Maria sangat sedih
Menyaksikan anaknya
Mati di kayu salib tanpa celana
Dan hanya berbalutkan sobekan jubah
Yang berlumuran darah
*
Ketika tiga hari kemudian
Yesus bangkit dari mati
Pagi-pagi sekali Maria datang
Ke kubur anaknya itu, membawa
Celana yang dijahitnya sendiri
Dan meminta Yesus mencobanya
*
“Paskah?” tanya Maria.
“Pas!” jawab Yesus gembira.
Mengenakan celana buatan ibunya,
Yesus naik ke Surga.
Dua minggu yang lalu, saya berkesempatan bertemu langsung dengan penulis syair tersebut. Saat itu, saya sedang memenuhi ajakan untuk meminum kopi bersama dari seorang teman dan dosen dari salah satu universitas ternama di Kaltim. Lokasinya berada di Kedai Main-Main, sebuah kedai kopi yang dikelola oleh Basabasi.co. Sesampai disana, saya dikejutkan dengan keberadaan seorang pria tua yang membersamai mereka. Topi coklat yang dikenakannya membuat saya nyaris tidak mengenalinya.
“Wah, iki idolaku,” ucap saya secara spontan begitu melihat sosok itu dengan jelas. Ia adalah Joko Pinurbo. Ia tersenyum tipis mendengar ucapan saya.
Saya mengisi kursi kosong yang berada di sebelahnya dengan perasaan deg-degan. Hampir satu dekade saya merantau ke Yogyakarta, namun baru kali ini saya berjumpa dengan pria yang biasa disapa Jokpin tersebut. Minum kopi bersama, pula.
Tanpa menunggu lama, kami pun bercengkerama. Obrolan kami ngalir bak aliran air Sungai Mahakam dari Hulu Pelabuhan Melak hingga Muara Anggana. Tidak deras seperti Riam Hulu Mahakam, namun begitu tenang seperti ketika kita sedang menaiki perahu kecil ketinting menyusuri Tepian.
Awalnya, saya kira pembicaraan kami akan didominasi mengenai sastra Indonesia. Di luar ekspektasi, obrolan kami justru ngalor ngidul kemana-mana. Jokpin bercerita akan kegemarannya menonton sepak bola. Ia bahkan telah mengikuti perkembangan Lionel Messi sejak awal karir hingga kemenangannya di Piala Dunia akhir tahun lalu.
“Saya merasa berutang rasa kalau enggak nonton, dan kemenangannya membuat utang rasa saya terlunasi,” ujarnya. Saya tidak mengerti mengenai sepak bola. Namun, saya cukup heran dengan kesetiannya mengikuti perkembangan seorang pemain sepak bola dalam rentang waktu selama itu.
Kami juga sedikit membicarakan Paskah. Kepada Jokpin, saya bercerita bagaimana saya pernah menjadi aktor sebuah lakon yang digelar di Kapel St. R. Bellarminus, sebuah gereja kampus di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada tahun 2019.
“Tebak saya saat itu jadi apa?” Tanya saya kepadanya, berusaha menyamai kejenakaannya.
“Jadi apa?” Timpalnya.
“Jadi Yudas,” jawab saya sambil tertawa. Yudas merupakan salah seorang murid laki-laki Yesus yang berkhianat. Kala itu, kami kekurangan aktor laki-laki, terpaksa peran itu diambil oleh saya. Di depan perpustakaan Universitas Sanata Dharma, saya dilatih habis-habisan untuk dapat mengeluarkan suara berat.
Joko Pinurbo kemudian bercerita, bahwa dahulu ia juga sering berpartisipasi dalam lakon di gereja tersebut, di akhir tahun 1990an.
“Dulu saya biasa (berperan) menjadi Yesus disana,” ungkapnya. Tidak heran, batin saya. Syair Celana Ibu yang saya kutip di awal tulisan ini, tentu adalah hasil olah jiwa dan rasa selama ia berperan menjadi Yesus. Gokil.
Meski tidak banyak, kami tetap membicarakan sastra. Jokpin berkata kepada kami, bahwa ide adalah kunci dalam menulis. Ia juga melihat, bahwa ada banyak ide yang dapat digarap di Kaltim, namun masih kurang eksplorasi dan eksekusi. Apa yang diutarakan Jokpin mengingatkan saya pada proses pengumpulan karya Cermin Lain di Balik Pintu Lamin. Salah satu kurator buku kumpulan puisi tersebut sempat menyatakan, bahwa buku itu didominasi oleh tema kerusakan lingkungan. Beberapa puisi di dalamnya disebut seperti orasi.

Joko Pinurbo berpose dengan buku Cermin Lain di Balik Pintu Lamin.
Saya membayangkan, jika barangkali ada penyair di Kaltim serupa Joko Pinurbo. Tidak perlu memaksa untuk benar-benar mirip, namun menuliskan puisi dengan kata-kata yang jenaka sepertinya. Ada banyak ruang diskursus sastra di Kaltim, mulai dari Malam Puisi Samarinda, Malam Apresiasi Seni dan Sastra (Mantra), Teraksara, dan ruang-ruang lainnya. Dari simpul-simpul tersebut, saya rasa perlu lahir sebuah karya puisi yang terasa dekat—dimana penulis dan pembaca akan merasa akrab meski tidak saling bertemu.
Capek bersedih terus, kan? Oke, pas! Pas kan saja, haha.