Sebuah memoar untuk mengenang ayahku.
Tentu saja aku mempunyai banyak kenangan mengenai ayahku. Itu sesuatu yang wajar mengingat kami tinggal satu atap, di rumah kami yang tidak terlalu luas, sebelum kemudian aku pergi meninggalkan rumah saat berumur delapan belas tahun. Dan, seperti kebanyakan orang tua dan anak, ada kenangan yang indah, ada pula yang tidak. Tapi yang hari-hari ini kuingat dengan jelas di kepalaku justru tidak termasuk dari dua kategori itu; kebanyakan hanya kejadian-kejadian sederhana yang tidak begitu berarti.
Yang satu ini, misalnya.
Ketika kami tinggal di Shukugawa (sebuah daerah di kota Nishinomiya, di Prefektur Hyogo), pada suatu hari kami pergi ke pantai untuk membuang seekor kucing. Bukan seekor anak kucing, tapi seekor kucing betina tua. Aku tidak begitu ingat mengapa saat itu kami perlu membuangnya. Rumah yang kami tinggali hanya diisi sebuah keluarga kecil dengan banyak ruang untuk kucing, juga sebuah taman. Mungkin itu seekor kucing liar yang kami pungut, kemudian mengandung dan kedua orangtuaku merasa sudah tidak mampu mengurusnya. Aku tidak begitu ingat. Membuang kucing, saat itu merupakan sesuatu yang umum dan orang-orang tidak akan menghujatmu karenanya. Tidak ada saat itu yang berpikir untuk ‘mensterilkan’ kucing. Kurasa saat itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar, jadi mungkin ini terjadi sekitar tahun 1955. Di dekat rumah kami ada reruntuhan sebuah gedung bank yang tertimpa bom yang dijatuhkan oleh pesawat-pesawat Amerika — sisa-sisa perang yang masih terlihat bekasnya.
Aku dan ayahku pergi di suatu siang musim panas untuk meninggalkan kucing itu di tepi pantai. Sambil dia mengayuh sepeda, aku di belakang memegang sebuah kotak yang berisi kucing tersebut di dalamnya. Kami berkendara melewati sungai Shukugawa, dan sampai di sebuah pantai di Koroen. Meninggalkan kotak itu di antara pepohonan, lalu tanpa menoleh ke belakang, kami langsung berkendara pulang ke rumah. Jarak pantai itu dari rumah kami sekitar dua kilometer.
Saat sampai di rumah, kami turun dari sepeda — saling berbicara soal bagaimana kami sebenarnya merasa kasihan terhadap kucing tersebut, tapi apa boleh buat? — dan saat kami membuka pintu depan, kucing yang baru saja kami buang itu berada disana, mengeong dengan ekornya yang bergoyang, menatap kami. Ia telah sampai lebih dulu daripada kami. Sampai sekarang, aku tidak paham bagaimana kucing itu bisa melakukan itu. Padahal kami memakai sepeda. Ayahku pun bingung. Kami berdua hanya berdiri diam selama beberapa saat, kehilangan kata-kata. Pelan-pelan, ekspresi kaget di wajah ayahku berubah menunjukkan ekspresi terkagum keheranan, hingga akhirnya memperlihatkan sebuah rasa lega. Dan kucing itu kembali kami pelihara.
Kami selalu mempunyai kucing di rumah, dan kami menyukai mereka. Aku merupakan anak tunggal yang tidak mempunyai saudara laki-laki ataupun perempuan, dan kucing, juga buku adalah sahabatku saat kecil. Aku senang menghabiskan waktu, berjemur di beranda dengan kucing yang menemani di dekatku. Jadi mengapa kami mesti membawa kucing itu ke pantai dan meninggalkannya disana? Mengapa aku tidak protes saat itu? Pertanyaan-pertanyaan ini — juga misteri bagaimana kucing itu bisa sampai lebih dulu — masih tidak terjawab.
Kenangan lain mengenai ayahku adalah ini:
Setiap pagi, sebelum sarapan, dia akan duduk dalam waktu yang lama di depan pura butsudan di rumah kita, merapalkan sutra-sutra Buddha, dengan mata yang tertutup. Bukan pura Buddha biasa, sebenarnya, melainkan sebuah lemari kaca berbentuk silinder dengan ukiran indah patung bodhisattva di dalamnya. Mengapa ayahku merapalkan sutra-sutra Buddha tiap paginya di depan lemari kaca tersebut, dan bukannya di depan butsudan biasa? Itu menambah lagi satu pertanyaan dalam daftar pertanyaan-pertanyaanku yang belum terjawab.
Bagaimanapun juga, hal itu adalah ritual penting baginya, menandai bagaimana ia memulai hari. Seingatku, ia tidak pernah terlewat melaksanakan hal itu yang ia sebut sebagai ‘tugas’nya, dan tidak boleh ada seorang pun yang mengganggunya saat melakukan hal tersebut. Ia selalu menaruh konsentrasi tinggi tiap melakukan itu. Menyebutnya sekedar ‘kebiasaan sehari-hari’ pun kurasa tidak cukup.
Dulu, ketika aku masih kecil, aku menanyakan padanya, untuk siapa ia berdoa. Dia membalas dengan mengatakan bahwa dia berdoa untuk mereka yang gugur dalam perang. Rekan-rekan sejawat tentara Jepangnya, begitu pula pasukan China yang menjadi musuh mereka. Dia tidak meneruskan lebih jauh dan aku pun juga tidak bertanya lagi. Kalau saja aku terus bertanya, mungkin dirinya akan mulai menceritakan lebih mengenai itu. Tapi aku tidak melakukannya. Seperti ada sesuatu, dulu, yang menghalangiku untuk melakukan itu.
Aku harus menjelaskan sedikit mengenai latar belakang ayahku. Ayahnya, Benshiki Murakami, lahir di sebuah keluarga petani di Prefektur Aichi. Seperti saudara-saudaranya yang lain, ia dikirimkan oleh keluarganya ke kuil terdekat untuk belajar menjadi biarawan. Dia merupakan murid yang hebat, dan setelah beberapa kali magang di beberapa kuil, dia akhirnya ditunjuk menjadi kepala biarawan di Kuil Anyoji, Kyoto. Itu jabatan yang lumayan, mengingat kuil itu memiliki empat hingga lima ratus paroki.
Aku tumbuh besar di sekitaran Osaka-Kobe, sehingga aku tidak mempunyai banyak kesempatan untuk mengunjungi kakekku di rumah dan kuilnya, dan aku pun tidak memiliki banyak kenangan mengenai dirinya. Yang kutahu adalah, dia adalah seseorang yang bebas dan tidak terhambat oleh apapun, juga terkenal dengan kegemarannya untuk minum. Sebagaimana namanya — karakter ben berarti ‘pandai bicara’ — dia jago menyusun kata-kata; dia biarawan yang cukup cakap dan sepertinya populer. Aku ingat bagaimana dia memang memiliki semacam karisma, dengan suaranya yang besar.
Kakekku memiliki enam anak laki-laki (tanpa satu pun anak perempuan), dan merupakan seseorang yang sehat dengan pribadi yang hangat, sayangnya, di saat umurnya yang ketujuh puluh, pada jam delapan lima puluh pagi pada tanggal 25 Agustus, tahun 1958, saat sedang menyebarangi jalur rel Keinshin, yang menghubungkan Kyoto (Misasagi) dan Otsu, ia tewas. Saat itu, hujan sangat deras, dan mungkin ia tidak melihat kereta yang tiba-tiba datang. Ia juga mempunyai masalah dengan pendengarannya.
Saat keluarga kami mendapatkan kabar tersebut, aku ingat bagaimana ayahku segera berkemas menuju Kyoto, dan ibuku menangis, memegang erat lengan ayahku dan berkata, “Apapun yang terjadi, jangan ambil alih kuil itu.” Aku masih berumur sembilan tahun saat itu, tapi ingatan itu cukup melekat, seperti sebuah adegan mengesankan di sebuah film hitam-putih. Ayahku hanya menunjukkan ekspresi datar sambil mengangguk. Sepertinya saat itu dia sudah membuat keputusan di kepalanya. Aku dapat merasakannya.
Ayahku lahir pada tanggal 1 Desember, tahun 1917, di Awata-guchi, Sakyo-ku, sebuah daerah di Kyoto. Ketika ia masih kecil, masa demokrasi Taisho mulai menemui akhirnya, kemudian diikuti oleh Depresi Besar, lalu Perang Tiongkok-Jepang Kedua, dan Perang Dunia. Setelah itu datanglah masa-masa kebingungan dan kelaparan yang melanda generasi ayahku yang harus terus bertahan hidup. Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, ayahku merupakan anak dari enam bersaudara. Tiga dari mereka ikut turun dalam Perang Tiongkok-Jepang Kedua dan, ajaibnya, selamat tanpa luka yang serius. Hampir semua dari enam bersaudara tersebut mempunyai kapabilitas untuk menjadi biarawan. Mereka telah menempuh pendidikan yang diperlukan untuk itu. Ayahku, misalnya, mempunyai peringkat junior sebagai biarawan, kurang lebih seperti letnan kedua di dalam peringkat militer. Pada musim panas, saat diadakannya Festival Obon — sebuah festival untuk mengenang para pendahulu — keenam bersaudara ini akan berkumpul di Kyoto dan bergantian mengunjungi kuil paroki. Malamnya, mereka akan menghabiskan waktu untuk minum bersama.
Setelah kakekku wafat, sebuah pertanyaan pun muncul, mengenai siapa yang akan melanjutkan dan mewarisi tugasnya sebagai biarawan. Sebagian besar dari anak-anaknya sudah menikah dan memiliki pekerjaan. Jujur saja, tidak ada yang menyangka bahwa kakekku akan pergi secepat, dan setiba-tiba itu.
Anak tertua — pamanku Shimei Murakami — dulunya berminat menjadi dokter hewan, namun setelah perang ia bekerja di sebuah kantor pajak di Osaka dan saat itu sudah memiliki jabatan sebagai kepala bagian, sementara ayahku, anak kedua, mengajarkan pelajaran Bahasa Jepang di SMP dan SMA Koyo Gakuen di daerah Kansai. Saudara-saudara lainnya, antara menjalani pekerjaan sebagai guru, seperti ayahku, atau sedang kuliah. Dua dari mereka bahkan sudah diadopsi keluarga lain (praktek yang umum di masa itu), dan mempunyai nama belakang yang berbeda. Bagaimana pun juga, tidak ada yang akhirnya secara suka rela mengajukan dirinya mengambil alih tugas kakekku. Menjadi kepala biarawan di sebuah kuil besar seperti itu bukanlah merupakan sesuatu yang mudah untuk dijalani, dan akan menjadi beban yang cukup berat bagi keluarga yang bersangkutan. Mereka sangat tahu mengenai ini. Dan nenekku, yang kemudian menjadi seorang janda, merupakan seseorang yang keras dan lurus; membuat meneruskan posisi sebagai istri kepala biarawan menjadi tantangan yang cukup menyulitkan selama keberadaannya. Ibuku merupakan seorang anak paling tua dari sebuah keluarga pedagang di Senba, Osaka. Ia merupakan seseorang yang modis, sebuah figur yang kurang cocok untuk menempati posisi sebagai istri kepala biarawan. Tidak mengherankan ia sampai menangis, memohon kepada ayahku untuk tidak mengambil alih tugas kakekku itu.
Setidaknya, dari sudut pandangku sebagai anaknya, ayahku merupakan seseorang yang tegas dan bertanggung jawab. Dia memang tidak mewarisi watak ayahnya yang gampang bergaul (ia bahkan cenderung orang yang gugup), tetapi sikap dan cara bicaranya selalu membuat orang tenang. Dia juga mempunyai sikap yang tulus. Ia dapat menjadi kepala biarawan yang baik, dan kupikir ia sadar mengenai itu. Aku rasa, kalau saja ia masih melajang, ia tidak akan menolaknya. Akan tetapi, ia tidak bisa berkompromi mengenai satu hal — keluarga kecil yang ia punya saat itu.
Pada akhirnya, pamanku Shimei meninggalkan pekerjaannya di kantor pajak dan mengambil alih tugas kakekku menjadi kepala biarawan di Kuil Anyoji. Kemudian tugas itu diteruskan oleh anaknya, sepupuku Junichi. Menurut Junichi, pamanku itu setuju untuk mengambil alih tugas sebagai kepala biarawan karena merasa berkewajiban sebagai anak pertama. Lebih tepatnya, dia tidak mempunyai pilihan lain. Saat itu, paroki mempunyai pengaruh yang besar dibandingkan sekarang.
Saat ayahku masih kecil, ia dikirim untuk magang di sebuah kuil di Nara. Kesepakatan awalnya, sepertinya, adalah bahwa ia akan diadopsi oleh keluarga biarawan di Nara tersebut. Bagaimana pun juga, setelah menjalani masa magang dia kembali pulang ke rumahnya di Kyoto. Meskipun kesannya ia kembali karena masalah kesehatan, tapi sepertinya masalah sebenarnya adalah dia tidak cocok dengan lingkungan baru tersebut. Setelah pulang, ia kembali menjalani kehidupannya seperti sebelumnya — sebagai anak kedua orangtuanya. Aku merasa pengalaman itu meninggalkan bekas luka yang dalam di dirinya. Aku tidak bisa membuktikannya, tapi ada sesuatu mengenai dirinya yang membuatku beranggapan seperti itu.
Aku kemudian teringat lagi ekspresi ayahku — kaget, lalu terkagum keheranan, dan kemudian memperlihatkan rasa lega — saat kucing yang harusnya sudah kami buang itu justru kembali ke rumah kami lebih awal.
Aku tidak pernah merasakan pengalaman seperti itu. Aku dibesarkan — bisa dibilang dengan penuh cinta — sebagai satu-satunya anak di keluargaku. Jadi aku tidak bisa begitu memahami, trauma macam apa yang akan terjadi terhadap seorang anak yang dibuang oleh orangtuanya. Aku hanya bisa menerka-nerka.
Sutradara Prancis François Truffaut pernah berbicara mengenai saat dia dipaksa untuk tinggal terpisah dari orangtuanya saat masih kecil. Dan sampai akhir hidupnya ia terus mendalami tema mengenai perasaan dibuang dan ditelantarkan di film-filmnya. Beberapa orang mungkin mempunyai beberapa pengalaman pahit yang tidak bisa dinyatakan lewat kata-kata, namun juga tidak bisa dilupakan.
Ayahku lulus dari Sekolah Menengah Pertama Higashiyama pada tahun 1936 dan pada umur delapan belas tahun berniat melanjutkan sekolah untuk mempelajari Seizan. Para murid sekolah sebenarnya mendapatkan pembebasan empat tahun untuk tidak mengikuti wajib militer, tapi ada beberapa urusan administrasi yang lupa ia urus, sehingga pada tahun 1938, saat ia berumur dua puluh tahun, ia terpaksa harus mengikuti wajib militer tersebut. Itu urusan yang tidak sepele dan ia tidak bisa hanya sekedar meminta maaf karena lupa mengurus lembaran administrasinya. Begitulah birokrasi dan militer. Protokol yang ada harus diikuti.
Ayahku berada di Resimen Infanteri Kedua Puluh, yang merupakan bagian dari Divisi Keenam Belas (Divisi Fushimi). Divisi Keenam Belas kemudian terdiri dari empat resimen: Resimen Infanteri Kesembilan (Kyoto), Resimen Infanteri Kedua Puluh (Fukuchiyima), Resimen Infanteri Ketigapuluh Tiga (Kota Tsu, di Prefektur Mie), dan Resimen Infanteri Ketigapuluh Delapan (Nara). Masih tidak jelas mengapa ayahku, yang berasal dari kota Kyoto, tidak ditempatkan di resimen setempat tapi justru Resimen Fukuchiyama nun jauh disana.
Setidaknya itulah yang kupikirkan dalam waktu yang lama, tetapi setelah aku mencoba menelusuri lebih dalam lagi, ternyata aku selama ini salah. Faktanya adalah, ayahku bukan berada di Resimen Infanteri Kedua Puluh tapi Resimen Transportasi, yang juga merupakan bagian dari Divisi Keenam Belas. Dan resimen ini tidak berlokasi di Fukuchiyama tetapi berkantor pusat di Fukakusa / Fushimi, di kota Kyoto. Jadi mengapa aku sempat berpikir bahwa ayahku berada di Resimen Infanteri Kedua Puluh? Aku akan mendiskusikan poin ini nanti.
Resimen Infanteri Kedua Puluh dikenal sebagai pasukan yang pertama kali sampa di Nanjing setelah kota tersebut jatuh. Unit militer dari Kyoto biasanya merupakan orang-orang yang berbudi dan mempunyai sikap yang baik, tapi resimen ini, entah mengapa mempunyai reputasi yang berdarah-darah. Pada waktu yang lama, aku sempat takut bahwa ayahku terlibat dalam penyerangan di Nanjing, dan enggan untuk mencari tahu lebih jauh. Ia meninggal, pada bulan Agustus, tahun 2008, di umurnya yang kesembilan puluh, tanpa aku pernah menanyainya, dan tanpa ia pernah membicarakannya.
Ayahku memulai wajib militernya di bulan Agustus 1938. Penyerangan Resimen Infanteri Kedua Puluh di Nanjing yang terkenal akan kengeriannya itu terjadi setahun sebelumnya, tepatnya Desember 1937, jadi ayahku jelas tidak terlibat dalam penyerangan tersebut. Saat aku mengetahui ini, aku benar-benar merasakan kelegaan yang luar biasa, seperti beban yang sangat berat telah diangkat dariku.
Sebagai prajurit kelas dua di Resimen Transportasi Keenam Belas, ayahku mengangkut pasukan dari Pelabuhan Ujina pada tanggal 3 Oktober, 1938, dan sampai di Shanghai pada tanggal 6 Oktober. Disana resimennya bergabung dengan Resimen Infanteri Kedua Puluh. Jika melihat dari direktori perang, Resimen Transportasi Keenam Belas ditugaskan untuk menyuplai persediaan dan menjaga keamanan. Jika kalian mengikuti pergerakan resimen tersebut, kalian akan melihat bagaimana mereka menempuh jarak yang luar biasa untuk ukuran masa itu. Untuk unit yang kekurangan mesin transportasi dan bahan bakar yang cukup — kuda menjadi transportasi utama saat itu — menempuh jarak sejauh itu tentu merupakan sesuatu yang sangat sulit dan ekstrim. Situasi yang mereka hadapi sangat mengerikan: pasokan yang diperlukan tidak bisa sampai kesana; kekurangan amunisi; seragam para prajurit sudah sobek-sobek; dan wabah kolera serta penyakit-penyakit lainnya yang mendera mereka karena lingkungan dan kondisi yang kumuh. Memang sangat mustahil untuk Jepang, dengan kekuatannya yang terbatas, mengontrol negara yang besar seperti China. Meskipun bala tentara Jepang berhasil menguasai kota demi kota, bisa dikatakan bahwa mereka sebenarnya tidak pernah menguasai wilayah-wilayah itu secara menyeluruh. Memoar yang dituliskan oleh salah satu tantara dari Resimen Infanteri Kedua Puluh menunjukkan bagaimana memilukannya situasi saat itu. Pasukan bagian transportasi memang tidak begitu terlibat dalam konflik di garis depan, tapi itu tidak begitu saja berarti bahwa mereka aman. Karena mereka tidak begitu dibekali dengan persenjataan yang mencukupi (biasanya hanya bayonet), saat musuh menyerang dari belakang, banyak dari mereka berakhir tewas.
Segera setelah mulai belajar di sekolah Seizan, ayahku menemukan kesenangan dari haiku dan bergabung dengan kalangan praktisi haiku. Dia sangat mendalaminya, jika kita memakai idiom kekinian. Beberapa dari haiku yang ia tulis ketika masih menjalani tugas militer ia kirimkan untuk kemudian dipublikasi di jurnal sekolah:
Burung-burung bermigrasi
Ah — kemana mereka menuju
tentu ke tempat mereka berasal
Seorang tentara, juga seorang biarawan
kutangkupkan kedua tanganku dalam doa
menghadap bulan
Aku bukan seorang ahli haiku, jadi bukan kapasitasku untuk berkata mengenai bakat ayahku di hal tersebut. Yang jelas, yang paling terasa dari puisi ini bukanlah teknik, namun keterbukaan dan kejujuran yang menyertainya.
Ayahku telah, tanpa perlu diragukan lagi, sungguh-sungguh belajar untuk menjadi seorang biarawan. Tapi sebuah kesalahan kecil telah membuatnya menjadi seorang serdadu militer. Ia melewati pelatihan dasar yang keras, diserahkan sebuah senapan Tipe 38, ditempatkan di kapal transportasi para prajurit, dan dikirimkan ke dalam pertarungan yang mengerikan di garis depan. Unitnya berkali-kali harus menghadapi para pasukan China yang bergerilya memberikan perlawanan yang sengit. Bagaimanapun juga, itu jelas sesuatu yang sangat berbanding terbalik dengan kehidupan damai dalam kuil di sebuah pegunungan di Kyoto. Ia jelas telah menderita secara mental dan spiritual. Di tengah-tengah semua itu, mungkin menulis haiku merupakan satu-satunya pelipur lara. Sesuatu yang tidak bisa ia tuliskan dalam surat, yang mungkin juga tidak akan bisa melewati sensor pemerintah Jepang saat itu, ia torehkan dalam haiku — seolah-olah ia mengekspresikan dirinya lewat kode-kode yang simbolik — dimana dia bisa mengeluarkan apa yang ia rasakan, sejujur-jujurnya.
Hanya sekali ayahku berbicara kepadaku mengenai perang yang ia lewati, saat ia menceritakan bagaimana unitnya mengeksekusi seorang serdadu China yang telah tertangkap. Aku tidak tahu apa yang mendorongnya untuk bercerita. Itu terjadi sudah sangat lama sekali dan aku sudah tidak begitu mengingat konteks kejadiannya dengan jelas. Saat itu, aku baru saja masuk sekolah dasar. Ia menjelaskan bagaimana eksekusi itu terjadi. Meskipun serdadu China tersebut tahu bahwa ia akan terbunuh, ia tidak melawan, ataupun menunjukkan rasa takut, tapi hanya duduk diam sambil menutup matanya. Kemudian kepalanya pun dipenggal. Sikap tentara itu merupakan sesuatu yang perlu diteladani, kata ayahku. Dia terlihat sangat menaruh rasa hormat terhadap serdadu tersebut. Aku tidak tahu apakah ia hanya menonton, atau justru yang melakukan eksekusi tersebut. Entah karena ingatanku yang kabur atau ayahku memang tidak menceritakan bagian tersebut dengan jelas. Tapi satu hal yang pasti adalah; pengalaman itu meninggalkan perasaan yang menyiksa untuk waktu yang cukup lama di dalam jiwa ayahku, seorang biarawan yang terpaksa harus menjadi tentara.
Pada saat itu, membiarkan seorang serdadu dan rekrutan baru untuk melakukan eksekusi bukanlah sesuatu yang umum terjadi. Membunuh seorang tawanan perang yang tidak bersenjata, jelas merupakan sebuah pelanggaran terhadap hukum internasional, tapi militer Jepang saat itu tidak begitu memedulikannya. Unit militer saat itu tidak mempunyai perbekalan untuk mengurus para tahanan. Kebanyakan eksekusi ini dilakukan lewat tembakan atau tusukan bayonet, tapi aku ingat bahwa eksekusi yang diceritakan oleh ayahku saat itu dilakukan dengan pedang.
Tak perlu dikatakan bagaimana cerita eksekusi berdarah dingin ini menempel di kepalaku yang masih sangat kecil. Bisa dikatakan, bahwa beban berat ayahku itu — atau trauma, jika memakai terminologi hari ini — diserahkan sebagian kepadaku, anaknya. Begitulah bagaimana hubungan antar manusia, bagaimana sejarah terjadi. Yang terjadi saat itu adalah semacam ritual pemindahan darinya kepadaku. Ayahku hampir tidak berbicara sepatah kata pun mengenai pengalaman perang yang ia lewati, dan aku juga tidak yakin jika ia sebenarnya ingin mengingat maupun membicarkan eksekusi tersebut. Mungkin ia hanya merasa berkewajiban untuk menceritakan itu kepada anaknya, kepada darah dagingnya sendiri, meskipun itu akan meninggalkan luka yang menganga bagi kami berdua.
Resimen Infanteri Kedua Puluh, beserta unit ayahku, kembali ke Jepang pada tanggal 20 Agustus, tahun 1939. Setelah menjalani waktu setahun sebagai serdadu militer, ayahku kembali melanjutkan pendidikannya di sekolah Seizan. Pada saat itu, wajib militer seharusnya berlangsung selama dua tahun, tetapi karena berbagai alasan ayahku hanya menjalaninya selama setahun. Mungkin karena militer kemudian mengetahui dan memperhitungkan kenyataan bahwa ayahku sebenarnya merupakan seorang pelajar saat turun menjalani wajib militer.
Setelah selesai menjalani masa wajib militernya, ayahku melanjutkan antusiasmenya dalam menulis haiku. Yang satu ini, ditulis pada bulan Oktober, tahun 1940, sepertinya terinspirasi dari kunjungan Hitler-Jugend (Pemuda Hitler) ke Jepang:
Mereka berseru, bernyanyi
membawa rusa itu mendekat,
Pemuda Hitler
Secara pribadi, aku cukup suka haiku tersebut, yang menangkap sebuah kejadian yang kabur dalam sejarah dengan cara yang sangat halus dan tidak biasa. Ada sesuatu yang sangat kontradiktif mengenai konflik berdarah-darah di Eropa dan rusa (sepertinya yang dimaksud adalah rusa terkenal di Nara). Pemuda Hitler tersebut, menikmati kunjungan singkat mereka ke Jepang, mungkin telah binasa dalam kegetiran musim dingin di Front Timur saat mereka kembali.
Aku juga sangat tertarik dengan sajaknya yang berikut ini:
Peringatan
akan kematian Issa, aku duduk disini
dengan puisinya yang memilukan
Ada dunia yang sangat tenang dan tenteram yang ia gambarkan di sajak-sajaknya, namun disaat yang sama juga ada semacam kekacauan yang melekat.
Ayahku sangat mencintai sastra dan, setelah menjadi guru, banyak menghabiskan waktunya untuk membaca. Rumah kami dulu dipenuhi oleh banyak buku. Ini mungkin mempengaruhi masa remajaku, dimana aku kemudian mulai banyak membaca. Ayahku lulus dengan gelar kehormatan dari sekolah Seizan, dan, pada bulan Maret, tahun 1941, ia kemudian masuk jurusan sastra di Universitas Kekaisaran Kyoto. Jelas bukan sesuatu yang cukup mudah untuk bisa masuk ke tempat kuliah terkenal seperti Universitas Kekaisaran Kyoto setelah menjalani pendidikan sebagai biarawan Buddha. Ibuku kadang berkata kepadaku, “Ayahmu itu sangatlah cerdas.” Seberapa cerdas dirinya, aku tidak begitu tahu. Sejujurnya, itu pertanyaan yang tidak begitu membuatku penasaran. Untuk seseorang dengan pekerjaan seperti yang kumiliki, kecerdasan tidak sepenting intuisi yang tajam. Tapi terlepas dari itu, yang jelas ayahku mempunyai nilai-nilai yang bagus saat sekolah.
Dibandingkan dengan dirinya, aku tidak pernah sebegitu tertarik untuk belajar, aku selalu mendapatkan nilai-nilai yang buruk. Aku tipikal orang yang akan mengejar sesuatu yang membuatku tertarik, tapi tidak bisa terusik dengan hal-hal lain. Begitulah aku saat menjadi pelajar, dan begitulah aku sampai sekarang.
Hal itu mengecewakan ayahku, yang jelas membandingkanku dengannya saat ia seumuranku. Dia jelas berpikir, di masa yang damai seperti ini, dimana kamu bisa belajar sebanyak yang kamu mau, mengapa kamu tidak bisa berusaha lebih keras? Kurasa ia menginginkanku untuk mengikuti jalan yang tidak bisa ia ambil karena perang.
Tapi pada akhirnya aku tidak bisa memenuhi harapan ayahku. Aku tidak bisa membuat diriku belajar sebagaimana yang ia mau. Aku selalu merasa bahwa sekolah membuat kepalaku mati rasa, dan bagaimana peraturan-peraturan ketat yang ada itu sangat menyebalkan. Hal ini dahulu membuat ayahku cemas dan stres (juga marah). Saat aku memulai karirku sebagai novelis pada umur tiga puluh, ayahku sebenarnya cukup senang, tetapi saat itu hubungan antara kami berdua telah renggang dan dingin.
Sampai sekarang, aku masih merasakan bagaimana aku mengecewakan ayahku. Saat aku masih remaja, ini membuat suasana di rumah menjadi cukup tidak nyaman dan aku pun juga sempat merasakan semacam perasaan bersalah. Aku masih mengalami mimpi buruk dimana aku menjalani ujian sekolah dan tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada. Waktu berlalu sementara aku tidak bisa menyelasaikan apa-apa dan aku tahu bahwa jika aku gagal dalam ujian, itu akan berbuntut panjang — mimpi semacam itu. Itu biasanya membuatku terbangun dengan keringat yang dingin.
Tapi menyelesaikan tugas dan PR sekolah, juga mendapatkan nilai yang bagus memang tidak membuatku begitu tertarik, saat itu, dibandingkan membaca buku, mendengarkan musik, berolahraga atau bermain mahyong dengan temanku, dan pergi mengencani perempuan.
Yang bisa kita lakukan, pada akhirnya hanya menarik napas panjang dan tumbuh dengan beban-beban yang kita bawa. Kadang ada beberapa hal yang tidak bisa kita ubah sama sekali.
Ayahku lulus dari sekolah Seizan pada musim semi di tahun 1941, dan pada akhir bulan September mendapat pemberitahuan bahwa ia harus kembali menjalani wajib militer. Pada tanggal 3 Oktober, ia kembali dengan seragam militernya, pertama di Resimen Infanteri Kedua Puluh (Fukuchiyama), kemudian Resimen Transportasi Kelimapuluh Tiga, yang merupakan bagian dari Divisi Kelimapuluh Tiga.
Pada tahun 1940, Divisi Keenam Belas ditempatkan secara tetap untuk berada di Manchuria, kemudian Divisi Kelima Puluh Tiga di Kyoto diputuskan untuk mengambil alih posisi tersebut. Sepertinya, kebingungan yang terjadi karena reorganisasi yang tiba-tiba adalah alasan mengapa ayahku awalnya berada di Resimen Fukuchiyama. (Seperti yang sudah kukatakan, aku awalnya berpikir bahwa ia berada di Resimen Fukuchiyama dari pertama kali ia menjalani masa wajib militer.) Pada tahun 1944, Divisi Kelimapuluh Tiga dikirimkan ke Burma untuk kemudian terlibat dalam Pertempuran Imphal, lalu pada bulan Desember hingga Maret pada tahun 1945, diporak-porandakan oleh tantara Inggris di Pertempuran Sungai Irrawaddy.
Namun kemudian, tanpa disangka-sangka, pada tanggal 30 November, tahun 1941, ayahku dibebaskan dari tugas militernya dan dilepaskan untuk kembali menjalani kehidupan normalnya. Tanggal 30 November merupakan delapan hari sebelum penyerangan di Pearl Harbor. Aku tidak yakin ayahku akan dilepaskan begitu saja jika itu terjadi setelah penyerangan tersebut.
Sebagaimana yang diceritakan oleh ayahku, kehidupannya terselamatkan karena seorang opsir. Ayahku merupakan serdadu militer kelas satu saat itu, kemudian dipanggil oleh atasannya itu yang berkata kepadanya, “Kamu telah menempuh pendidikan di Universitas Kekaisaran Kyoto, dan akan lebih baik jika berkontribusi kepada negaramu dengan melanjutkan pendidikanmu dibandingkan menjadi seorang prajurit.” Apakah seorang opsir mempunyai kewenangan untuk mengambil keputusan tersebut? Entahlah. Sulit membayangkan bagaimana ayahku terlihat akan lebih baik berkontribusi kepada negaranya dengan kembali ke bangku kuliah dan mempelajari haiku. Jelas ada faktor lain. Tapi terlepas dari itu, ayahku kemudian kembali menjadi seseorang yang bebas.
Setidaknya seperti itulah cerita yang kudengar, atau yang kuingat kudengar, saat masih kecil. Namun entah mengapa, itu tidak begitu sesuai dengan fakta yang ada. Universitas Kekaisaran Kyoto mengindikasikan bahwa ayahku mendaftarkan diri di jurusan sastra pada bulan Oktober, tahun 1944. Mungkin ingatanku memang samar-samar. Atau mungkin ibuku yang menceritakan hal ini mengingatnya dengan salah. Yang jelas, sekarang aku tidak bisa lagi memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Berdasarkan catatan yang ada, ayahku masuk ke jurusan sastra di Universitas Kekaisaran Kyoto pada bulan Oktober, tahun 1944, dan lulus pada bulan September, tahun 1947. Tapi aku tidak tahu dimana, atau apa yang ia lakukan pada umur dua puluh tiga sampai dua puluh enam, tiga tahun setelah ia dibebaskan dari tugas militernya, sebelum masuk ke Universitas Kekaisaran Kyoto.
Segera setelah ayahku dibebaskan dari tugas militernya, Perang Dunia Kedua Meletus di Pasifik. Pada peperangan tersebut, Divisi Keenam Belas dan Divisi Kelimapuluh Tiga terbantai habis-habisan. Jika ayahku tidak terbebas sebelumnya dan ikut menjalani peperangan bersama unit militernya, ia jelas akan mati dalam peperangan, dan, tentu saja, aku tidak akan ada sekarang. Kamu bisa menyebut bahwa ia beruntung, tetapi mengetahui bahwa dirinya terselamatkan sementara kawan-kawannya terbunuh membuatnya cukup sedih dan menderita. Aku mulai mengerti sekarang mengapa ia menutup matanya dan dengan khidmat merapalkan sutra tiap pagi selama ia hidup.
Pada tanggal 12 Juni, tahun 1945, setelah ia telah masuk ke Universitas Kekaisaran Kyoto, ia kembali mendapatkan surat pemberitahuan wajib militernya yang ketiga. Kali ini ia ditugaskan di Korps Chubu 143 sebagai serdadu militer kelas satu. Tidak jelas dimana kesatuan tersebut ditempatkan, tetapi yang jelas di dalam Jepang. Dua bulan kemudian, pada tanggal 15 Agustus, perang berakhir, dan pada tanggal 28 Oktober ayahku dibebaskan dari tugas militernya dan kembali ke universitas. Saat itu, ia sudah berumur dua puluh tujuh tahun.
Pada bulan September tahun 1947, ayahku menjalani ujian dan mendapatkan gelar sarjananya. Lalu kemudian menjalani program doktor di Universitas Kekaisaran Kyoto. Aku lahir pada bulan Januari, tahun 1949. Karena faktor umur, dan kenyataan bahwa ia telah menikah dan kini mempunyai anak, ayahku kemudian berhenti kuliah. Untuk menafkahi keluarganya, ia mengambil pekerjaan sebagai guru Bahasa Jepang di Koyo Gakuin, di Nishinomiya. Aku tidak begitu tahu bagaimana akhirnya ayah dan ibuku bisa menikah. Mereka tinggal berjauhan — satu di Kyoto, satunya lagi di Osaka — jadi kurasa ada seorang teman yang mengenalkan mereka berdua. Ibuku seharusnya menikahi pria lain, seorang guru musik, namun pria tersebut mati dalam peperangan. Dan toko milik ayah ibuku di Senba, Osaka, terbakar karena pengeboman yang dilakukan oleh tentara Amerika. Ibuku selalu mengingat bagaimana pesawat tempur Grumman memberondong kota dengan peluru, dan bagaimana ia kemudian melarikan diri. Peperangan juga meningggalkan trauma yang cukup dalam bagi ibuku.
Ibuku, yang sekarang berumur sembilan puluh enam tahun, juga merupakan seorang guru Bahasa Jepang. Setelah lulus dari jurusan sastra di Sekolah Khusus Wanita Shoin di Osaka, dia bekerja sebagai guru untuk almamaternya, tapi kemudian meninggalkan pekerjaannya saat ia menikah.
Menurut ibuku, awal-awal mereka menikah, trauma peperangan masih sangat membekas terhadap ayahku, begitu pula rasa frutasi karena kehidupannya tidak berjalan sebagaimana yang ia inginkan, dan itu membuat keadaan pernikahan mereka sempat mengalami masa-masa sulit. Ayahku sering minum dan kadang memukul muridnya. Tapi saat aku lahir dan tumbuh besar, ia kemudian melunak. Meskipun ia kadang masih sering minum dan depresi, tapi aku tidak mengingat akan adanya hal-hal kasar yang tidak mengenakkan terjadi di rumahku.
Sejujurnya, menurutku ayahku merupakan seorang guru yang luar biasa. Saat dirinya wafat, aku sangat terkejut melihat betapa banyak mantan muridnya yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Mereka terlihat sangat dekat dengan ayahku dulu. Banyak dari mereka yang menjadi dokter dan membantu dalam perawatan ayahku saat berjuang melawan kanker dan diabetes yang ia idap.
Ibuku pun begitu, bahkan setelah kemudian ia menjalani kehidupan sebagai ibu rumah tangga, banyak mantan anak didiknya yang kadang datang ke rumah. Tapi meskipun begitu, anehnya, untuk beberapa alasan aku tidak pernah merasa bahwa diriku cocok untuk menjadi seorang guru.
Sementara aku tumbuh dan mulai menemukan jati diriku, hubungan antara diriku dan ayahku semakin berjarak. Kami berdua sama-sama keras kepala, dan, kami juga sama-samai orang yang tidak begitu suka menyampaikan apa yang kami pikirkan secara langsung.
Setelah aku menikah dan mulai bekerja, ayahku dan diriku menjadi semakin terasingkan satu sama lain. Dan saat aku memutuskan untuk sepenuhnya menjadi seorang penulis, hubungan kami telah begitu renggang sampai kami hampir benar-benar putus kontak. Aku dan ayahku tidak bertemu selama lebih dari dua puluh tahun, dan hanya menghubungi satu sama lain selama kami merasa perlu.
Ayahku dan aku lahir di jaman dan lingkungan yang berbeda, dan begitu pula cara kami berpikir dan melihat dunia. Jika saja aku dulu mengusahakan untuk membangun kembali hubungan kami, mungkin akhirnya akan berbeda, tetapi aku terlalu sibuk terhadap apa yang ingin kucapai saat itu.
Ayahku dan aku akhirnya kembali berbicara dengan bertatap muka beberapa saat sebelum ia wafat. Saat itu aku berumur enam puluh tahun, sementara ayahku sembilan puluh. Dia dirawat di sebuah rumah sakit di Nishijin, Kyoto. Dia mempunyai diabetes dan kanker yang merusak bagian-bagian tubuhnya. Meskipun ia sebenarnya selalu terlihat gemuk, kini ia terlihat kurus kering. Aku bahkan hampir tidak mengenalinya lagi. Dan disitulah, di masa-masa terakhir hidupnya — di hari-hari terakhirnya — kami menjalani obrolan yang canggung diantara kami berdua, semacam rekonsialisasi. Terlepas dari perbedaan yang kami punya, melihat tubuh ayahku yang sudah ceking aku merasakan sesuatu yang menghubungkanku dengan ayahku.
Bahkan sekarang, aku masih bisa menghidupkan kembali momen di musim panas itu, dimana kami mengendarai sepeda bersama ke pantai di Koroen untuk membuang seekor kucing yang kemudian justru mendahului kami ke rumah. Aku masih bisa mengingat suara ombak dan angin yang melewati pohon pinus. Hal-hal yang terkesan remeh seperti itulah yang membentuk siapa diriku sekarang.
Aku masih mempunyai satu lagi kenangan dari masa kecilku yang juga berkaitan dengan kucing. Ini merupakan bagian cerita dari salah satu novelku, tapi aku akan menuliskannya kembali sebagaimana hal ini benar-benar terjadi.
Kami mempunyai seekor anak kucing berbulu putih. Aku tidak ingat bagaimana kami bisa memiliki anak kucing tersebut, karena saat itu ada banyak sekali kucing yang datang dan pergi dari rumah kami. Tapi aku masih ingat betapa halus bulu-bulunya, dan betapa lucunya anak kucing tersebut.
Pada suatu sore, saat aku duduk di beranda, kucing ini tiba-tiba berlari keatas pohon pinus di halaman rumah kami yang tinggi. Seolah-olah ingin menunjukkan kepadaku betapa ia sangat tangguh dan lincah. Aku sampai tidak percaya saat itu, bagaimana anak kucing itu berlari sangat cepat dan kemudian hilang di balik rerantingan pohon. Setelah beberapa saat, anak kucing itu mulai mengeong dengan nada yang sangat menyedihkan, seolah-olah meminta pertolongan. Anak kucing itu dengan sangat mudah memanjat ketinggian pohon tersebut tapi ketakutan untuk turun.
Aku berdiri di sisi pohon, melihat keatas, tetapi aku tidak melihat kucing tersebut. Aku hanya bisa mendengar bagaimana ia mengeong dengan lemah. Aku kemudian pergi memanggil ayahku, berharap bahwa ia bisa menyelamatkan anak kucing tersebut. Tapi ia pun tidak mampu berbuat apa-apa; dahan pohon itu terlalu tinggi untuk dipanjat dengan tangga. Kucing itu terus mengeong sementara matahari mulai tenggelam dan kegelapan menyelimuti pohon pinus tersebut.
Aku tidak tahu apa yang terjadi terhadap anak kucing tersebut. Esok paginya saat aku terbangun, aku tidak lagi mendengar suaranya. Aku berdiri di sisi pohon dan mencoba memanggilnya, tapi tidak ada jawaban. Hanya keheningan.
Mungkin saja kucing itu kemudian berhasil turun tengah malam dan kemudian pergi ke suatu tempat (tapi kemana?). Atau mungkin kucing itu tidak bisa turun, terus berpegangan ke cabang pohon, kemudian melemah dan melemah sampai kemudian mati. Aku duduk di beranda menatap pohon pinus tersebut dengan skenario-skenario ini di kepalaku. Membayangkan bagaimana anak kucing kecil tersebut berpegangan dengan kuku-kukunya yang mungil, lalu kemudian perlahan-lahan mati.
Pengalaman itu membuatku belajar: turun ke bawah adalah sesuatu yang lebih sulit dibandingkan naik ke atas. Untuk menggeneralisasikannya, mungkin bisa dikatakan bahwa hasil membuahkan sebuah akibat dan menetralkan keduanya. Di beberapa kasus, seekor kucing mati, di kasus yang lain, seorang manusia.
Pada akhirnya, hanya ada satu hal yang ingin kutunjukkan disini, suatu hal yang sangat jelas:
Aku hanyalah seorang anak biasa yang lahir dari seseorang yang juga biasa. Itu sudah jelas. Tapi saat aku mencoba lebih mendalaminya, menjadi semakin jelas untukku bahwa hal-hal yang terjadi terhadap hidup ayahku dan hidupku merupakan kebetulan-kebetulan. Kami hidup dengan cara ini: melihat kebetulan-kebetulan tersebut sebagai satu-satunya kemungkinan yang bisa terjadi dalam hidup kami.
Dalam kata lain, aku membayangkan rintik-rintik air hujan yang turun menuju bumi. Setiap dari diri kita adalah rintik yang tidak bernama dari rintik-rintik yang tidak terhitung jumlahnya. Rintik-rintik yang berlainan, mungkin, namun jelas dapat tergantikan. Namun tetap saja, setiap rintik tersebut mempunyai emosi dan sejarahnya sendiri. Bahkan meskipun rintik itu kehilangan integritas individualnya dan melebur dalam sebuah kolektivitas. Atau mungkin lebih tepatnya justru melebur ke entitas yang lebih besar dan berarti.
Terkadang, pikiranku akan membawaku kembali ke pohon pinus yang menjulang di halaman rumah kami di Shukugawa tersebut. Memikirkan soal anak kucing kecil tersebut, masih berpegangan di ranting pohon, dan tubuhnya sudah menjadi tulang belulang. Lalu aku berpikir soal kematian, dan betapa susahnya untuk turun setelah kamu memanjat begitu tingginya, dan pikiran mengenai itu membuat kepalaku terasa berputar.
(Diterjemahkan dari artikel yang ditulis Haruki Murakami di The New Yorker berjudul ‘Abandoning A Cat’)
Sutra: semacam rapalan dalam kepercayaan Buddha
Haiku: puisi tradisional Jepang yang terdiri dari beberapa baris
Paroki: jamaah kuil
Pemuda Hitler: organisasi kepemudaan Partai Nazi