Banjir di Samarinda. Sumber: Tempo.co

Post-Samarinda: Pergeseran Sumber Informasi Banjir di Kota Tepian

Ada berbagai spekulasi tentang asal-usul nama kota Samarinda. Salah satunya adalah bahwa Samarinda berasal dari bahasa Banjar, didasari bahwa daratan tepian kota ini dengan sungai Mahakam itu ‘sama-sama renda’. Pasalnya, dulu ketika air pasang kawasan tepian kita selalu tenggelam. (Kompas, 2022)

Itulah kenapa, banjir memang merupakan kawan lama di kota ini. Dapat dilihat bagaimana pendahulu kita membangun rumah-rumah panggung. Hal itu merupakan mitigasi jika banjir terjadi. (Sarip, 2021)

Bertambahnya kepadatan penduduk, dibangunnya gedung-gedung tinggi, dipadukan dengan tingkat pengelolaan limbah yang kurang baik (Sulaiman et al., 2020) membuat banjir menjadi hal yang semakin lumrah.

Pergeseran Sumber Informasi

Banjir akan kembali menjadi pembahasan di akhir tulisan. Namun, sebelum itu kami akan membahas mengenai pergeseran sumber informasi di masyarakat.

Salah satu fungsi media adalah menjadi sumber informasi (Mcquail, 2010) Dahulu, koran menjadi salah satu sumber informasi masyarakat. Namun, disrupsi digital terjadi; momen yang disebut banyak pihak sebagai Revolusi Industri 4.0. Media online mulai menjamur, media konvensional pun mulai ditinggalkan.

Salah satu yang memulai tren media online adalah Detik.com. Seperti namanya, ia menawarkan sesuatu yang tidak bisa ditawarkan media konvensional seperti koran; yaitu kecepatan. (Remotivi, 2017) Berita-berita di Detik.com hadir akan hadir sekejap momen itu terjadi. Koran tidak dapat melakukan hal tersebut karena kebutuhan untuk mencetak jelas memakan waktu.

Namun, kejayaan media online tidak bertahan lama. Perlahan-lahan, media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Disini sebenarnya momen ‘disrupsi’ itu terjadi. Sumber informasi yang awalnya didominasi negara atau pemodal, perlahan-lahan menjadi milik semua orang. Apa yang disebut sebagai ‘citizen journalism’ pun menjadi lumrah. (Suhombing, 2022)

Termasuk juga di Samarinda.

Dari Samarinda Post ke Bubuhan Samarinda

B.K. Lewis dalam Social Media and Strategic Communication Attitudes and Perceptions among College Students berpendapat bahwa media sosial merupakan suatu label yang merujuk pada teknologi digital yang berpotensi membuat semua orang untuk saling terhubung dan melakukan interaksi, produksi dan berbagai pesan. (Lewis, 2010) Jurnalis asal Amerika, Chris Borgan mempunyai definisi lain. Ia suatu perangkat alat komunikasi yang membuat berbagai kemungkinan untuk terciptanya bentuk interaksi gaya baru. (Brogan, 2010)

Kedua definisi itu kami pikir saling melengkapi. Karakteristik media sosial dimana setiap orang mampu memproduksi pesan itulah yang kemudian membuat terciptanya interaksi gaya baru.

Begitu juga dalam hal penerimaan informasi. Maka, mari kita kembali berbicara mengenai banjir.

Seperti Detik.com, media sosial juga menawarkan kecepatan. Kecepatannya bahkan tak terkira karena tidak melalui proses kurasi redaksi. Setiap orang dapat memberitakan sebuah peristiwa saat itu juga.

Dengan alasan itu, media sosial pun menjadi andalan sumber informasi. Apalagi mengenai banjir. Orang-orang membutuhkan sumber informasi yang aktual mengenai banjir. Informasi mengenai banjir dianggap tidak relevan ketika ia dikabarkan sehari sesudahnya.

Forum-forum seperti Bubuhan Samarinda dimana semua orang bisa saling mengabarkan informasi terkini pun menjadi populer (Herliani, 2015) Sementara itu, media konvesional perkotaan seperti Samarinda Post pun perlahan-lahan tidak lagi diandalkan untuk menjadi sumber informasi mengenai banjir. (butuh rujukan)

***

Akan tetapi, ada satu kekurangan dari mekanisme ‘citizen journalism’ seperti Bubuhan Samarinda; keakuratan informasi. Ketika informasi dapat disebarkan oleh semua orang tanpa kurasi, disitulah potensi hoax menjadi besar. (Febriansyah & Muksin, 2020) Bukan satu dua kali terjadi penyebaran informasi palsu di masyarakat. Awal tahun lalu, misalnya, tersebar hoax mengenai jembatan runtuh di Samarinda. (Detik, 2022)

Disitulah, media-media konvensional (termasuk juga media online) dapat mengisi peran. Selain sumber informasi, media juga berfungsi sebagai alat pendidikan (Mcquail, 2010). Media-media konvesional dapat menawarkan nilai lebih dengan berita-berita yang terkurasi, termasuk juga pendalaman yang tidak dimiliki oleh media sosial—mengapa banjir terjadi? Bagaimana peran pemerintah dalam mencegah banjir? Bagaimana tanggapan pengamat? Semua ini tentu proses yang jarang dimiliki media sosial.

Maka salah ketika dikatakan bahwa era pers telah berakhir. Perkembangan media sosial justru menjadi tantangan untuk pers agar memberikan konten yang lebih berkualitas. (Suhombing, 2022)


Daftar Pustaka:

Sumartiningtyas, H. K. N. (2022, July 5). Sejarah dan Asal-usul Nama Samarinda, Berawal dari Sama dan Rendah Halaman all – Kompas.com. KOMPAS.com. https://www.kompas.com/sains/read/2022/07/05/073000323/sejarah-dan-asal-usul-nama-samarinda-berawal-dari-sama-dan-rendah?page=all

Sarip, M. S. (2021, March 3). Pudarnya Amsterdam Mini di Samarinda, Rancang Kota Era Kolonial untuk Antisipasi Banjir. Kaltim Kece. https://kaltimkece.id/historia/pudarnya-amsterdam-mini-di-samarinda-rancang-kota-era-kolonial-untuk-antisipasi-banjirSulaiman, M.E., Setiawan, H.,Jalil, M., Purwadi,

Sulaiman, M., Setiawan, H., Jalil, M. A., Purwadi, F. V., S, C. A., Brata, A. W., & Jufda, A. S. (2020). Analisis Penyebab Banjir di Kota Samarinda. Jurnal Geografi GEA, 20(1), 39–43. https://doi.org/10.17509/gea.v20i1.22021

Mcquail, D. (2010). Mcquail’s Mass Communication Theory. Sage Publications Ltd.

Wahyu Dhyatmika: Sekarang Era Media Berkolaborasi, Bukan Berkompetisi – Remotivi. (2017, February 27). https://www.remotivi.or.id/wawancara/433/wahyu-dhyatmika-sekarang-era-media-berkolaborasi-bukan-berkompetisi

Lewis, B. K. (2010). Social Media and Strategic Communication: Attitudes and Perceptions Among College Students. Public Relations Journal, 4(3). https://www.prsa.org/Intelligence/PRJournal/Documents/2010Lewis.pdf

Brogan, C. (2010). Social Media 101: Tactics and Tips to Develop Your Business Online. John Wiley & Sons.

Herliani, L. (2015). Analisis Pemanfaatan Situs Jejaring Sosial Facebook sebagai Media Promosi Anggota BUSAM (Bubuhan Samarinda). ejournal ilmu komunikasi, 3(4).

Febriansyah, F., & Muksin, N. N. (2020). Fenomena Media Sosial: Antara Hoax, Destruksi Demokrasi, dan Ancaman Disintegrasi Bangsa. Sebatik, 24(2), 193-200.

Video Jembatan Ambruk Disebut di Samarinda, Faktanya Bukan di Indonesia. (2022, January 16). Detiknews. https://news.detik.com/berita/d-5900248/video-jembatan-ambruk-disebut-di-samarinda-faktanya-bukan-di-indonesia

Suhombing, I. S. (2022, December 22). Konten Berkualitas Jadi Kunci Hadapi Disrupsi Digital. mediaindonesia.com, All Rights Reserved. https://mediaindonesia.com/humaniora/546357/konten-berkualitas-jadi-kunci-hadapi-disrupsi-digital

Posts created 32

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top