membuatku berpikir,” lanjutnya. “Itu sebuah akhir yang jelas bukan baik-baik saja.”
Aku tercenung.
Mataku yang tadi berputar-putar mencari sandal menjadi diam sejenak di satu titik.
“Entahlah, Cok,” jawabku setelah hening sesaat. “Tapi aku yakin, bahwa pada suatu masa dahulu, pak Somad, beserta istri dan anaknya, setidaknya mereka tentu pernah bahagia.”
Ucok hanya diam.
Setelah mengatakan hal itu, akhirnya sandal jepitku yang berwarna hijau tua itu kutemukan juga.
Dua-duanya lengkap.
Al Ain, Oktober 2019