Mulai 1 Maret 2023, outlet Texas yang berada di mall Mesra Indah resmi ditutup. Tutupnya outlet tersebut menandai berakhirnya bisnis franchise atau waralaba tersebut di kota ini. Sebelumnya, outlet Texas di Samarinda Square dan mall Lembuswana telah lama angkat kaki.
Berbicara mengenai Texas, kurasa bukan hanya mengenai rasa atau bisnisnya. Namun juga kenangan orang-orang yang pernah kesana. Kurang lebih seperti ketika McDonald Sarinah di Jakarta tutup, ada ikatan historis antara agen-agen kapitalis Amerika ini terhadap kita semua. Termasuk juga saya. Lebih tepatnya keluarga besar dari bapak.
Aku mempunyai seorang paman yang tiap melihat Texas akan mengingatkan saya kepada dirinya. Kami biasa memanggilnya sebagai Tua Masykur. Dulu, ia merupakan seorang karyawan bank dengan posisi yang bisa dikatakan lumayan. Berhenti bekerja karena diserang penyakit stroke.
Sebelum diserang penyakit, ia merupakan seorang yang irit bicara. Aku tidak dapat mengingat interaksiku semasa kecil dengannya. Yang kuingat hanyalah, dia atau istrinya (yang merupakan kakak dari bapakku) biasa memberikan angpau yang cukup banyak saat lebaran.
Tua Masykur mulai berubah semenjak terkena penyakit dan mulai sering di rumah. Dari seorang pendiam, ia menjadi banyak bicara. Setiap mengunjungi rumahnya, ada berbagai cerita yang ia lontarkan. Bukan hak bagiku untuk berbicara banyak mengenai itu, anak dan istrinya mungkin lebih mengerti.
Selain mulai banyak berinteraksi, ia juga mulai banyak mengajak Sultan dan Hafiz jalan bersamanya. Sultan dan Hafiz merupakan dua sepupu kami yang masih kecil. Disupiri oleh anak tertuanya dan didampingi oleh istrinya, ia biasa mengajak mereka ke Texas. Tepatnya outlet Texas yang berada di Samarinda Square, yang kebetulan berada di dekat rumah Sultan dan Hafiz di Gunung Kelua. Sekali dua kali, aku dan saudara-saudaraku kadang ikut diajak.
Pada tahun 2020 (atau 2021?) ia pergi meninggalkan kami semua. Malam hari, dirinya tiba-tiba pingsan dan wafat ketika dibawa ke rumah sakit. Kepergiannya berdekatan dengan tutupnya outlet Texas di Samarinda Square yang bangkrut dihantam pandemi.
Makin kesini, persaingan dan kompetisi bisnis F&B di Samarinda semakin kejam. Buka satu outlet baru, tutup pula outlet yang lain.
Kadang-kadang itu menimbulkan pertanyaan kepada diriku, dimanakah tempat aku akan bernostalgia ketika tua nanti? Pertanyaan itu pertama kali terpikir ketika melihat Upnormal di Jl. Juanda yang kini juga telah tutup. Usia Upnormal memang tidak sepanjang Texas, tapi aku ingat bagaimana bersama sepupu-sepupuku, aku pernah bermain stacko disana sampai tengah malam. Sekarang, tempat itu juga tinggal kenangan. Setahun atau dua tahun dari sekarang, tempat itu mungkin akan rubuh dan diganti dengan gedung lain. Entah diganti waralaba lain atau apa, aku juga tidak tahu.
Ada beberapa usaha manusia untuk memelihara kenangan. Salah satunya adalah fotografi. Salah duanya adalah tulisan. Mungkin, melalui tulisan ini aku hanya ingin mengingat (dan mengingatkan) bahwa dulu ada Texas dan juga Upnormal. Di tempat-tempat itu, paman kami pernah mengajak keponakannya berjalan-jalan. Di tempat-tempat itu, aku dan sepupuku pernah tertawa sampai capek.
Perubahan itu pasti. Kita semua fana. Namun kenangan dan memori kolektif kita abadi