Sumur dan Usaha Manusia Memaknai Alam

Kadang saya menghabiskan waktu saya ke toko buku Gramedia tanpa tahu buku apa yang sebenarnya ingin saya beli, berharap bisa menemukan sebuah buku (atau komik) yang menarik, tanpa sengaja–seolah saya meminta semesta untuk mempertemukan. Hari itu pun tak jauh berbeda, meskipun dalam pikiran saya saat itu, saya ingin menemukan sebuah buku, lebih tepatnya novel, yang bisa saya selesaikan secara singkat, kalau bisa sekali duduk. 

Sejak tahun 2021 beberapa novel panjang yang saya baca tidak bisa saya selesaikan hingga akhir, terbengkalai di tengah jalan—mulai dari The Alchemist-nya Paulo Coelho hingga IQ84-nya Haruki Murakami yang sebenarnya sangat saya gemari.

Saya kemudian menemukan buku ini setelah lama berkeliling dan melihat satu-satu judul buku yang tersedia di rak. Buku ini berada di rak paling bawah, nyaris tak terlihat mata dan mungkin tidak akan saya temukan kalau saya tidak benar-benar teliti, sebuah buku tipis berjudul Sumur yang ditulis oleh Eka Kurniawan dan hanya memiliki sekitar 60 halaman. 

Saya merasa beruntung sekali saat menemukannya, saya tahu sebenarnya buku ini sempat terbit secara terbatas pada pertengahan tahun lalu, dan saya kira saya akan terlewat tanpa menyangka akan menemukannya saat sedang berkeliling di toko buku Gramedia.

Mengenai Eka Kurniawan sendiri, perkenalan pertama dengannya saat saya dipinjamkan buku Corat-Coret di Toilet oleh pasangan saya saat itu—yang sekarang sudah menjadi mantan saya. Sejak itu saya mengikuti tiap karya yang dikeluarkan oleh Eka Kurniawan, mulai dari Cantik Itu Luka yang diterbikan ulang oleh Gramedia Pustaka Utama hingga O yang ilustrasinya digambar oleh Eka Kurniawan sendiri.

 Mantan saya yang merupakan pacar pertama saya itu mempunyai banyak kemiripan dengan saya dalam selera bacaan, mulai dari Tere Liye, Eka Kurniawan, bahkan Haruki Murakami. Hubungan kami saat itu dimulai dengan harapan saya bahwa kesamaan selera baca dapat berarti kecocokan satu sama lain. Dan kemudian berakhir setelah saya (atau kami berdua) menyadari bahwa hal tersebut rupanya tidak sepenuhnya tepat.

Ah, sepertinya saya terlalu sering membahas soal mantan di tulisan saya. Haha.

Sumur menjadi karya paling realis dari Eka Kurniawan yang pernah saya baca, berbeda dengan karya-karyanya yang biasanya cenderung surealis bahkan realis magis—meskipun tetap saja ada absurditas yang mewarnai cerita ini sebagaimana gaya penulisan Eka Kurniawan pada umumnya.

Nama karakternya pun lebih normal dibandingkan biasanya, dimana cerita dalam Sumur berputar antara dua karakter utama yang bernama Toyib dan Siti. Bandingkan dengan karakter-karakter Eka Kurniawan di buku-bukunya yang lain yang cenderung nyentrik seperti Ajo Kawir di Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas.

Sumur awalnya merupakan salah satu cerpen berjudul The Well dalam buku kumpulan cerpen The Tale of Two Planets. The Tale of Two Planets sendiri berisi kumpulan cerita yang fokus isunya membahas krisis iklim dan ketidaksetaraan. Saat awalnya mengetahui itu, saya sempat mengira Sumur akan membahas isu-isu yang biasa diadvokasikan oleh aktivis lingkungan seperti penggusuran atau tambang. Namun Sumur tidak membahas hal-hal tersebut. Sebaliknya, fenomena alam yang terjadi disini adalah fenomena alam yang kesannya natural—perairan yang mengering, penduduk yang kemudian memutuskan untuk menggali sumur. Konflik yang terjadi di buku ini justru adalah bagaimana para tokoh di dalamnya memaknai fenomena alam yang terjadi. 

Mengingatkan saya pada buku After The Quake, kumpulan cerita yang ditulis oleh Haruki Murakami yang bercerita tentang orang-orang yang kehilangan setelah terjadinya gempa di Jepang. Sama seperti di Sumur, gempa di After The Quake pun adalah suatu fenomena alam yang natural, bukan sesuatu yang terjadi atas campur tangan manusia.

Cania Citta Irlanie, salah satu influencer yang saya ikuti di media sosial pernah membuat pernyataan yang kontroversial mengenai krisis iklim. Menurut dia, tidak ada yang namanya krisis iklim, tidak ada yang namanya global warming, bumi pernah membeku selama ribuan tahun, pernah dilanda kekeringan selama ribuan tahun pula, dan semua itu hanyalah fenomena alam yang terjadi secara natural. Bagaimana manusia memaknainya lah yang membuatnya terasa berbeda, atau bahkan mengerikan.

Tapi apakah salah mencoba mencari makna dari semua yang sebenarnya terjadi begitu saja?

Jawabannya mungkin dapat kita temukan dari kejadian Masjid Baiturrahman di Aceh yang menjadi satu-satunya bangunan yang tetap berdiri kokoh saat tsunami besar menerjang kota itu pada 2004; 

sebagian menganggapnya kebetulan, sebagian lagi memaknainya sebagai keajaiban. 

Posts created 32

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top