“Pada suatu hari, hiduplah seorang raja.”
Ketika kita kecil, kita tidak perlu tahu siapa raja di cerita itu. Tidak penting bagi kita apakah dia Shiladitya atau Shaliban, apakah ia hidup di Kashi atau Kanauj. Hal yang membuat jantung seorang anak berumur tujuh tahun berdebar-debar hanyalah: “Pada suatu hari, hiduplah seorang raja.”
Tapi pembaca di dunia dewasa ini akan selalu menginginkan detail yang lebih dalam. Ketika mereka mendengar cerita yang dimulai seperti ini, mereka akan kritis dan bertanya-tanya. Mereka akan kemudian mengatakan: “Raja yang mana?”
Pencerita pun akhirnya harus lebih terperinci, “Pada suatu hari, hiduplah seorang raja bernama Ajatasatru.”
Rasa penasaran pembaca-pembaca tersebut, bagaimanapun juga, tidak semudah itu terpuaskan. Mereka akan kemudian menanyakan lagi: “Ajatasatru yang mana?”
Saat kita masih belia, kita bisa memahami sebuah cerita dongeng dengan cara kita sendiri. Kita tidak pernah peduli akan hal tidak penting seperti pengetahuan. Kita hanya peduli pada kebenaran. Dan hati kita yang sederhana tahu dimana Istana Kristal Kebenaran berada dan bagaimana menggapainya. Tapi hari ke hari kita diharapkan untuk menulis berhalaman-halaman fakta, padahal kebenarannya hanyalah sesederhana:
“Pada suatu hari, hiduplah seorang raja.”
Aku masih mengingat dengan jelas malam di Calcutta ketika cerita dongeng itu berawal. Hujan badai turun tak henti-hentinya membanjiri kota. Kedalaman banjirnya hampir mencapai lutut. Aku mendapatkan sebuah harapan yang bisa dibilang hampir sebuah kepastian — bahwa guru lesku tidak akan bisa datang malam ini. Aku duduk di bangku beranda lantai atas melihat ke bawah, dengan jantung yang berdegup kencang. Setiap menit aku menatapi hujan, dan tiap hujan terlihat mulai mereda aku berdoa dengan penuh harap: “Tolong, Tuhan, kirim hujan lagi hingga lewat jam setengah tujuh.” Karena aku percaya bahwa turunnya hujan tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk melindungi seorang bocah malang di sudut Calcutta dari guru lesnya yang galak.
Entah doaku terjawab, atau memang sudah hukum alamnya, hujan itu tidak menyerah untuk turun.
Tapi tidak pula guru lesku!
Tepat satu menit setelahnya, aku melihat payungnya dari kejauhan. Harapanku seketika sirna. Sungguh, jika ada hukuman yang paling berat setelah kematian, itu adalah guru lesku terlahir kembali sebagai aku, dan aku sebagai guru lesku.
Segera setelah aku melihat payungnya aku lari sekencang-kencangnya ke kamar ibuku. Ibu dan nenekku sedang suduk berhadap-hadapan bermain kartu di bawah cahaya lampu temaram. Aku lari ke kamarnya dan menjatuhkan diriku ke kasur di sebelah ibuku, dan berkata:
“Bu, guru les sudah datang, tapi kepalaku pusing sekali, bolehkah aku libur untuk hari ini?”
Aku harap tidak ada anak-anak dibawah umur yang diperbolehkan membaca cerita ini, dan aku pun yakin bahwa cerita ini tidak akan dipakai di buku-buku teks sekolah dasar. Karena apa yang aku lakukan waktu itu sangatlah buruk dan tidak pantas dan aku tidak menerima hukuman apa-apa. Sebaliknya, akal bulusku berjalan dengan mulus.
Ibuku berkata: “Baiklah,” kemudian berkata kepada pembantu kami: “Beritahu guru lesnya untuk pulang ke rumah.”
Setelah itu, tanpa mempertanyakan lebih lanjut mengenai sakit kepalaku, ia kembali bermain kartu. Dan aku, menutup kepalaku dengan bantal, tertawa kencang dalam hati. Ibuku dan aku akhirnya memahami satu sama lain.
Tapi semua orang tahu betapa susahnya bagi seorang bocah untuk berpura-pura sakit untuk waktu yang lama. Semenit setelah itu, aku berkata kepada nenekku: “Nek, dongengin, dong.”
Aku perlu meminta hal itu berkali-kali karena nenek dan ibuku begitu sibuk bermain kartu. Ibuku kemudian sampai berkata: “Nak, tunggu kami selesai dulu.” Tapi aku memaksa, “Nek, dongengin, dong!” Aku mengatakan kepada ibuku bahwa mereka bisa melanjutkan permainan kartu mereka esok hari, tapi nenek harus mendongengkanku saat itu juga.
Akhirnya ibu melempar kartunya dan berkata: “Tolong turutin deh, tuh. Saya sudah enggak tahu mesti gimana lagi.” Mungkin ia pikir setidaknya dia tidak harus menghadapi guru les pada esok hari sepertiku.
Segera setelah ibuku pergi, aku berlari mendekati nenekku. Memegang tangannya dan berdansa gembira. Aku membawanya ke dalam gorden nyamuk diatas kasurku. Meloncat kesenangan sambil menggenggam kedua tangannya, aku berkata: “Ayo, Nek! Dongeng!”
Nenek kemudian melanjutkan: “Raja itu menikahi seorang ratu.”
Itu permulaan yang bagus. Ia hanya menikahi seorang ratu.
Biasa untuk seorang raja di cerita-cerita dongeng untuk menikahi banyak ratu. Dan tiap kita mendengar bahwa ada dua ratu, jantung kita kemudian akan berdegup penasaran. Satunya pasti tidak bahagia. Tapi di cerita nenek tidak akan ada hal seperti itu karena sang raja hanya menikahi satu orang ratu.
Cerita kemudian berlanjut dengan bahwa sang raja tidak memiliki satu orang pun anak laki-laki. Saat berumur tujuh tahun, aku tidak begitu merasa hal itu sesuatu yang aneh. Mungkin ia hanya tidak ingin punya anak laki-laki.
Tidak pula aku bersemangat saat raja itu kemudian pergi ke hutan untuk bertapa agar bisa mendapatkan anak laki-laki. Hanya ada satu hal yang akan membuatku pergi ke hutan, dan itu adalah agar bisa kabur dari guru lesku!
Namun raja itu meninggalkan seorang anak perempuan kecil bersama ratunya, yang kemudian tumbuh menjadi seorang putri yang cantik.
Dua belas tahun berlalu, dan sang raja masih melanjutkan pertapaannya, dan tidak pernah terpikirkan akan anak perempuannya yang cantik. Putri itu kemudian tumbuh dewasa dan tiba saatnya untuk menikah, namun sang raja pun masih tidak kembali. Sang ratu merasa sedih dan menangis: “Apakah putri kesayanganku ini ditakdirkan untuk tidak menikah?”
Sang ratu kemudian mengirimkan utusan ke raja untuk memohon kepadanya agar kembali ke istana untuk satu makan malam. Sang raja setuju.
Sang ratu memasak sekitar enampuluh empat hidangan dengan tangannya sendiri. Dia mempersiapkan kursi yang dibuat dari kayu cendana untuk suaminya juga piring-piring emas dan gelas-gelas perak untuk menaruh hidangan. Sang putri berdiri di belakang dengan kipas bulu merak di tangannya. Sang raja, setelah kepergiannya selama dua belas tahun menatapi anak perempuannya yang cantik itu sampai lupa untuk memakan hidangan.
Akhirnya ia pun bertanya kepada sang ratu: “Wahai, siapakah perempuan yang kecantikannya seperti bidadari ini? Anak perempuan siapakah dirinya?”
Sang ratu menangis: “Ah, sungguh betapa buruknya takdirku ini! Kamu tidak mengenali anak gadismu sendiri?”
Sang raja terkejut bukan kepalang. Ia kemudian berkata, “putri kecilku telah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa.”
“Itu saja?” Sang ratu menghela napas. “Tidakkah kamu tahu bahwa kamu telah melewatkan dua belas tahun?”
“Tapi kenapa dia belum menikah?” Tanya sang raja.
“Karena kamu tidak disini,” kata sang ratu. “Bagaimana mungkin aku mencari suami yang pantas untuknya?”
Sang raja kemudian menimbang-nimbang. “Pria pertama yang kulihat besok hari,” katanya, “saat aku keluar dari istana, akan menikahi putri kita.”
Sang putri hanya diam sambil mengipaskan kipas bulu meraknya, dan sang raja kemudian melanjutkan menyelesaikan hidangannya.
Esok paginya, saat sang raja keluar dari istana, ia melihat anak seorang Brahmana sedang mengumpulkan batang kayu di hutan luar istana. Umurnya sekitar tujuh atau delapan.
Sang raja berkata: “Aku akan menikahkan putriku dengannya.”
Siapa yang bisa mencampuri keinginan sang raja? Anak laki-laki itu pun dipanggil dan dipertemukan dengan sang putri — mereka kemudian langsung menikah saat itu juga.
Di titik ini aku mendekatkan diriku ke nenekku dan kemudian bertanya dengan penasaran: “Lalu? Lalu?”
Di lubuk hatiku yang terdalam aku ingin sekali menjadi pengumpul kayu beruntung itu. Hujan di luar rumah masih turun deras. Lampu di sisi kasurku mulai meredup. Imajinasiku melayang-layang membayangkan bahwa akulah anak laki-laki yang mengumpulkan kayu di hutan dekat istana kerajaan tersebut. Aku membayangkan sang putri yang cantik dan anggun seperti bidadari. Dia memakai anting emas di kuping telinganya, juga kalung emas, dan ikat pinggang emas, pun gelang emas di pergelangan tangan dan kakinya.
Jika nenekku merupakan seorang penulis, betapa banyaknya penjelasan yang ia harus sampaikan mengenai cerita dongengnya ini! Pertama-tama, orang-orang akan bertanya mengapa sang raja berlama-lama selama dua belas tahun di dalam hutan? Kedua, mengapa sang putri tidak kunjung menikah? Itu terasa tidak masuk akal.
Begitu pula soal pernikahan itu sendiri. Bagaimana mungkin seorang putri dari Kasta Ksatria menikah dengan seorang anak laki-laki dari Kasta Brahmana? Pembacanya akan mengkritisi bahwa itu menyalahi adat yang ada dan kemudian mengirim surat terbuka ke koran-koran.
Maka aku pun berdoa dalam hatiku agar nenekku akan terlahir menjadi seorang nenek lagi, bukan menjadi cucunya yang menyedihkan ini.
Aku kemudian bertanya lagi. “Lalu apa yang terjadi, Nek?”
Nenek melanjutkan: Kemudian sang putri membawa suami ciliknya itu pergi, membangun istana besar untuk mereka berdua, dan mengurus suaminya itu dengan penuh kasih sayang.
Aku melompat-lompat diatas ranjang sambil memeluk bantal dengan erat. “Lalu? Lalu?”
Nenek melanjutkan: Anak laki-laki itu kemudian melanjutkan sekolah, bertahun-tahun berlalu dan kawan-kawan di kelasnya pun mulai bertanya: “Siapa perempuan cantik yang tinggal bersamamu di istana besar itu?”
Anak laki-laki itu pun sebenarnya penasaran siapa sebenarnya perempuan itu. Yang ia ingat hanyalah ia pertama kali bertemu dengannya di hari ia sedang mengumpulkan batang kayu di hutan. Tapi itu sudah lama sekali dan ia tidak begitu mengingat apa-apa.
Empat hingga lima tahun berlalu. Teman-temannya masih tetap terus bertanya kepadanya: “Siapa perempuan cantik yang tinggal bersamamu di istana besar itu?” Dan tiap hari anak laki-laki itu akan kembali dari sekolahnya dan dengan sedih berkata kepada sang putri: “Kawan-kawan di kelasku selalu mempertanyakan siapakah perempuan cantik yang tinggal bersamaku di istana besar ini, dan aku tidak pernah bisa menjawabnya. Beritahu aku, kamu ini sebenarnya siapa?”
Sang putri kemudian akan berkata: “Aku akan memberitahumu besok.” Dan pertanyaan ini pun berlanjut hari ke hari selama empat hingga lima tahun.
Anak laki-laki itu makin lama makin kehilangan kesabarannya hingga pada suatu hari ia berkata: “Jika kamu tidak memberitahukan siapa kamu hari ini, wahai perempuan cantik, aku akan meninggalkan istana ini.” Lalu sang putri berkata: “Aku akan memberitahumu besok. Janji.”
Keesokan harinya, segera setelah ia pulang dari sekolah, anak laki-laki itu berkata: “Sekarang, beritahu aku siapa dirimu sebenarnya.” Sang putri kemudian berkata: “Akan kuberitahu setelah makan malam, sebelum kita tidur.”
Anak laki-laki itu berkata: “Baiklah kalau begitu,” dan menghitung waktu menunggu malam tiba. Dan sang putri, menaburkan bunga-bunga putih di atas kasur emas mereka, menyalakan lampu emas dengan minyak pewangi, menyisir dan mendandani rambutnya, dan memakai sebuah gaun berwarna biru, dan pula menghitung waktu menunggu malam tiba.
Malam itu, saat suaminya, si anak laki-laki, telah menyelesaikan makan malamnya, dengan bersemangat masuk ke kamar tidur yang telah ditaburi bunga-bunga, berkata kepada dirinya: “Malam ini akhirnya aku akan tahu siapa perempuan cantik yang telah tinggal bersamaku di istana besar ini selama ini.”
Sang putri menghabiskan sisa-sisa makanan suaminya, dan pelan-pelan melangkah menuju kamar. Malam itu ia harus menjawab, siapakah dia, perempuan cantik yang tinggal bersama di istana besar selama ini. Dan sementara ia naik ke atas ranjang, ia melihat seekor ular yang merayap diantara bunga-bunga yang ia taburkan, dan muka pucat suaminya yang telah mati digigit ular berbisa tersebut.
Aku tercekat, dan dengan suara pelan bertanya: “..lalu?”
Nenek berkata: “Kemudian..”
Tapi apa gunanya melanjutkan cerita dongeng ini? Mustahil mengetahui kelanjutannya. Seorang bocah berumur tujuh tahun tidak tahu apa yang “kemudian” terjadi setelah kematian, dan tidak ada satu nenek pun di dunia yang mengetahui hal tersebut.
Namun bocah laki-laki itu tidak akan menyerah, bahkan pada kematian sekalipun. Akan menyebalkan sekali jika dongeng di malam dimana guru lesnya tidak mengajar itu berakhir begitu saja. Maka neneknya pun kemudian akan melanjutkan bahwa jiwa anak laki-laki yang mati itu melayang dan hanyut di atas pelepah pisang di sebuah aliran sungai, lalu seorang penyihir merapalkan mantra untuk menghidupkannya kembali — di malam dengan hujan deras dan lampu yang redup itu, kematian kehilangan kengeriannya di hadapan imajinasi sang bocah, menjadi tidak lebih dari sekedar pengantar tidur dalam sebuah malam. Mata bocah itu perlahan-lahan mengantuk, dan dengan demikianlah, kita mengantarkan jiwa bocah yang melayang itu hanyut di perairan bernama waktu, dan saat pagi tiba mantra akan dirapalkan untuk membangunkannya kembali pada kehidupan.
Diterjemahkan dari cerita pendek berjudul Once There Was A King oleh Rabindranath Tagore.